JAKARTA – Penutupan Selat Hormuz memicu defisit minyak hingga 10 juta barel per hari. Bank Dunia menyebut guncangan pasokan energi ini sebagai yang terbesar dalam sejarah.
Situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah kini berada pada titik yang sangat mengkhawatirkan bagi stabilitas ekonomi dunia. Penutupan jalur laut paling krusial tersebut telah melumpuhkan distribusi energi global secara signifikan.
Bank Dunia (World Bank) menyebut kekurangan pasokan minyak global akibat penutupan Selat Hormuz yang dipicu perang Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran merupakan yang terbesar dibandingkan dengan saat konflik-konflik sebelumnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa dunia sedang menghadapi ancaman krisis energi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Data ini tertuang dalam laporan Commodity Markets Outlook edisi April 2026 yang baru saja dirilis. Laporan tersebut menyoroti betapa vitalnya peran Selat Hormuz sebagai urat nadi perdagangan berbagai komoditas penting.
Pada laporan Commodity Markets Outlook April 2026, Bank Dunia menyebut Selat Hormuz adalah jalur utama perdagangan energi dan komoditas lain seperti pupuk, bahan kimia untuk industri seperti helium dan sulfur, serta pasokan aluminium. Kelumpuhan jalur ini berdampak domino pada berbagai sektor industri manufaktur di seluruh benua.
Sebelum konflik pecah, intensitas lalu lintas kapal tanker di kawasan tersebut memang sangat tinggi. Angka statistik menunjukkan ketergantungan dunia yang luar biasa terhadap jalur sempit namun strategis ini.
Sebelum perang meletus pada akhir Februari, atau serangan gabungan AS-Israel ke Iran, hampir 35% kapal tanker untuk minyak mentah dan minyak olahan serta 20% kapal LNG melintasi Selat Hormuz. Kehilangan akses terhadap jalur ini secara otomatis memutus rantai pasok energi bagi banyak negara importir.
Sebenarnya, risiko mengenai gangguan di wilayah ini sudah lama masuk dalam radar pengamatan lembaga keuangan internasional tersebut. Bank Dunia pada 2023 sudah memprakirakan penghalangan lalu lintas di selat itu akan berisiko parah kepada ketersediaan pasokan komoditas.
Kini, prediksi tersebut menjadi kenyataan pahit yang harus dihadapi oleh pasar energi internasional pada awal tahun 2026 ini. Angka defisit yang muncul pun melampaui estimasi terburuk yang pernah dibayangkan oleh para analis sebelumnya.
"Pengurangan pasokan minyak global pada Maret 2026-diestimasikan 10 juta barel per hari-merupakan guncangan pasokan minyak terbesar yang pernah tercatat," dikutip dari laporan Bank Dunia itu, Rabu (29/4/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber. Guncangan ini menciptakan lubang besar dalam ketersediaan energi yang sulit ditambal oleh produsen di kawasan lain.
Jika dibandingkan dengan krisis masa lalu, situasi saat ini memang berada pada level yang jauh lebih ekstrem. Dari data yang dilampirkan Bank Dunia, guncangan pasokan minyak akibat penutupan Selat Hormuz merupakan yang terbesar sepanjang sejarah.
Rekor kelangkaan ini bahkan melampaui disrupsi yang pernah dialami dunia pada masa revolusi di Iran puluhan tahun silam. Disrupsi pasokan minyak dunia ini lebih besar dari yang terjadi akibat revolusi Iran yaitu hampir 6 juta barel per hari maupun yang terkini yaitu perang Irak di 2003 lalu kurang dari 2 juta barel per hari.
Lonjakan harga di pasar spot menjadi bukti nyata betapa paniknya pasar merespons hilangnya pasokan sebesar itu. Kenaikan harga minyak sejak perang dimulai akhir Februari 2026 lalu sangat tinggi.
Pelaku pasar menyaksikan volatilitas yang luar biasa dalam kurun waktu hanya satu bulan sejak serangan dimulai. Harga minyak jenis Brent pada akhir Februari masih US72perbareldannaikhinggakeUS118 per barel pada akhir Maret.
Meskipun sempat ada tanda-tanda mereda, namun harga minyak belum kembali ke level normalnya sebelum perang. Harga minyak sempat mengalami moderasi pada paruh pertama April ketika pengumuman gencatan senjata dan penurunan angka kekerasan di kawasan.
Ketidakpastian yang masih menyelimuti kawasan membuat harga tetap bertahan di zona yang memberatkan bagi industri transportasi. Akan tetapi, level harga minyak masih bertengger di sekitar US$90 per barel atau lebih tinggi dari posisi awal tahun.
