Saham Big Banks Berguguran, Intip Analisis dan Rekomendasinya

Investor berada di galeri Bursa Efek Indonesia. (Foto: Investor Daily)
Penulis: Ibtihal
Selasa, 23 Juni 2026 | 09:10:01 WIB

JAKARTA - Emiten perbankan dengan kapitalisasi pasar jumbo alias big banks serentak mengalami penurunan pada sesi perdagangan pembuka pekan ini, Senin (22/6/2026). 

Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menjadi yang paling dalam penurunannya dengan merosot 4,90% atau kehilangan 180 poin menuju posisi Rp 3.490 per saham. 

Padahal saat pasar dibuka, saham BBNI sempat menguat ke level Rp 3.720 per saham. Selama satu pekan terakhir, pergerakan saham BBNI tercatat sudah melemah 8,16%. 

Koreksi serupa juga menimpa saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang terpangkas 2,09% ke posisi Rp 4.220 per saham.

 Saham BMRI sempat mengawali perdagangan di level Rp 4.320 per saham dan mencatatkan pelemahan 6,22% dalam sepekan ini.

Di sisi lain, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) terkikis 2,05% menjadi Rp 2.870 per saham dari posisi pembukaannya di Rp 2.930 per saham. Sepanjang minggu ini, saham BBRI sudah melemah sebesar 4,01%. 

Sementara itu, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyusut 1,19% ke level Rp 6.225 per saham. 

Pada pembukaan sesi, saham BBCA sempat menyentuh posisi Rp 6.400 per saham. Jika dihitung secara mingguan, saham BBCA telah mengalami penurunan sebesar 0,80%.

Head of Research PT RHB Sekuritas Indonesia Andrey Wijaya berpandangan bahwa melemahnya pergerakan saham-saham perbankan ini lebih disebabkan oleh sentimen makroekonomi serta kondisi eksternal, bukan karena adanya pergeseran pada fundamental kinerja perbankan itu sendiri.

"Investor masih mencermati perkembangan geopolitik global, arah kebijakan suku bunga global yang tetap ketat, serta volatilitas nilai tukar rupiah," ujar Andrey, Senin (22/6/2026).

Menurut Andrey, apabila dilihat dari dinamika dalam negeri, naiknya tingkat BI Rate menjadi 5,75%, tingginya tingkat imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN), ditambah dengan ketatnya kondisi likuiditas turut menekan proyeksi pasar terhadap margin bunga bersih (net interest margin / NIM) sektor perbankan.

Di samping hal tersebut, maraknya aksi ambil untung (profit taking) ikut menjadi beban bagi laju saham perbankan setelah sempat menorehkan reli dalam beberapa waktu belakangan.

"Setelah reli cukup kuat dalam dua minggu terakhir, sebagian investor melakukan profit taking pada saham-saham perbankan besar," katanya.

Kendati demikian, Andrey tetap menilai bahwa gambaran fundamental untuk sektor perbankan ke depan masih berada dalam kondisi positif. 

Laju penyaluran kredit secara industri diproyeksikan tetap dapat bertumbuh hingga dua digit, didorong oleh roda ekonomi yang terus berputar serta besarnya kebutuhan terhadap pembiayaan.

"Kami masih positif terhadap sektor perbankan. Walaupun NIM berpotensi tertekan akibat tingginya biaya dana, pertumbuhan kredit, fee based income, serta kualitas aset yang masih terjaga diperkirakan dapat menopang pertumbuhan laba perbankan pada 2026," ujarnya.

Mengenai saham perbankan lapis kedua (second liner), Andrey melihat peluang investasi masih terbuka lebar, terkhusus bagi emiten yang ditopang oleh sentimen penggerak yang spesifik serta memiliki valuasi yang cenderung lebih murah ketimbang bank papan atas. 

Kendati begitu, Andrey memberikan catatan agar pelaku pasar bersikap lebih cermat karena situasi likuiditas yang ketat berisiko mendatangkan tekanan yang lebih berat bagi bank dengan basis pendanaan yang kurang solid.

Sedangkan untuk kelompok bank digital, pihak RHB Sekuritas saat ini masih menerapkan sikap selektif. Hal ini disebabkan karena mayoritas bank digital masih berkutat dengan persoalan profitabilitas, tingginya beban biaya dana, serta iklim kompetisi industri yang sangat ketat.

"Fokus sebaiknya pada emiten yang sudah menunjukkan jalur menuju profitabilitas yang lebih jelas dan memiliki dukungan ekosistem yang kuat," jelasnya.

Walaupun valuasi harga saham bank besar mulai tampak menarik usai terjadinya koreksi beberapa waktu belakangan, pihak RHB Sekuritas untuk saat ini masih belum merilis target harga teranyar bagi saham-saham perbankan raksasa tersebut.

"Target harga untuk saham perbankan masih under review," tutup Andrey.

Reporter: Ibtihal