Potensi Besar, Mirae Asset Pertahankan Pandangan Positif Sektor Poultry
JAKARTA – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia mempertahankan pandangan positif terhadap sektor poultry di Indonesia seiring potensi perbaikan keseimbangan pasokan dan permintaan ayam pada 2026.
Hal tersebut diperkirakan akan mendorong kenaikan harga ayam, profitabilitas emiten, hingga valuasi saham sektor terkait.
Senior Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Andreas Kristo Saragih, menyebut industri poultry kini memasuki fase yang lebih menarik dibandingkan beberapa tahun terakhir.
Kondisi ini terjadi setelah pemerintah berhasil mengendalikan risiko kelebihan pasokan melalui pengurangan kuota impor grand parent stock (GPS) serta implementasi program culling pada 2025.
Permintaan pun diproyeksikan terus meningkat, didorong oleh konsumsi ayam per kapita Indonesia yang masih rendah di kawasan ASEAN serta dukungan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Kombinasi pasokan yang lebih ketat dan permintaan yang terus tumbuh akan menciptakan kondisi pasar yang lebih sehat bagi industri poultry. Kenaikan harga ayam berpotensi mendorong pertumbuhan laba perusahaan dan pada akhirnya berdampak positif terhadap harga saham emiten sektor ini," ujar Andreas, sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Profitabilitas industri kini mulai bergeser dari segmen pakan menuju segmen menengah dan hilir, seperti peternakan komersial, produk olahan, hingga makanan siap konsumsi.
Perbaikan harga jual ayam hidup dan berkurangnya risiko kelebihan pasokan diperkirakan akan menopang kinerja segmen peternakan setidaknya hingga 2028.
"Selain itu, produk olahan berbasis ayam dipandang sebagai mesin pertumbuhan baru bagi industri seiring perubahan pola konsumsi masyarakat menuju produk makanan olahan dan siap saji. Tren tersebut dinilai sejalan dengan pengalaman negara maju yang mencatat peningkatan konsumsi ultra processed foods dalam beberapa dekade terakhir," jelas Andreas, sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Sentimen positif ini turut tercermin dari meningkatnya minat investor asing terhadap saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN).
Kepemilikan asing pada saham JPFA meningkat menjadi 80 persen pada Mei 2026, sementara pada CPIN naik menjadi 88 persen pada periode yang sama.
Mirae Asset melihat peluang revisi naik pada proyeksi laba emiten poultry di 2026, di mana JPFA menargetkan laba bersih Rp5 triliun. Adapun target pertumbuhan laba CPIN sebesar 5 persen dinilai masih konservatif dan berpotensi direvisi lebih tinggi oleh pasar.
"Sejalan dengan prospek tersebut, Mirae Asset mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor poultry dengan target harga saham CPIN sebesar Rp6.825 per saham dan JPFA sebesar Rp3.750 per saham. Risiko utama yang perlu dicermati investor antara lain penurunan harga DOC dan broiler, kenaikan harga bahan baku, serta realisasi program MBG yang lebih rendah dari ekspektasi," tegas Andreas, sebagaimana dilansir dari sumber berita.