Selasa, 12 Mei 2026

Kurs Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini 11 Mei 2026 Fluktuatif

Kurs Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini 11 Mei 2026 Fluktuatif
Ilustrasi Kurs Rupiah dan Dolar AS (Foto: net).

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada hari ini, Senin 11 Mei 2026, diprediksi akan bergerak fluktuatif namun memiliki kecenderungan untuk ditutup melemah dalam kisaran Rp17.380 sampai dengan Rp17.430 per dolar AS. 

Pada perdagangan Jumat (8/5/2026), nilai tukar rupiah ditutup melemah 49 poin menuju level Rp17.382 per dolar AS jika dibandingkan posisi sebelumnya yakni Rp17.359 per dolar AS.

Ibrahim Assuaibi, selaku Direktur PT Traze Andalan Futures, menyebutkan bahwa penguatan indeks dolar Amerika Serikat kembali memberikan tekanan bagi rupiah di tengah meningkatnya ketegangan konflik antara AS dan Iran, serta adanya ketidakpastian mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve. 

Baca Juga

Fundamental PGEO Tetap Kuat di Tengah Sikap Wait and See Investor

Ia menambahkan bahwa perseteruan AS dan Iran kembali membangkitkan kecemasan pasar atas stabilitas jalur distribusi energi dunia, terutama di Selat Hormuz yang merupakan jalur utama perdagangan minyak dan gas global.

Menurut pandangannya, sempat muncul harapan pasar terkait pembukaan total Selat Hormuz setelah adanya sinyal kesepakatan antara AS dan Iran. Akan tetapi, keadaan kembali memanas usai kedua pihak saling melontarkan tuduhan terkait pelanggaran gencatan senjata.

“Iran menuduh AS melanggar gencatan senjata, sementara AS menyebut serangannya sebagai balasan atas tembakan Iran terhadap kapal angkatan lautnya,” ungkap Ibrahim sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di sisi lain, kondisi pasar juga dibayangi oleh adanya perbedaan pendapat di antara pejabat Federal Reserve mengenai arah suku bunga. Beth Hammack, Presiden Federal Reserve Cleveland, menyatakan bahwa suku bunga diprediksi akan tetap berada di level tinggi untuk beberapa waktu ke depan.

Dari faktor domestik, pelaku pasar menaruh perhatian pada posisi utang pemerintah yang menyentuh angka Rp9.920,42 triliun per 31 Maret 2026, atau mengalami kenaikan hampir 3 persen jika dibandingkan posisi akhir 2025 yang sebesar Rp9.637,9 triliun. Angka tersebut setara dengan 40,75 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Pihak pemerintah mengklaim bahwa rasio utang tersebut masih berada di bawah ambang batas aman internasional, yaitu sebesar 60 persen terhadap PDB. Namun, tekanan terhadap APBN dianggap semakin berat seiring dengan realisasi defisit anggaran yang sudah mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap PDB pada kuartal I/2026. 

Pada periode yang sama, realisasi pembiayaan utang telah menyentuh Rp258,7 triliun. Situasi ini membuat pasar kian sensitif terhadap prospek pendapatan negara serta kemampuan pemerintah dalam mempertahankan stabilitas fiskal.

Ibtihal

Ibtihal

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Panca Budi Idaman Bagikan Dividen Rp 397,50 Miliar atau Rp 53 Per Saham

Panca Budi Idaman Bagikan Dividen Rp 397,50 Miliar atau Rp 53 Per Saham

Investor DKFT Terima Dividen Tunai Rp 3.500 per Lot Hari Ini

Investor DKFT Terima Dividen Tunai Rp 3.500 per Lot Hari Ini

OJK Sebut Investor Domestik Naik 6,4 Juta Sejak Akhir Tahun

OJK Sebut Investor Domestik Naik 6,4 Juta Sejak Akhir Tahun

BMRI dan BBCA Teratas, Ini Saham Banyak Dilepas Asing Seminggu Terakhir

BMRI dan BBCA Teratas, Ini Saham Banyak Dilepas Asing Seminggu Terakhir

Saham PANR Turun 13 Persen Lebih Siap Bagikan Dividen 3.000 per Lot

Saham PANR Turun 13 Persen Lebih Siap Bagikan Dividen 3.000 per Lot