Jumat, 27 Maret 2026

Laba Darma Henwa Melejit Tajam Tahun 2025 Didukung Pendapatan Akuisisi Strategis Baru

Laba Darma Henwa Melejit Tajam Tahun 2025 Didukung Pendapatan Akuisisi Strategis Baru
Laba Darma Henwa Melejit Tajam Tahun 2025 Didukung Pendapatan Akuisisi Strategis Baru

JAKARTA - Kinerja PT Darma Henwa Tbk menunjukkan lonjakan signifikan pada tahun 2025 yang menarik perhatian pelaku pasar. 

Emiten jasa pertambangan yang terafiliasi dengan Grup Bakrie ini mencatat pertumbuhan laba bersih yang sangat tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. 

Peningkatan tersebut tidak hanya didorong oleh pendapatan operasional, tetapi juga kontribusi dari aksi korporasi strategis. Kondisi ini memperlihatkan adanya perubahan struktur pendapatan yang memperkuat posisi keuangan perusahaan. Investor pun mulai mencermati keberlanjutan kinerja tersebut.

Baca Juga

TOBA Siapkan Dividen Buyback Rights Issue Saat Transisi Bisnis Energi Hijau Berjalan

Merujuk laporan keuangan di Bursa Efek Indonesia, pendapatan DEWA mencapai Rp 6,39 triliun pada 2025. Angka tersebut tumbuh 5,97% secara tahunan dibandingkan periode sebelumnya sebesar Rp 6,03 triliun. 

Pertumbuhan pendapatan ini mencerminkan aktivitas operasional yang tetap stabil. Meski tidak melonjak drastis, peningkatan tersebut menjadi fondasi penting bagi perbaikan profitabilitas. Stabilitas pendapatan operasional juga menjadi indikator permintaan jasa pertambangan yang masih terjaga.

Mayoritas pendapatan perusahaan pada tahun 2025 berasal dari segmen jasa pertambangan. Nilainya mencapai Rp 5,71 triliun sehingga menjadi kontributor utama terhadap total pendapatan. 

Selain itu, DEWA juga memperoleh pemasukan dari segmen jasa lainnya sebesar Rp 350,86 miliar. Total pendapatan tersebut kemudian dikurangi eliminasi sebesar Rp 28,75 miliar. Struktur pendapatan ini menunjukkan dominasi bisnis inti perusahaan. Diversifikasi pendapatan tetap memberikan tambahan kontribusi.

Pendapatan Stabil Dorong Perbaikan Kinerja

Bersamaan dengan pertumbuhan pendapatan, perusahaan juga berhasil menekan beban pokok pendapatan. Beban tersebut menyusut 2,86% secara tahunan menjadi Rp 5,43 triliun pada 2025. 

Pada tahun sebelumnya, beban pokok pendapatan tercatat sebesar Rp 5,59 triliun. Penurunan ini mencerminkan efisiensi operasional yang dilakukan perusahaan. Efisiensi tersebut berkontribusi langsung terhadap peningkatan margin keuntungan. Kondisi ini menjadi faktor penting dalam lonjakan laba.

Hasilnya, DEWA membukukan laba bruto sebesar Rp 962,17 miliar pada akhir 2025. Angka tersebut meningkat 118,93% dibandingkan laba bruto tahun sebelumnya sebesar Rp 439,47 miliar. Lonjakan laba bruto ini menunjukkan peningkatan efisiensi sekaligus stabilitas pendapatan. 

Margin yang lebih baik menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan kinerja perusahaan. Investor melihatnya sebagai indikasi perbaikan fundamental.

Perbaikan laba bruto tersebut juga mencerminkan kemampuan perusahaan mengelola biaya. Pengendalian beban operasional menjadi salah satu strategi utama. Dengan beban yang lebih rendah, setiap kenaikan pendapatan memberi dampak lebih besar pada laba. Hal ini memperlihatkan kualitas pertumbuhan yang lebih sehat. Kinerja ini memberikan optimisme terhadap prospek ke depan.

Lonjakan Laba Sebelum Pajak Sangat Signifikan

Selain laba bruto, DEWA juga mencatat lonjakan laba sebelum pajak yang sangat besar. Laba sebelum pajak meningkat 4.331,81% secara tahunan menjadi Rp 4,21 triliun pada 2025. Pada periode sebelumnya, laba sebelum pajak hanya sebesar Rp 95,08 miliar. Lonjakan ini menjadi sorotan karena pertumbuhannya sangat tinggi. Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi oleh pendapatan non-operasional.

Capaian tersebut sangat dipengaruhi adanya pendapatan lain-lain bersih sebesar Rp 3,74 triliun pada 2025. Pendapatan ini memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan laba. Tanpa komponen tersebut, pertumbuhan laba tidak akan sebesar yang tercatat. Hal ini menunjukkan pentingnya aksi korporasi dalam meningkatkan kinerja. Pendapatan tambahan tersebut menjadi faktor dominan.

