Prediksi Kurs Rupiah 18 Mei 2026: Berpotensi Loyo ke Rp17.530 per USD
- Senin, 18 Mei 2026
JAKARTA — Kurs rupiah terhadap dolar AS pada hari ini Senin 18 Mei 2026 diproyeksikan bakal berjalan fluktuatif namun berpotensi berakhir melemah di kisaran Rp17.470 sampai Rp17.530 per dolar AS.
Mengacu pada data Trading View, kurs mata uang garuda sempat menguat 54 angka atau 0,31% ke posisi Rp17.474 per dolar AS pada Rabu (13/5/2026).
Di waktu yang sama, indeks dolar AS justru menanjak 0,20% ke posisi 98,49. Strategic Research Manager Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet berpandangan bahwa berkurangnya cadev serta peluncuran SRBI oleh otoritas moneter ialah akibat yang logis demi menahan kemerosotan kurs rupiah, walaupun memicu rentetan risiko makroekonomi ke depannya.
Baca JugaSaham Merosot, BEEF Siapkan Rp100 Miliar untuk Aksi Buyback Sahamnya
Yusuf memaparkan bahwa dalam sistem nilai tukar mengambang terkendali (managed floating), menyusutnya cadev saat tekanan kurs sedang tinggi merupakan fenomena yang lumrah.
"Pelemahan cadangan devisa saat tekanan kurs meningkat justru merupakan konsekuensi normal dari fungsi bank sentral sebagai stabilizer pasar. Cadangan devisa memang disiapkan untuk digunakan ketika volatilitas meningkat, bukan sekadar disimpan pasif," ujarnya, Minggu (17/5/2026).
Sebelum itu, Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memaparkan bahwa apresiasi rupiah sebelum libur panjang berlangsung di kala sentimen pasar global masih ringkih.
Menurut dia, statement Presiden AS Donald Trump terkait situasi kritis diplomasi dengan Iran telah memadamkan harapan gencatan senjata serta membangkitkan kecemasan inflasi energi karena terhambatnya jalur Selat Hormuz.
“Perang dengan Iran mulai berdampak pada perekonomian AS karena harga minyak yang lebih tinggi menyebabkan harga bahan bakar menjadi lebih mahal, dan para ekonom memperkirakan melihat dampak putaran kedua dalam beberapa bulan mendatang,” ujarnya dalam siaran pers.
Dari faktor internal, walau pasar tengah berada dalam masa cuti bersama pada Kamis dan Jumat, Bank Indonesia (BI) diyakinkan bakal tetap mengawal pasar demi mengupayakan stabilitas.
BI pun konsisten melancarkan intervensi di pasar offshore secara kontinu dari pasar New York, Asia, sampai Eropa.
"BI juga akan melakukan intervensi secara agresif di pasar domestik sejak pembukaan tanggal 18 Mei mendatang melalui pasar valas (spot dan DNDF) serta pembelian SBN di pasar sekunder," pungkas Ibrahim.
Di sudut lain, pelaku pasar turut memantau kondisi utang pemerintah yang menyentuh Rp9.920,42 triliun sampai Maret 2026.
Kendati sudah hampir menyentuh nominal Rp10.000 triliun, rasio utang terhadap PDB masih berada pada angka 40,75%, alias masih aman di bawah batas maksimal 60% berdasarkan Undang-Undang Keuangan Negara.
Ibtihal
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gerak Cepat PLN, Kurang dari 1 Jam Listrik Kembali Normal di GI Angke
- Jumat, 17 April 2026











