JAKARTA - Penyesuaian harga bahan bakar minyak kembali dilakukan PT Pertamina pada akhir Maret 2026.
Perubahan ini mencakup berbagai jenis BBM nonsubsidi yang dijual melalui SPBU di seluruh Indonesia. Kenaikan harga tersebut mengikuti dinamika pasar energi global. Sementara itu, BBM subsidi tetap dipertahankan untuk menjaga stabilitas ekonomi masyarakat.
Daftar harga BBM Pertamina pada Jumat menunjukkan adanya perubahan signifikan pada beberapa produk. Penyesuaian tersebut dilakukan secara nasional. Pemerintah dan Pertamina memastikan kebijakan ini tetap mengacu pada regulasi yang berlaku. Tujuannya menjaga transparansi dalam penentuan harga.
Baca JugaPemerintah Pastikan Tarif Listrik PLN Triwulan II April 2026 Tetap Stabil
Penyesuaian itu berdasarkan Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022 sebagai perubahan atas Kepmen Nomor 62 K/12/MEM/2020 tentang Formula Harga Dasar Dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak Umum Jenis Bensin dan Minyak Solar yang Disalurkan Melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum. Regulasi tersebut menjadi dasar perhitungan harga. Formula ini memperhitungkan berbagai komponen biaya.
Berdasarkan pengumuman resmi, harga seluruh BBM nonsubsidi baik Pertamax Series maupun Dex Series naik. Sementara harga BBM subsidi seperti Biosolar tetap Rp6.800 dan Pertalite Rp10.000. Kebijakan ini menunjukkan pemerintah masih menjaga perlindungan bagi masyarakat. Stabilitas harga BBM subsidi dinilai penting.
Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Nasional
Untuk wilayah Jabodetabek, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara Barat, harga Pertamax naik menjadi Rp 12.300 dari Rp11.800 per liter. Penyesuaian ini berlaku di sejumlah wilayah utama. Selain itu, kenaikan juga terjadi pada jenis BBM lain. Perubahan harga mengikuti formula yang ditetapkan pemerintah.
Pertamax Turbo naik menjadi Rp13.100 dari Rp12.700 per liter. Kemudian, Pertamax Green 95 menjadi Rp12.900 dari Rp12.450 per liter. Kenaikan ini mencerminkan penyesuaian biaya energi global. Pertamina juga menyesuaikan harga produk diesel. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga keseimbangan bisnis.
Dexlite naik menjadi Rp14.200 dari Rp13.250 per liter dan Pertamina Dex naik menjadi Rp14.500 per liter dari Rp13.500 per liter. Kenaikan ini berlaku pada sebagian besar wilayah. Perubahan harga menunjukkan tekanan biaya pada sektor energi. Namun BBM subsidi tetap stabil.
Kebijakan ini menegaskan perbedaan perlakuan antara BBM subsidi dan nonsubsidi. Pemerintah masih mempertahankan harga subsidi. Langkah tersebut bertujuan menjaga daya beli masyarakat. Selain itu, stabilitas ekonomi domestik tetap menjadi prioritas.
Perbedaan Harga di Wilayah Sumatera
Untuk wilayah Aceh dan Sumatera Utara, harga Pertalite tetap Rp10.000 per liter. Pertamax berada di Rp12.600 per liter. Pertamax Turbo Rp13.350 per liter. Dexlite dijual Rp14.500 per liter. Pertamina Dex mencapai Rp14.800 per liter.
Di kawasan Free Trade Zone Sabang, harga Pertalite tetap Rp10.000 per liter. Pertamax berada di Rp11.550 per liter. Dexlite dijual Rp13.250 per liter. Solar subsidi tetap Rp6.800 per liter. Penetapan harga ini mengikuti kebijakan wilayah khusus.
Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau memiliki harga berbeda. Pertamax dijual Rp12.900 per liter. Pertamax Turbo Rp13.650 per liter. Dexlite Rp14.800 per liter. Pertamina Dex mencapai Rp15.100 per liter.
