JAKARTA - Persiapan menuju laga besar di dunia seni bela diri campuran sering kali menghadirkan cerita menarik di balik layar.
Salah satu yang menyita perhatian terjadi pada Jumat, 27 Maret 2026, ketika mantan juara kelas berat ringan Ultimate Fighting Championship (UFC), Alex Pereira, terlihat menjalani sesi latihan bersama mantan rivalnya, Sean Strickland.
Momen ini menjadi sorotan karena keduanya pernah bertarung sengit di dalam oktagon, namun kini justru berlatih bersama menjelang laga penting di kelas masing-masing. Situasi tersebut menunjukkan dinamika unik dalam dunia MMA, di mana rivalitas bisa berubah menjadi kerja sama demi peningkatan performa.
Dalam sebuah video yang diunggah melalui media sosial Pereira, terlihat Strickland menunjuk ke tengah kanvas sebagai bentuk tantangan. Aksi tersebut meniru ajakan Max Holloway kepada Justin Gaethje, sebelum keduanya melancarkan kombinasi pukulan berat selama sepuluh detik.
Latihan Intensif Jelang Pertarungan Penting
Latihan bersama ini dilakukan sebagai bagian dari persiapan menuju perebutan gelar juara UFC di kelas yang berbeda. Pereira memiliki ambisi besar untuk mencetak sejarah baru dengan mencoba merebut gelar di kelas berat, sebuah langkah yang belum pernah dicapai oleh petarung lain.
Ia dijadwalkan menghadapi Ciryl Gane dalam perebutan gelar juara kelas berat sementara atau interim UFC. Jika berhasil, Pereira berpeluang menjadi pemegang gelar di tiga divisi berbeda, sebuah pencapaian yang akan mencatatkan namanya dalam sejarah organisasi tersebut.
Di sisi lain, Strickland juga tengah mempersiapkan diri untuk laga yang tidak kalah penting. Ia akan menghadapi Khamzat Chimaev yang belum terkalahkan dalam ajang UFC 328 pada 9 Mei 2026.
Kedua petarung ini menjalani latihan bersama meskipun memiliki tujuan yang berbeda dalam waktu dekat. Hal ini memperlihatkan bahwa kerja sama dalam latihan bisa menjadi strategi efektif untuk meningkatkan kualitas bertarung sebelum menghadapi lawan masing-masing.
Dari Rivalitas Menuju Kolaborasi
Hubungan antara Pereira dan Strickland memiliki sejarah panjang yang tidak bisa dilepaskan dari persaingan di masa lalu. Keduanya pernah bertemu dalam ajang UFC 276 pada tahun 2022, yang berakhir dengan kemenangan KO ronde pertama untuk Pereira.
Kemenangan tersebut menjadi salah satu langkah penting bagi Pereira dalam perjalanan menuju perebutan gelar kelas menengah. Setelah itu, ia berhasil menantang dan mengalahkan Israel Adesanya untuk merebut sabuk juara di divisi tersebut.
Seiring berjalannya waktu, hubungan keduanya berubah dari rival menjadi rekan latihan. Meskipun demikian, intensitas dalam sesi sparing tetap tinggi dan bahkan memunculkan kembali kenangan lama bagi Strickland.
Strickland mengungkapkan bahwa dalam salah satu sesi latihan, Pereira membuatnya menurunkan tangan. Ia kemudian langsung menghentikan sesi tersebut sambil mengatakan bahwa latihan sudah cukup, menunjukkan betapa seriusnya intensitas yang terjadi.
Meski demikian, Strickland menyampaikan hal tersebut dengan nada bercanda. Ia bahkan menirukan gaya agresif Pereira yang tetap terlihat dominan meskipun dalam sesi latihan yang seharusnya lebih ringan.
Ambisi Besar dan Potensi Sejarah Baru
Pereira saat ini berada dalam momentum yang sangat positif setelah meraih kemenangan KO ronde pertama atas Magomed Ankalaev di ajang UFC 320. Kemenangan tersebut menjadikannya juara kelas berat ringan UFC untuk kedua kalinya.
Dengan performa yang terus meningkat, Pereira kini mengincar pencapaian yang lebih besar di kelas berat. Jika ia berhasil mengalahkan Gane, maka ia akan dinobatkan sebagai juara interim kelas berat, sekaligus mencatatkan sejarah sebagai petarung pertama yang meraih gelar di tiga kelas berbeda.
Ambisi tersebut tidak hanya menunjukkan kemampuan teknis Pereira, tetapi juga mentalitas kompetitif yang tinggi. Perpindahan antar divisi dengan performa konsisten menjadi tantangan besar yang hanya mampu dilakukan oleh segelintir petarung elit.
Sementara itu, Strickland juga memiliki motivasi kuat untuk kembali merebut gelar di kelas menengah. Pertarungannya melawan Chimaev diprediksi akan menjadi salah satu laga paling dinanti karena mempertemukan dua gaya bertarung yang berbeda.
Latihan bersama antara Pereira dan Strickland menjadi gambaran bagaimana para atlet elit mempersiapkan diri dengan maksimal. Mereka tidak hanya mengandalkan kemampuan individu, tetapi juga memanfaatkan pengalaman bersama untuk meningkatkan strategi dan ketahanan fisik.
Pada akhirnya, momen ini menunjukkan bahwa dalam dunia UFC, batas antara rival dan rekan bisa menjadi sangat tipis. Apa yang terjadi di dalam oktagon bisa berbeda dengan hubungan di luar arena, terutama ketika tujuan utama adalah mencapai performa terbaik.
Dengan berbagai persiapan yang dilakukan, baik Pereira maupun Strickland kini berada di jalur menuju pertarungan penting dalam karier mereka. Hasil dari laga-laga tersebut tidak hanya menentukan posisi mereka di klasemen, tetapi juga berpotensi mengubah sejarah di dunia MMA secara keseluruhan.