JAKARTA — Daya tahan harga pangan nasional kini mulai diuji oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Akibat tingginya ketergantungan pada impor pangan, tekanan kurs ini berpotensi merembet cepat ke harga komoditas seperti mi instan, roti, tahu-tempe, susu, hingga makanan olahan lain pada semester II/2026.
Kurs rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif di rentang Rp17.470 sampai Rp17.530 per dolar AS pada perdagangan Senin (18/5/2026).
Tekanan mata uang ini memicu kekhawatiran lantaran banyak komoditas pangan strategis di Indonesia yang pemenuhannya masih mengandalkan impor.
Peneliti dan Pengamat Ekonomi Center of Reform on Economics Eliza Mardian menjelaskan bahwa penurunan nilai rupiah membawa efek yang besar bagi sektor pangan nasional.
“Sebagian besar komoditas strategis masih bergantung pada impor baik untuk bahan baku, pangan konsumsi, maupun input produksi,” kata Eliza, Senin (18/5/2026).
Menurut Eliza, tingkat ketergantungan Indonesia terhadap impor untuk beberapa komoditas pangan masih berada di angka yang sangat tinggi.
Komoditas gandum dipenuhi sepenuhnya dari impor, sedangkan kedelai sekitar 90% berasal dari luar negeri. Komoditas lainnya seperti bawang putih tercatat 95% impor, gula sekitar 60%, serta daging sapi dan kerbau berkisar di angka 54%.
Situasi pelemahan rupiah ini secara otomatis mengerek biaya impor lantaran sebagian besar transaksi diselesaikan dengan mata uang dolar AS.
Pada prosesnya, lonjakan biaya impor tersebut berisiko memicu kenaikan harga pangan di pasar domestik. Efeknya tidak cuma menyasar komoditas mentah, melainkan juga produk turunannya termasuk mi instan, roti, tahu, tempe, serta makanan olahan lainnya.
Eliza memandang bahwa situasi ini memicu fenomena imported inflation (inflasi impor), yaitu sebuah tekanan inflasi yang tercipta akibat melemahnya nilai tukar serta tingginya ketergantungan pada produk luar negeri.
Ia menambahkan, proses transmisi dari melemahnya rupiah ke harga pangan di tingkat konsumen memiliki kecepatan yang berbeda pada setiap komoditas.
Pada gandum dan kedelai, imbasnya dapat langsung terasa dalam hitungan minggu saja karena industri pengolahan langsung dihadapkan pada kenaikan biaya bahan baku.
“Jadinya kenaikan harga bahan baku langsung ditransmisikan ke konsumen dalam bentuk kenaikan harga produk di tingkat konsumen,” katanya.
Kenaikan tersebut diprediksi lebih cepat memukul produk olahan daripada bahan baku mentah akibat adanya efek berantai pada aspek biaya produksi, energi, distribusi, kemasan, hingga logistik.
Bagaimana tanggapan dari pelaku usaha mengenai pelemahan rupiah dan dampaknya bagi impor pangan ini?
Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Anggawira menyebutkan bahwa kendati penurunan nilai rupiah belum dapat dikategorikan sebagai krisis, situasi ini sudah menjadi peringatan keras bagi dunia usaha.
“Yang paling dikhawatirkan bukan hanya level kursnya, tetapi volatilitas dan ketidakpastian yang menyertainya,” ujarnya.
Anggawira memaparkan bahwa para pelaku usaha pada dasarnya masih sanggup menyesuaikan diri dengan level kurs tertentu.
Namun, pergerakan nilai mata uang yang terlampau cepat dan sulit ditebak menyulitkan pelaku usaha dalam menyusun rencana bisnis perusahaan.
Sektor industri makanan dan minuman dipandang sebagai salah satu bidang yang paling sensitif terhadap naik-turunnya kurs karena banyak elemen produksinya yang masih mengandalkan impor atau mengacu pada harga global berbasis dolar AS.
Bagian yang paling cepat terkena imbas antara lain bahan baku impor, kemasan, energi, serta logistik. Bahkan bahan baku untuk pengemasan seperti resin plastik, aluminium foil, bahan kimia untuk percetakan, hingga mesin pengemas pun masih banyak yang diimpor.
Merespons tekanan kurs ini, tidak sedikit perusahaan yang mulai menunda rencana ekspansi, meninjau kembali target pertumbuhan, hingga menjalankan langkah efisiensi operasional.
“Kalau tekanan kurs berlangsung panjang, penyesuaian harga hampir tidak terhindarkan. Ini yang perlu diantisipasi karena bisa memicu imported inflation,” kata Anggawira.
Dampak situasi ini juga mulai merembet ke pelaku usaha skala kecil. Sekretaris Jenderal Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Wibowo Nurcahyo mengungkapkan bahwa kenaikan biaya produksi sudah mulai terlihat pada komponen kemasan plastik.
Ia menyebut pengrajin tahu dan tempe saat ini mulai menyiasatinya dengan mengubah ukuran produk agar harga jualnya tetap dapat dijangkau oleh konsumen.
“Saat ini pengrajin tempe tahu menyesuaikan ukuran besar produknya,” ujarnya.
Di sisi lain, tekanan nilai tukar ini memicu kekhawatiran baru terhadap tingkat daya beli masyarakat. Eliza menilai warga kelompok menengah ke bawah berada dalam posisi yang rentan mengingat porsi pengeluaran untuk kebutuhan pangan rumah tangga di Indonesia terhitung besar.
Apabila pelemahan rupiah berjalan dalam jangka waktu lama dan disusul kenaikan harga pangan secara masif, tingkat konsumsi rumah tangga berisiko menurun. Padahal, konsumsi domestik merupakan motor utama penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.
Kondisi ini sekaligus memperlihatkan betapa rentannya struktur pangan nasional terhadap dinamika global.
Melemahnya mata uang rupiah tidak hanya berimbas pada komoditas pangan yang diimpor secara langsung, tetapi juga mendongkrak biaya produksi pangan lokal karena komponen seperti pupuk, pakan ternak, energi, dan logistik masih sangat dipengaruhi oleh harga berbasis dolar AS.
Oleh sebab itu, pelaku usaha bersama para ekonom menilai momentum kemerosotan rupiah ini harus dijadikan peringatan untuk mempercepat pengurangan ketergantungan pada pangan impor serta memperkuat industri substitusi impor di dalam negeri.
Tanpa adanya perbaikan struktural tersebut, setiap ada gejolak nilai tukar akan selalu berpotensi mengoreksi harga pangan, menggerus margin industri, sekaligus menekan daya beli masyarakat secara serentak.