Suku Bunga Naik, INPP Andalkan Pendapatan Berulang Guna Jaga Target
JAKARTA – PT Indonesian Paradise Property Tbk. (INPP) menyatakan belum melangsungkan perubahan terhadap target pendapatan pada tahun 2026 kendati sektor properti saat ini tengah dibayangi tekanan akibat kenaikan BI Rate yang menyentuh angka 5,75%.
Kondisi ini disebabkan performa perusahaan masih disokong oleh pertumbuhan pendapatan berulang atau recurring income.
Wakil Presiden Direktur Indonesian Paradise Property Surina mengutarakan bahwa perusahaan mematok target pertumbuhan pendapatan yang moderat di kisaran 5% -10% pada tahun ini.
Surina menjabarkan bahwa perusahaan mengincar pertumbuhan usaha yang berkelanjutan melalui perluasan portofolio properti berkualitas, penguatan fundamental finansial, serta transformasi korporasi.
Di tengah keadaan dinamis saat ini, perusahaan secara selektif menetapkan proyek-proyek strategis yang sanggup memperkokoh basis pendapatan dalam jangka panjang.
"Kalau melihat dari kondisi saat ini di mana pada kuartal I/2026 posisi recurring income mencapai 90%, jadi kami tidak ada revision target pertumbuhan," ungkapnya dalam Public Expose, Kamis (18/6/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Surina memaparkan bahwa andil pendapatan yang diperoleh dari pusat perbelanjaan, hotel, serviced apartment, serta aset komersial lainnya sanggup menciptakan perputaran dana yang lebih stabil jika disandingkan dengan model bisnis properti yang sekadar bersandar pada penjualan aset.
Oleh karena itu, perusahaan merasa optimistis bahwa target tahun ini tetap dapat diwujudkan kendati dibayangi tekanan dari kenaikan suku bunga acuan.
"Di tahun 2026 kami tetapkan target pertumbuhan 5%-10%. Kami lebih baik menetapkan target yang moderat namun pencapaian bisa lebih tinggi," tambahnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Presiden Direktur INPP Andri Hadi berpandangan bahwa momentum peningkatan performa perusahaan semakin diperkuat setelah dilangsungkannya peresmian 23 Semarang Shopping Center pada tanggal 13 Juni 2026.
Kehadiran dari proyek itu tidak sekadar menambah portofolio komersial yang dipunyai perusahaan, melainkan turut memberikan efek pengganda (multiplier effect) bagi perekonomian.
Guna menyokong target pertumbuhan tersebut, perusahaan menyiapkan anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) sejumlah Rp400 milar.
Fokus dari jajaran manajemen yakni menjaga performa keuangan agar tetap kokoh lewat pengerjaan beraneka proyek yang tengah berjalan.
Di sisi lain, Bank Indonesia telah menetapkan keputusan untuk mengerek suku bunga acuan atau BI Rate ke level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang bergulir pada 17-18 Juni 2026.
Ketetapan tersebut dipublikasikan secara langsung oleh Gubernur BI Perry Warjiyo saat menjabarkan Hasil RDG pada hari Kamis (18/6/2026).
"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada tanggal 17 dan 18 Juni 2026 memutuskan untuk menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%," kata Perry, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Sejalan dengan kebijakan tersebut, bank sentral ikut mengerek suku bunga Deposit Facility serta Lending Facility masing-masing sebesar 25 basis poin hingga menjadi 4,75% dan 6,5%.
Perry menyebutkan bahwa peningkatan suku bunga ini diterapkan sebagai tindakan susulan demi semakin memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
"Serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan pemerintah," tutur Perry, sebagaimana dilansir dari berita sumber.