Di FTZ Batam, harga Pertamax Rp11.750 per liter. Pertamax Turbo Rp12.400 per liter. Dexlite Rp13.450 per liter. Pertamina Dex Rp13.800 per liter. Solar subsidi tetap Rp6.800 per liter.
Harga BBM Wilayah Jawa Bali dan Nusa Tenggara
DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan Jawa Timur memiliki harga seragam. Pertalite tetap Rp10.000 per liter. Pertamax Rp12.300 per liter. Pertamax Turbo Rp13.100 per liter. Pertamax Green 95 Rp12.900 per liter.
Dexlite dijual Rp14.200 per liter. Pertamina Dex Rp14.500 per liter. Solar subsidi tetap Rp6.800 per liter. Penyesuaian ini mencerminkan kebijakan nasional. Wilayah Jawa menjadi acuan utama.
Bali dan Nusa Tenggara Barat juga mengikuti harga serupa. Pertamax Rp12.300 per liter. Pertamax Turbo Rp13.100 per liter. Dexlite Rp14.200 per liter. Pertamina Dex Rp14.500 per liter.
Nusa Tenggara Timur serta Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur memiliki harga berbeda. Pertamax Rp12.600 per liter. Pertamax Turbo Rp13.300 per liter. Dexlite Rp14.500 per liter. Pertamina Dex Rp14.800 per liter.
Harga BBM Wilayah Kalimantan dan Sulawesi
Kalimantan Selatan dan Kalimantan Utara menetapkan Pertamax Rp12.900 per liter. Pertamax Turbo Rp13.650 per liter. Dexlite Rp14.800 per liter. Pertamina Dex Rp15.100 per liter. Solar subsidi tetap Rp6.800 per liter.
Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat memiliki harga seragam. Pertamax Rp12.600 per liter. Pertamax Turbo Rp13.350 per liter. Dexlite Rp14.500 per liter. Pertamina Dex Rp14.800 per liter.
Perbedaan harga antar wilayah dipengaruhi biaya distribusi. Selain itu, faktor geografis juga berperan. Pertamina menyesuaikan harga sesuai ketentuan. Kebijakan ini memastikan distribusi berjalan optimal.
Penyesuaian harga juga mempertimbangkan stabilitas pasokan. Pemerintah ingin memastikan BBM tetap tersedia. Selain itu, kebijakan ini menjaga keberlanjutan energi nasional.
Harga BBM Kawasan Timur Indonesia
Wilayah Maluku dan Maluku Utara menetapkan Pertamax Rp12.600 per liter. Dexlite Rp14.500 per liter. Solar subsidi tetap Rp6.800 per liter. Pertalite tetap Rp10.000 per liter. Harga ini mengikuti standar wilayah timur.
Papua memiliki harga serupa. Pertamax Rp12.600 per liter. Pertamax Turbo Rp13.350 per liter. Dexlite Rp14.500 per liter. Solar tetap Rp6.800 per liter. Kebijakan ini memastikan kesetaraan harga.
Papua Barat dan Papua Barat Daya menetapkan Pertamina Dex Rp14.800 per liter. Sementara wilayah Papua Selatan, Papua Tengah dan Papua Pegunungan mengikuti harga Pertamax Rp12.600 per liter. Dexlite Rp14.500 per liter. Solar tetap Rp6.800 per liter.
Penyesuaian harga BBM nasional ini menunjukkan respons terhadap dinamika energi global. Pertamina memastikan ketersediaan pasokan tetap terjaga. Pemerintah juga menjaga harga subsidi tetap stabil. Langkah ini diharapkan mampu menjaga keseimbangan ekonomi nasional.
Mazroh Atul Jannah
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Berita Lainnya
Strategi Pemerintah Antisipasi Krisis Pangan Nasional Saat Ancaman El Nino Menguat
- Jumat, 27 Maret 2026






.jpg)