Dalam hal ini, terdapat pengakuan goodwill negatif yang timbul dari akuisisi entitas anak tanpa tambahan kas. Nilainya mencapai Rp 4,54 triliun. Pengakuan tersebut muncul seiring akuisisi PT Gayo Mineral Resources oleh DEWA. Langkah strategis ini memberikan dampak besar pada laporan keuangan. Akuisisi tersebut juga memperluas portofolio bisnis perusahaan.

Pengaruh Akuisisi Tingkatkan Laba Bersih

Hingga akhir 2025, DEWA membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 4,31 triliun. Angka ini melesat 7.697,71% dibandingkan laba bersih tahun sebelumnya sebesar Rp 55,23 miliar. Lonjakan laba bersih tersebut menjadi salah satu yang tertinggi dalam sejarah perusahaan. Kinerja ini memperlihatkan dampak signifikan dari akuisisi. Investor melihatnya sebagai momentum positif.

Pertumbuhan laba yang sangat tinggi tersebut juga memperkuat struktur keuangan perusahaan. Selain peningkatan laba, posisi aset perusahaan juga menunjukkan perkembangan. Total aset DEWA mencapai Rp 16,73 triliun pada 2025. Jumlah tersebut mencerminkan peningkatan skala bisnis. Perusahaan kini memiliki basis aset yang lebih besar.

Total aset tersebut terdiri dari liabilitas sebesar Rp 8,14 triliun dan ekuitas sebesar Rp 8,59 triliun. Struktur ini menunjukkan keseimbangan antara kewajiban dan modal. Ekuitas yang meningkat mencerminkan penguatan posisi keuangan. Hal ini memberikan ruang bagi ekspansi bisnis selanjutnya. Stabilitas neraca menjadi faktor penting bagi keberlanjutan perusahaan.

Prospek Keuangan Setelah Lonjakan Kinerja

Kinerja keuangan yang melonjak tajam pada 2025 memberikan sinyal positif bagi prospek DEWA. Meski sebagian besar pertumbuhan berasal dari faktor non-operasional, efisiensi operasional tetap menjadi fondasi. Pendapatan jasa pertambangan yang stabil menjadi penopang utama. Perusahaan juga memiliki peluang meningkatkan kinerja melalui ekspansi. Strategi akuisisi dapat terus dimanfaatkan.

Ke depan, keberlanjutan pertumbuhan akan bergantung pada kinerja operasional. Investor akan mencermati apakah laba dapat dipertahankan tanpa faktor goodwill. Efisiensi biaya dan peningkatan pendapatan menjadi kunci. Struktur aset yang lebih kuat memberikan ruang untuk pengembangan. Momentum kinerja 2025 menjadi pijakan penting.

Secara keseluruhan, lonjakan laba DEWA mencerminkan kombinasi antara strategi akuisisi dan efisiensi operasional. Pertumbuhan pendapatan yang stabil memperkuat fondasi bisnis.

Sementara itu, pengakuan goodwill dari akuisisi memberikan dorongan signifikan pada laba. Dengan struktur keuangan yang semakin kuat, perusahaan memiliki peluang memperluas bisnis. Pelaku pasar kini menantikan konsistensi kinerja di periode berikutnya. 

Mazroh Atul Jannah

Mazroh Atul Jannah

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Laba Alfamart Naik 2025 Pendapatan Tumbuh Didukung Ekspansi Penjualan Nasional Konsisten Berkelanjutan

Laba Alfamart Naik 2025 Pendapatan Tumbuh Didukung Ekspansi Penjualan Nasional Konsisten Berkelanjutan

Jadwal Bus DAMRI Sleman Ke YIA Lengkap Rute Jam Tarif Maret 2026

Jadwal Bus DAMRI Sleman Ke YIA Lengkap Rute Jam Tarif Maret 2026

Mudik Lebaran 2026 Jalur Laut Pelni Layani Penumpang Menuju Jawa Meningkat Signifikan

Mudik Lebaran 2026 Jalur Laut Pelni Layani Penumpang Menuju Jawa Meningkat Signifikan

Arus Balik Lebaran Pelni Prediksi Kepadatan Tanjung Emas Semarang Mulai Akhir Maret

Arus Balik Lebaran Pelni Prediksi Kepadatan Tanjung Emas Semarang Mulai Akhir Maret

Jadwal KA Bandara YIA Ke Stasiun Tugu Yogyakarta Jumat Maret 2026 Lengkap

Jadwal KA Bandara YIA Ke Stasiun Tugu Yogyakarta Jumat Maret 2026 Lengkap