JAKARTA - Perubahan iklim menjadi ancaman nyata yang terus memengaruhi sektor pertanian global.
Untuk menghadapi tantangan ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggarisbawahi pentingnya penerapan teknologi pertanian yang adaptif dan berkelanjutan.
Wakil Kepala BRIN, Amarulla Octavian, menekankan bahwa teknologi pertanian harus berkembang seiring dengan perubahan iklim yang semakin tak terprediksi.
Ia percaya bahwa riset dan inovasi dalam bidang pertanian bisa menjadi kunci untuk menciptakan sistem pertanian yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim.
Evaluasi Teknologi Pertanian dalam Konteks Perubahan Iklim
Amarulla Octavian menyoroti pentingnya evaluasi yang mendalam terhadap penerapan teknologi pertanian, khususnya yang berkaitan dengan adaptasi terhadap perubahan iklim.
Di dalam keterangan resmi yang disampaikan pada Senin (tanggal), Amarulla menyatakan bahwa teknologi yang diterapkan harus mampu mengatasi tantangan global yang terus berkembang, seperti bencana alam, ketahanan pangan, dan dampak negatif dari perubahan cuaca ekstrem.
"Kita bergerak lebih dekat menuju realitas industri dari misi kita, yaitu menjembatani kesenjangan antara pengetahuan ilmiah dan kebijakan yang dapat ditindaklanjuti, sekaligus menghasilkan dampak sosial dan ekonomi yang terukur," ujarnya.
Menurut Amarulla, salah satu cara yang paling efektif untuk mendukung adaptasi terhadap perubahan iklim adalah dengan mengembangkan teknologi yang berbasis sains yang terstandar dan dapat diterapkan di seluruh dunia.
Dalam hal ini, pengukuran dampak lingkungan dari rantai pasok peternakan menjadi perhatian utama.
Penerapan metrik berbasis sains yang transparan akan membantu sektor peternakan untuk mengukur jejak lingkungan yang ditinggalkan.
Kolaborasi dengan FAO dan Penguatan Pengukuran Dampak Lingkungan
BRIN baru-baru ini secara resmi bergabung dalam kemitraan dengan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) melalui program Livestock Environmental Assessment and Performance (LEAP) Partnership.
Kolaborasi ini bertujuan untuk memperkuat penggunaan metrik berbasis sains yang dapat diakses secara global untuk mengukur jejak lingkungan dalam sektor peternakan.
"Komitmen ini akan meningkatkan akuntabilitas dan harmonisasi dalam pengukuran dampak lingkungan sektor peternakan," kata Amarulla, menegaskan pentingnya kerangka kerja yang terstandar dalam menilai kontribusi sektor peternakan terhadap perubahan iklim.
Dengan bergabung dalam kemitraan LEAP, BRIN berharap dapat lebih mendorong penerapan teknologi yang efisien dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan.
Keterlibatan dalam forum global ini menjadi langkah penting dalam mewujudkan sistem pertanian dan peternakan yang lebih ramah lingkungan dan mampu beradaptasi dengan perubahan iklim.
Amarulla percaya bahwa dengan kolaborasi ini, Indonesia akan dapat memainkan peran yang lebih besar dalam mengatasi dampak perubahan iklim terhadap sektor pangan dunia.
Peran Generasi Muda dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan yang Lebih Baik
Amarulla juga menekankan bahwa kontribusi generasi muda sangat penting dalam menciptakan perubahan yang berkelanjutan di sektor pertanian dan peternakan.
Dalam visi FAO, ada empat aspek utama yang perlu diperhatikan, yaitu produksi yang lebih baik, nutrisi yang lebih baik, lingkungan yang lebih baik, dan kehidupan yang lebih baik.
Pendekatan ini bertujuan untuk memastikan bahwa pembangunan sektor pertanian dan peternakan tidak hanya menguntungkan dari sisi ekonomi, tetapi juga memperhatikan kelestarian lingkungan dan kesejahteraan sosial.
"Ke depan, kami berharap bahwa kolaborasi ini tidak hanya berhenti pada pertemuan semata, tetapi juga menjadi kemitraan yang berkelanjutan," ujar Amarulla.
Ia menekankan bahwa kerjasama yang terjalin melalui forum ini harus dapat diwujudkan dalam tindakan nyata yang berdampak pada sistem pangan yang lebih tangguh dan cerdas dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
Menurut Amarulla, dengan kemajuan teknologi yang ada, generasi muda berperan penting untuk membawa inovasi baru yang dapat mempercepat transisi menuju sistem pertanian yang lebih cerdas iklim dan berkelanjutan.
Hal ini juga berarti bahwa petani kecil di seluruh dunia harus memiliki akses yang lebih besar terhadap teknologi terbaru, serta pendidikan yang memadai untuk dapat memanfaatkannya dengan baik.
Mewujudkan Masa Depan Pangan yang Tangguh dan Berkelanjutan
Di masa depan, BRIN berharap agar petani kecil di Indonesia, dan juga di negara-negara berkembang lainnya, dapat lebih mudah mengakses teknologi dan sumber daya yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan perubahan iklim.
Amarulla menegaskan bahwa salah satu tujuan dari kerja sama ini adalah menciptakan sistem pangan yang lebih resilient dan mampu bertahan dalam situasi iklim yang semakin ekstrem.
"Kita menginginkan masa depan di mana petani kecil memiliki akses terhadap teknologi dan sumber daya untuk berkembang, serta sistem pangan yang mampu menghadapi tekanan perubahan iklim," ujar Amarulla.
Kerja sama yang dijalin dengan FAO dan berbagai lembaga internasional lainnya menjadi titik awal penting untuk mewujudkan sistem pertanian yang lebih berkelanjutan.
Dengan melibatkan semua pihak, mulai dari petani hingga pemangku kebijakan, diharapkan sektor pertanian bisa lebih siap dalam menghadapi berbagai krisis yang disebabkan oleh perubahan iklim.
Amarulla juga menekankan bahwa kolaborasi global menjadi hal yang tak bisa ditawar lagi, jika ingin mencapai ketahanan pangan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan dunia, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan bagi generasi yang akan datang.