JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi melemah ke rentang Rp17.390-Rp17.440 hari ini, Selasa (5/5/2026).
Gejolak ekonomi global saat ini memberikan tekanan yang signifikan bagi mata uang Garuda di pasar spot. Kondisi eksternal yang tidak menentu membuat pergerakan rupiah terhadap dolar AS hari ini berada dalam zona merah.
Berdasarkan data dari RTI Infokom pada pukul 15.10 WIB kemarin, mata uang domestik ini sudah mengalami koreksi. Rupiah tercatat melemah sebesar 0,33% menuju posisi Rp17.385 pada penutupan perdagangan Senin.
Sepanjang sesi perdagangan tersebut, fluktuasi harga terpantau cukup lebar bagi para pelaku pasar. Mata uang kita sempat bergerak dinamis pada kisaran level Rp17.303 hingga Rp17.387 per dolar AS.
Tren pelemahan ini ternyata tidak hanya dialami oleh mata uang Indonesia di kawasan Asia. Beberapa mata uang tetangga juga terpantau mengikuti arah koreksi yang serupa pada waktu bersamaan.
Dolar Singapura tercatat mengalami penurunan tipis sebesar 0,17% saat menghadapi kedigdayaan mata uang Amerika. Sementara itu, baht Thailand juga harus rela melemah lebih dalam yakni sebesar 0,43%.
Namun, terdapat anomali pada beberapa mata uang negara lain yang justru mampu menunjukkan kekuatannya. Won Korea berhasil menguat 0,23% dan yen Jepang mengalami apresiasi sebesar 0,08% terhadap dolar AS.
Dolar Hong Kong juga terpantau masih bisa merangkak naik tipis sekitar 0,01% di tengah tekanan. Kondisi ini menunjukkan adanya dinamika pasar yang berbeda-beda di kawasan regional Asia Timur.
Ibrahim Assuaibi selaku Direktur Traze Andalan Futures memberikan penjelasan mendalam mengenai penyebab fenomena ekonomi ini. Beliau menekankan bahwa faktor konflik di Timur Tengah menjadi pemicu utama gejolak pasar keuangan.
”Pelemahan rupiah hari ini terjadi lantaran perang yang berkecamuk di Iran hingga penutupan Selat Hormuz,” sebagaimana dilansir dari berita sumber. Konflik tersebut memberikan dampak berantai yang sangat merugikan bagi stabilitas ekonomi negara berkembang.
Situasi di kawasan tersebut memicu lonjakan harga komoditas energi dunia secara drastis dalam waktu singkat. ”Hal ini dinilai berdampak pada kenaikan harga minyak mentah, yang pada gilirannya turut meningkatkan inflasi,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Selain faktor di Timur Tengah, kondisi di bagian Eropa Timur juga masih menjadi perhatian serius. Ibrahim turut menyoroti ketegangan antara Ukraina dan Rusia yang hingga kini belum menunjukkan tanda berakhir.
Ketegangan yang terjadi di sana telah mengganggu stabilitas pasokan energi dunia secara keseluruhan saat ini. Konflik tersebut terus berlanjut sehingga mengganggu proses produksi minyak di kawasan Eropa Timur itu.
Faktor internal dari dalam negeri juga memberikan sumbangsih terhadap pelemahan nilai tukar mata uang kita. Ibrahim menyoroti data PMI Manufaktur Indonesia yang menunjukkan angka kontraksi yang cukup mengkhawatirkan pasar.
Penurunan indeks manufaktur ini terjadi sebagai dampak lanjutan dari mahalnya harga bahan baku energi. Kondisi kontraksi yang terjadi lantaran kenaikan harga minyak turut membuat sejumlah harga barang mengalami kenaikan.
Tingginya biaya operasional manufaktur pada akhirnya akan membebani neraca perdagangan Indonesia di masa depan nanti. ”Akibat dari kenaikan harga minyak, membuat impor barang-barang yang cukup mahal, sehingga berdampak terhadap manufaktur,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Memasuki sesi perdagangan pagi hari ini, rupiah ternyata langsung menunjukkan pergerakan yang semakin tertekan. Berdasarkan data RTI Infokom pukul 09.15 WIB, nilai tukar rupiah kini kembali mengalami koreksi.
Penurunan nilai tersebut tercatat sebesar 0,09% yang membawa rupiah meluncur ke level Rp17.400. Sejak pasar dibuka pagi ini, pergerakan mata uang domestik sempat menyentuh level tertingginya Rp17.401.
Adapun titik terendah yang dicapai rupiah pada pagi ini tercatat berada pada posisi Rp17.385. Selain rupiah, mayoritas mata uang di kawasan Asia lainnya juga terpantau lesu pada pagi hari.
Yuan China tercatat terkoreksi 0,06% sementara dolar Hong Kong juga harus melemah sebesar 0,03% saat ini. Won Korea mengalami penurunan lebih tajam 0,25% dan dolar Singapura melemah sebesar 0,05%.
Baht Thailand menjadi yang terlemah di antara mata uang lainnya dengan koreksi mencapai 0,46% pagi ini. Di sisi lain, hanya dolar Taiwan yang mampu mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,11%.