Selain minyak mentah, komoditas gas alam cair atau LNG juga menjadi medan pertempuran baru bagi para pembeli. Bank Dunia melihat selama dua bulan belakangan terjadi persaingan intens antara pembeli global guna mengamankan pasokan LNG.
Negara-negara di Eropa dan Asia kini harus berebut kargo gas untuk memastikan pembangkit listrik mereka tetap beroperasi. Hal ini dipicu oleh penurunan ekspor yang cukup dalam dari Timur Tengah.
Kenaikan harga gas pun terpantau jauh lebih agresif dibandingkan dengan kenaikan harga minyak mentah. Harga dasar LNG di Asia naik 94% sepanjang Maret, sedangkan gas alam di Eropa mencapai 59%.
Kondisi ini memberikan beban biaya energi yang sangat berat bagi masyarakat luas dan sektor bisnis menengah. Adapun pada pertengahan April 2026, harga untuk kontrak berjangka minyak jangka pendek jauh melebihi harga untuk pengiriman di akhir 2026.
Situasi struktur pasar tersebut sering dikenal dengan istilah backwardation yang sangat tajam di mata para pelaku pasar. Ini dinilai menyiratkan ekspektasi pasar bahwa ekspor energi Timur Tengah kemungkinan akan meningkat dalam beberapa bulan mendatang.
Meskipun ada harapan akan pemulihan, namun ketidakpastian mengenai kerusakan infrastruktur tetap menghantui pasar. Kepastian mengenai kapan jalur pelayaran akan dibuka sepenuhnya masih menjadi tanda tanya besar bagi semua pihak.
"Meskipun demikian, tingkat keparahan akhir dari guncangan saat ini akan ditentukan oleh dua faktor utama: tingkat kerusakan jangka panjang terhadap kapasitas produksi komoditas di Timur Tengah, dan jangka waktu serta luasnya pemulihan volume pengiriman melalui Selat Hormuz," pungkas Bank Dunia sebagaimana dilansir dari berita sumber. Kedua faktor tersebut akan menentukan apakah dunia akan masuk ke dalam resesi energi yang lebih dalam.
Pemulihan jalur perdagangan ini menjadi kunci krusial bagi stabilisasi harga komoditas global di masa depan. Jika penutupan berlangsung lebih lama, maka stok cadangan minyak di berbagai negara maju akan mulai menipis secara kritis.
Pemerintah di berbagai belahan dunia kini mulai menyiapkan langkah-langkah darurat untuk mengantisipasi kelangkaan bahan bakar. Penggunaan cadangan minyak strategis menjadi salah satu opsi yang mulai dipertimbangkan secara serius oleh negara-negara besar.
Di sisi lain, disrupsi pasokan aluminium dan bahan kimia juga mulai mengganggu rantai produksi industri otomotif dan elektronik. Kelangkaan sulfur dan pupuk bahkan mengancam ketahanan pangan karena potensi gangguan pada musim tanam tahun ini.
Dunia kini menantikan langkah diplomasi internasional untuk meredakan ketegangan di kawasan Teluk tersebut. Tanpa adanya jaminan keamanan navigasi di Selat Hormuz, pasar energi akan terus berada dalam tekanan yang sangat tinggi.
Para analis memperingatkan bahwa harga minyak bisa kembali menyentuh level tiga digit jika perundingan damai menemui jalan buntu. Risiko geopolitik ini menjadi faktor utama yang harus diwaspadai oleh para investor di seluruh pasar keuangan dunia.
Keadaan ini menjadi pengingat bagi setiap negara akan pentingnya diversifikasi sumber energi untuk mengurangi ketergantungan pada satu jalur. Transisi menuju energi terbarukan kemungkinan akan mendapatkan momentum lebih cepat akibat krisis pasokan yang terjadi saat ini.
Masyarakat global diharapkan dapat bersiap menghadapi penyesuaian harga kebutuhan pokok sebagai imbas dari kenaikan biaya logistik energi. Data dari Bank Dunia ini menjadi alarm bagi pembuat kebijakan untuk segera mengambil tindakan mitigasi yang efektif.
Sejarah mencatat bahwa guncangan energi sebesar ini selalu membawa perubahan besar dalam tatanan ekonomi politik global. Defisit 10 juta barel per hari bukan sekadar angka statistik, melainkan tantangan nyata bagi keberlangsungan industri modern.
Demikian laporan mengenai krisis pasokan minyak global akibat penutupan jalur strategis di Timur Tengah. Pantau terus perkembangan situasi geopolitik terbaru untuk mendapatkan informasi akurat mengenai arah pasar energi dunia.