JAKARTA - PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) tengah menyiapkan agenda penting bagi pemegang sahamnya dengan pemanggilan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dijadwalkan berlangsung pada 17 April 2026.
Rapat ini menjadi momen krusial bagi perseroan untuk menentukan arah penggunaan laba bersih dan rencana buyback saham, sekaligus menegaskan komitmen perusahaan terhadap pemegang saham.
Perseroan mencatat penurunan laba bersih signifikan pada tahun buku 2025. Laporan keuangan terakhir menunjukkan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai US$ 447,69 juta atau sekitar Rp 7,4 triliun.
Angka ini menurun drastis dibandingkan tahun sebelumnya, yang mencapai US$ 1,38 miliar. Laba per saham dasar ADRO pada akhir Desember 2025 berada di posisi US$ 0,01526 atau sekitar Rp 254 per saham, turun signifikan dari US$ 0,4491 per saham pada 2024.
Subjek utama RUPST adalah penetapan penggunaan laba bersih. Sebelumnya, ADRO telah membagikan dividen interim untuk tahun buku 2025 sebesar Rp 4,18 triliun atau Rp 145,14 per saham, yang dibayarkan pada 15 Januari 2026. Pertanyaannya kini, apakah ADRO akan melanjutkan dengan dividen final untuk menutup tahun buku 2025.
Kinerja saham ADRO menunjukkan tren positif, meskipun laba bersih menurun. Dalam kurun tiga bulan terakhir, harga saham perseroan melonjak 36,51%. Pada perdagangan Kamis, saham ADRO ditutup di level Rp 2.580, menandakan minat investor yang tetap tinggi meski menghadapi penurunan laba.
Rencana buyback saham kembali dihadirkan sebagai strategi perusahaan untuk menjaga nilai saham. ADRO sebelumnya mengumumkan niat untuk membeli kembali saham perseroan hingga sebanyak-banyaknya Rp 4 triliun.
“Pembelian kembali saham perseroan akan dilakukan melalui BEI dan secara bertahap dalam jangka waktu paling lama 12 bulan terhitung setelah tanggal diperolehnya persetujuan rapat umum pemegang saham perseroan yang akan dilakukan pada RUPST,” jelas manajemen ADRO.
Manajemen menegaskan jadwal implementasi buyback. Jika agenda pembelian kembali saham ini disetujui dalam RUPST, pembelian kembali akan dimulai pada 20 April 2026, tiga hari setelah rapat. Strategi ini diharapkan dapat memperkuat posisi saham perseroan di pasar modal dan memberikan opsi nilai tambah bagi pemegang saham.
Laba Bersih ADRO Menurun Tajam
Penurunan laba bersih ADRO menjadi sorotan utama investor. Dari US$ 1,38 miliar pada 2024 menjadi US$ 447,69 juta pada 2025, penurunan ini mencerminkan tantangan yang dihadapi perseroan.
Laba per saham dasar pun ikut turun drastis menjadi US$ 0,01526 dari sebelumnya US$ 0,4491. Penurunan ini akan menjadi salah satu fokus diskusi dalam RUPST, terutama terkait alokasi laba untuk dividen final maupun investasi kembali.
Dividen Interim dan Potensi Dividen Final
ADRO telah membagikan dividen interim Rp 4,18 triliun atau Rp 145,14 per saham pada 15 Januari 2026. Kini, perhatian tertuju pada keputusan dividen final yang akan dibahas di RUPST.
Langkah ini krusial untuk menjaga kepercayaan investor dan menunjukkan konsistensi manajemen dalam mendistribusikan laba, meski laba bersih menurun signifikan.
Kinerja saham ADRO tetap solid dengan kenaikan 36,51% selama tiga bulan terakhir. Penutupan harga saham di level Rp 2.580 pada Kamis menunjukkan optimisme pasar terhadap prospek perseroan. Lonjakan harga ini kemungkinan didorong oleh strategi buyback dan minat investor yang tetap kuat.
Strategi Buyback Saham sebagai Langkah Proaktif
Manajemen ADRO mengumumkan rencana pembelian kembali saham hingga Rp 4 triliun melalui BEI, dilakukan secara bertahap selama maksimal 12 bulan setelah persetujuan RUPST. Jika disetujui, buyback akan dimulai pada 20 April 2026.
Strategi ini bertujuan untuk menstabilkan harga saham, memberikan likuiditas tambahan, dan memperkuat kepercayaan pemegang saham terhadap manajemen perseroan.