JAKARTA - Peralihan dari energi fosil ke listrik menjadi strategi penting bagi Indonesia dalam menekan ketergantungan impor energi.
Tidak hanya di sektor transportasi, penggunaan kendaraan listrik juga didukung oleh peralihan kompor rumah tangga ke listrik, yang diyakini dapat menurunkan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) dan LPG secara signifikan.
Langkah ini dianggap penting di tengah gejolak pasar energi global dan sensitifitas fiskal Indonesia terhadap harga minyak dunia. Chief Executive Officer (CEO) Fabby Tumiwa dari Institute for Essential Services Reform (IESR) menekankan dampak besar elektrifikasi terhadap kebutuhan energi.
“Penggantian satu juta mobil listrik dapat mengurangi kebutuhan minyak mentah hingga 13,2 juta barel per tahun,” ujar Fabby.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa sektor transportasi memiliki peran strategis dalam pengurangan impor minyak.
Peran Kendaraan Listrik dalam Mengurangi Kebutuhan Minyak
Transisi kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik tidak hanya membantu menekan permintaan minyak mentah, tetapi juga berdampak pada pengurangan beban subsidi energi.
Dengan perhitungan Fabby, penggantian satu juta mobil fosil ke listrik bisa menghemat hingga jutaan barel minyak per tahun, sehingga menurunkan tekanan fiskal yang timbul akibat fluktuasi harga minyak global.
Langkah ini juga dianggap sebagai bentuk kesiapan Indonesia menghadapi potensi risiko geopolitik. Konflik di Timur Tengah, misalnya, dapat memicu lonjakan harga minyak yang berdampak langsung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Fabby menambahkan, “Setiap kenaikan harga minyak sebesar US$ 1 per barel dapat menambah beban APBN hingga Rp6,7 triliun.” Dengan demikian, elektrifikasi transportasi menjadi salah satu mekanisme mitigasi risiko fiskal yang efektif.
Elektrifikasi Rumah Tangga dan Penghematan LPG
Selain transportasi, elektrifikasi di rumah tangga juga memiliki potensi besar untuk mengurangi ketergantungan impor energi. Penggunaan kompor listrik, khususnya kompor induksi, dinilai lebih ekonomis bagi rumah tangga mampu dibandingkan LPG nonsubsidi.
Dengan mengganti sebagian penggunaan LPG ke kompor listrik, masyarakat tidak hanya mendapatkan efisiensi biaya, tetapi juga berkontribusi pada penurunan impor energi.
Fabby menjelaskan, “Jika rumah tangga mulai menggunakan kompor induksi, penghematan LPG bisa mencapai lebih dari 130 ton per tahun.”
Angka ini menunjukkan bahwa perubahan pola konsumsi energi di tingkat rumah tangga bisa memberikan dampak makro yang signifikan bagi stabilitas energi nasional. Elektrifikasi rumah tangga juga membantu pemerintah mengurangi beban subsidi yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Dampak Subsidi Energi dan Pentingnya Elektrifikasi
Subsidi energi di Indonesia tercatat terus meningkat. Pada 2025, besarnya subsidi mencapai Rp203,4 triliun dan diproyeksikan naik menjadi Rp210,1 triliun pada 2026. Elektrifikasi transportasi dan rumah tangga menjadi solusi strategis untuk menekan pengeluaran ini.
Dengan menurunkan kebutuhan BBM dan LPG, pemerintah dapat mengalokasikan sumber daya fiskal untuk program lain yang lebih produktif, sekaligus menjaga stabilitas energi nasional.
Selain aspek fiskal, elektrifikasi juga menandai langkah progresif Indonesia dalam mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan memperkuat ketahanan energi domestik. Upaya ini sejalan dengan visi global dalam transisi energi bersih dan pengurangan emisi karbon, yang juga menjadi perhatian dunia internasional.
Elektrifikasi Sebagai Kunci Strategis Energi Nasional
Langkah transisi ke kendaraan listrik dan kompor listrik bukan sekadar tren teknologi, tetapi bagian dari strategi nasional untuk menjaga kemandirian energi. Perubahan ini memiliki efek domino: menurunkan impor BBM dan LPG, menekan subsidi, dan mengurangi risiko fiskal akibat fluktuasi harga minyak global.
Dengan dukungan kebijakan yang tepat, insentif bagi kendaraan listrik, dan adopsi kompor listrik di rumah tangga, Indonesia mampu memanfaatkan potensi elektrifikasi untuk efisiensi energi yang signifikan.
Strategi ini juga memperkuat kesiapan nasional menghadapi tantangan geopolitik sekaligus mendukung agenda keberlanjutan energi jangka panjang.