JAKARTA - PT Cisadane Sawit Raya Tbk. (CSRA) menutup tahun 2025 dengan catatan kinerja yang menguat di tengah dinamika pasar kelapa sawit nasional.
Perseroan mencatat pertumbuhan signifikan baik pada pendapatan maupun laba bersih, menegaskan posisi CSRA sebagai salah satu emiten perkebunan kelapa sawit yang tetap tangguh menghadapi tantangan harga komoditas dan biaya produksi yang meningkat.
Sepanjang 2025, CSRA membukukan pendapatan Rp1,88 triliun, meningkat 77,10% year-on-year (YoY) dibandingkan Rp1,06 triliun pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh melonjaknya penjualan minyak dan inti sawit sebesar 109,86% YoY menjadi Rp1,71 triliun dari Rp814,95 miliar pada periode Januari—Desember 2024.
Baca JugaTOBA Siapkan Dividen Buyback Rights Issue Saat Transisi Bisnis Energi Hijau Berjalan
Sementara itu, segmen pendapatan dari industri perkebunan justru menurun 18,00% YoY menjadi Rp206,45 miliar.
Manajemen CSRA menekankan bahwa pertumbuhan pendapatan terutama didorong oleh tingginya kuantitas penjualan CPO dengan nilai tambah serta harga jual rata-rata yang meningkat. Langkah ini menunjukkan strategi perseroan dalam mengoptimalkan margin di tengah fluktuasi harga komoditas.
Seiring dengan meningkatnya pendapatan, beban pokok pendapatan CSRA juga meningkat signifikan hingga 111,36% YoY menjadi Rp1,23 triliun pada 2025, dibandingkan Rp582,89 miliar pada 2024.
Beban pokok produksi minyak sawit dan inti sawit menjadi penyumbang utama, tumbuh menjadi Rp1,16 triliun dari Rp448,55 miliar tahun sebelumnya. Kondisi ini menghasilkan laba bruto senilai Rp657,22 miliar, naik 35,82% YoY dari Rp483,86 miliar pada 2024.
Setelah memperhitungkan berbagai beban operasional dan pajak, CSRA membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp268,77 miliar, meningkat 25,09% YoY dibandingkan Rp214,85 miliar pada tahun sebelumnya. Laba bersih ini mencerminkan efisiensi operasional perseroan meski menghadapi tekanan biaya yang tinggi.
Pendapatan CSRA Didorong Penjualan Minyak Sawit
Kenaikan pendapatan CSRA sepanjang 2025 sebagian besar berasal dari segmen minyak dan inti sawit. Nilai penjualan naik 109,86% YoY menjadi Rp1,71 triliun.
Manajemen menekankan kombinasi kuantitas penjualan yang tinggi dengan harga jual rata-rata yang meningkat menjadi faktor utama.
Sementara itu, segmen industri perkebunan justru mengalami penurunan 18,00% YoY menjadi Rp206,45 miliar, menandakan pergeseran fokus perseroan ke produk bernilai tambah tinggi.
Beban Pokok Pendapatan Meningkat Signifikan
Seiring naiknya pendapatan, beban pokok juga meningkat 111,36% YoY menjadi Rp1,23 triliun. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh biaya produksi minyak sawit dan inti sawit yang naik menjadi Rp1,16 triliun dari Rp448,55 miliar pada 2024.
Meskipun demikian, laba bruto perseroan tetap tumbuh 35,82% YoY menjadi Rp657,22 miliar, menunjukkan manajemen mampu mengendalikan margin di tengah kenaikan biaya.
Laba Bersih Menguat Ditopang Efisiensi
Setelah dikurangi beban operasional dan pajak, laba bersih CSRA mencapai Rp268,77 miliar, meningkat 25,09% YoY. Pertumbuhan laba bersih yang solid menunjukkan kinerja bottom line perseroan yang tetap sehat.
Angka ini memperkuat posisi CSRA sebagai emiten yang mampu menghasilkan laba konsisten meski menghadapi tantangan biaya produksi dan fluktuasi harga CPO.
Neraca Perusahaan Mencerminkan Pertumbuhan Sehat
Dari sisi neraca, total aset CSRA naik menjadi Rp2,52 triliun per Desember 2025 dari Rp2,25 triliun pada Desember 2024, didorong oleh kenaikan aset tidak lancar menjadi Rp1,96 triliun.
Liabilitas perseroan meningkat menjadi Rp1,05 triliun dari Rp952,71 miliar, namun ekuitas ikut bertumbuh menjadi Rp1,46 triliun dari Rp1,29 triliun, menandakan struktur permodalan yang sehat dan mendukung ekspansi usaha di tahun mendatang.
Celo
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.






.jpg)






