JAKARTA - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menekankan pentingnya riset sebagai motor penggerak produktivitas sektor peternakan Indonesia.
Dalam kesempatan International Strategic Meeting on Scientific Pathways for Sustainable Livestock Industry Transformation, Rachmat menyatakan bahwa kemajuan subsektor peternakan bergantung pada penelitian yang intensif dan inovatif.
“Semua kemajuan pertanian, peternakan itu dimulai dari penelitian yang intensif. Jadi peran BRIN untuk membangun, meningkatkan produktivitas peternakan kita, mulai dari perunggasan, ruminansia, sapi perah, itu sangat dibutuhkan,” ujar Rachmat.
Ia menambahkan, penguatan riset tidak hanya mendukung produksi, tetapi juga menjadi fondasi keberlanjutan sektor peternakan. Pendekatan ini meliputi seluruh rantai produksi, mulai dari bibit ternak hingga inovasi nutrisi dan pakan.
Fokus pada Bibit Unggul dan Produksi Susu
Menurut Rachmat, perbaikan kualitas bibit ternak menjadi faktor fundamental untuk meningkatkan produksi, khususnya pada sapi perah. Bibit unggul tidak hanya menentukan volume produksi susu, tetapi juga kualitas yang dapat bersaing di pasar domestik maupun internasional.
“Bibit adalah sumber daripada kemajuan peningkatan produksi dan produktivitas,” kata Rachmat.
Lebih lanjut, ia menilai inisiatif BRIN dalam menyelenggarakan pertemuan pemangku kepentingan di bidang peternakan strategis untuk menciptakan kolaborasi jangka panjang merupakan langkah penting.
Kegiatan ini bertujuan mempertemukan akademisi, industri, dan pemerintah agar riset dapat diimplementasikan secara nyata.
Selain itu, potensi pakan ternak dari limbah perkebunan menjadi salah satu fokus. Pemanfaatan sumber daya lokal ini diharapkan dapat menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan efisiensi, memperkuat daya saing industri peternakan nasional.
Inovasi BRIN dalam Breeding dan Nutrisi
Kepala BRIN Arif Satria menegaskan bahwa lembaganya tengah mengembangkan riset strategis untuk menghasilkan ternak unggul, terutama sapi perah dengan produktivitas tinggi. Upaya ini mencakup pengembangan breeding, inovasi nutrisi, serta pemanfaatan pakan ternak berbasis lokal.
“Research yang saat ini dikembangkan di BRIN adalah soal bagaimana kita menghasilkan sapi-sapi unggul melalui breeding dan juga untuk nutrisi, untuk pakan ternak,” kata Arif.
Pengembangan riset dilakukan melalui kolaborasi intensif antara perguruan tinggi, sektor swasta, dan pemerintah. Pendekatan ini memastikan riset yang dihasilkan tidak hanya teoritis, tetapi aplikatif, mampu menjawab tantangan produksi serta kebutuhan pasar.
Selain itu, Arif menekankan bahwa riset peternakan menjadi instrumen penting untuk meningkatkan kemandirian nasional. Peningkatan produksi susu melalui sapi perah unggul diharapkan dapat mengurangi ketergantungan impor produk susu.
Mengurangi Ketergantungan Impor dan Adaptasi Perubahan Iklim
Salah satu tujuan utama penguatan riset adalah meningkatkan ketahanan pangan melalui kemandirian produksi susu dalam negeri. Arif menjelaskan, strategi pengembangan sapi perah unggul diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor.
“Yang paling penting kita mengurangi ketergantungan impor, yaitu dengan meningkatkan produksi dan produktivitas susu,” jelas Arif.
BRIN juga menekankan bahwa riset harus diarahkan untuk menghadapi tantangan perubahan iklim. Dengan inovasi breeding dan nutrisi yang tepat, sistem peternakan dapat menjadi lebih adaptif, produktif, dan berkelanjutan (sustainable livestock). Pendekatan ini menggabungkan aspek produktivitas, efisiensi, dan keberlanjutan lingkungan.
Peningkatan kapasitas produksi tidak hanya berdampak pada ekonomi nasional, tetapi juga berimplikasi pada kualitas hidup masyarakat melalui penyediaan protein hewani yang lebih terjangkau dan berkualitas.
Tantangan Produktivitas Peternakan
Ke depan, penguatan riset di sektor peternakan diharapkan mampu menjadi game changer dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Kolaborasi BRIN dengan pemerintah, industri, dan akademisi menjadi kunci agar inovasi dapat diterapkan secara nyata.
Rachmat menekankan bahwa peningkatan produktivitas peternakan bukan sekadar target kuantitatif, tetapi juga mencakup kualitas bibit, pakan, dan sistem manajemen produksi yang holistik. Langkah ini diharapkan mendukung ketahanan pangan, pengurangan impor, serta penguatan ekonomi peternakan.
Dengan dukungan riset yang kuat, sektor peternakan Indonesia diproyeksikan mampu bersaing di pasar global, sekaligus memberikan kontribusi signifikan bagi kesejahteraan masyarakat dan pembangunan ekonomi nasional.