Harga Pangan Nasional Berfluktuasi Cabai Melonjak Telur Naik Pasokan Masih Dikendalikan Pemerintah

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:40:15 WIB
Harga Pangan Nasional Berfluktuasi Cabai Melonjak Telur Naik Pasokan Masih Dikendalikan Pemerintah

JAKARTA - Pergerakan harga pangan di pasar domestik kembali menunjukkan dinamika yang cukup tajam. 

Sejumlah komoditas mengalami kenaikan, sementara lainnya justru turun. Kondisi ini mencerminkan keseimbangan pasokan dan permintaan yang belum stabil. Fluktuasi tersebut menjadi perhatian karena berdampak langsung pada daya beli masyarakat serta biaya produksi sektor pangan.

Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional yang dikelola Bank Indonesia per pukul 10.05 WIB menunjukkan kenaikan harga pada sejumlah komoditas, terutama cabai dan telur ayam ras. Sementara beberapa komoditas lain seperti daging ayam dan gula premium justru mengalami penurunan. Perbedaan arah harga ini menandakan bahwa tekanan terjadi tidak merata di seluruh kelompok pangan.

Harga cabai rawit hijau melonjak 9,24% menjadi Rp61.500 per kilogram. Sebaliknya, cabai rawit merah turun 8,72% menjadi Rp96.850 per kilogram. Pergerakan ini menunjukkan bahwa pasokan cabai masih berfluktuasi antarjenis. Variasi harga juga dipengaruhi distribusi dan produksi di tingkat daerah.

Pergerakan Harga Beras dan Komoditas Pokok Lainnya

Dari kelompok pangan pokok, harga beras bergerak variatif. Beras kualitas bawah I naik 0,34% menjadi Rp14.850 per kilogram, sementara kualitas bawah II turun 1,32% menjadi Rp14.950 per kilogram. Beras medium I turun 0,61% menjadi Rp16.200 per kilogram, sedangkan medium II naik 3,48% menjadi Rp16.350 per kilogram.

Untuk beras premium, super I naik 1,17% menjadi Rp17.350 per kilogram dan super II naik 2,1% menjadi Rp17.000 per kilogram. Variasi harga ini mencerminkan kondisi pasokan yang berbeda antarsegmen. Selain itu, preferensi konsumen juga turut memengaruhi pergerakan harga di pasar.

Pada komoditas protein, harga telur ayam ras naik 2,72% menjadi Rp33.950 per kilogram. Sementara itu, daging ayam ras segar turun 7,08% menjadi Rp44.600 per kilogram. Daging sapi kualitas I dan II juga masing-masing turun 0,6% dan 0,79%. Kondisi ini menunjukkan tekanan biaya produksi berbeda antar komoditas.

Minyak Goreng dan Gula Ikut Berfluktuasi

Harga minyak goreng curah tercatat turun 1,24%, namun minyak goreng kemasan justru naik hingga 3,43%. Perbedaan ini dipengaruhi faktor biaya distribusi dan kemasan. Sementara itu, gula pasir premium turun 2,17%, sedangkan gula lokal naik tipis 0,26%. Pergerakan tersebut menggambarkan dinamika pasokan dalam negeri.

Fluktuasi harga ini juga dipengaruhi faktor eksternal. Pengamat pertanian sekaligus Dosen Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Hani Perwitasari, menilai fluktuasi harga tidak lepas dari pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp17.000 per dolar AS pada pertengahan Maret serta tekanan global.

“Besarnya dampak juga tergantung pada ketersediaan pasokan domestik. Komoditas dengan pasokan cukup cenderung lebih stabil, sementara keterbatasan pasokan memperbesar risiko kenaikan harga di tingkat konsumen,” ujar Hani dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis.

Tekanan Global dan Dampak Nilai Tukar

Menurutnya, tekanan global seperti konflik geopolitik, gangguan logistik, dan kenaikan biaya energi turut mendorong kenaikan biaya impor komoditas strategis. Komoditas tersebut termasuk kedelai, gandum, dan bawang putih. Selain itu, input produksi pertanian dan peternakan juga terdampak.

Ia menambahkan bahwa komoditas yang sulit disubstitusi seperti daging, telur, dan susu menjadi paling rentan terhadap fluktuasi nilai tukar. Hal ini karena kebutuhan domestik bergantung pada bahan baku tertentu. Ketika nilai tukar melemah, biaya produksi meningkat.

“Untuk fluktuasi nilai tukar ini akan berpengaruh terhadap stabilitas harga pangan, bervariasi bisa dari 2 sampai 8 persen tergantung jenis makanannya,” jelasnya. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa dampak tidak seragam. Setiap komoditas memiliki sensitivitas berbeda terhadap perubahan ekonomi global.

Langkah Pemerintah Menjaga Stabilitas Harga

Di sisi lain, pemerintah menilai kondisi ini masih dapat dikendalikan melalui penguatan ketahanan pangan nasional. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyebut Indonesia berada pada jalur yang tepat menuju kemandirian pangan di tengah ancaman krisis global. Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan produksi dalam negeri.

“Dunia sedang menghadapi ancaman krisis pangan yang serius. Oleh karena itu, setiap negara harus memperkuat ketahanan pangannya dan tidak boleh bergantung pada negara lain,” kata Amran dalam keterangannya, Senin (23/3/2026). Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya produksi domestik.

Strategi pemerintah mencakup intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian. Selain itu, modernisasi pertanian juga terus didorong. Optimalisasi lahan serta penguatan kebijakan harga menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas pasokan domestik.

Ancaman Krisis Global dan Strategi Jangka Panjang

Laporan World Food Programme juga memperingatkan bahwa eskalasi konflik global berpotensi menambah hampir 45 juta orang mengalami kelaparan akut pada 2026. Kondisi ini menjadi peringatan bagi negara-negara untuk memperkuat sistem pangan. Indonesia termasuk yang berupaya memperkuat produksi nasional.

WFP menyoroti kenaikan harga energi, gangguan logistik, dan ketidakstabilan pasokan sebagai faktor utama inflasi pangan global. Negara yang bergantung pada impor dinilai paling rentan. Oleh karena itu, peningkatan produksi domestik menjadi langkah strategis.

Pemerintah menempuh strategi jangka pendek melalui pengendalian harga dan pemantauan pasokan. Sementara strategi jangka panjang dilakukan melalui peningkatan kapasitas produksi nasional. Langkah ini diharapkan mampu menjaga stabilitas harga di pasar domestik serta melindungi daya beli masyarakat.

Terkini