Selasa, 19 Mei 2026

Harga Batu Bara Newcastle 18 Mei 2026 Naik ke USD132,5 per Ton

Harga Batu Bara Newcastle 18 Mei 2026  Naik ke USD132,5 per Ton
Ilustrasi Batu Bara. (Foto: investor.id)

JAKARTA - Nilai jual batu bara mengalami peningkatan pada sesi perdagangan Senin (18/5/2026). 

Kenaikan ini disebabkan oleh melonjaknya tingkat konsumsi batu bara di China di tengah situasi krisis energi global yang dipicu oleh konflik bersenjata Iran serta terhambatnya suplai LNG di pasar internasional.

"Dikutip dari Investor Daily, data perdagangan mencatat harga batu bara Newcastle untuk kontrak Mei 2026 naik sebesar US$ 0,8 menjadi US$ 132,5 per ton. Sementara itu, kontrak Juni 2026 melonjak US$ 1,5 ke level US$ 138 per ton, dan kontrak Juli 2026 melesat US$ 1,6 menjadi US$ 140,45 per ton."

Baca Juga

Kebijakan Biofuel Global Jaga Harga CPO Tetap Stabil di Juni 2026

Tren penguatan ini juga berimbas pada komoditas batu bara Rotterdam. Untuk kontrak Mei 2026 posisinya menguat US$ 1,4 ke angka US$ 110,6 per ton, lalu kontrak Juni 2026 terkerek naik US$ 2,65 menuju US$ 118,45 per ton, dan kontrak Juli 2026 bertambah tinggi US$ 2,7 hingga menyentuh level US$ 120,8 per ton.

Kekurangan pasokan energi dunia akibat ketegangan di Iran mendorong China untuk meningkatkan penggunaan batu bara pada sektor pembangkit listriknya. 

Merujuk data dari Bloomberg, output listrik termal di Negeri Tirai Bambu tersebut menunjukkan tren pertumbuhan selama empat bulan berturut-turut hingga April 2026.

Demi mencukupi kebutuhan setrum domestik yang tengah membubung, output listrik termal China mengembang sebesar 3,1% ketimbang periode yang sama di tahun sebelumnya. 

Kondisi bertolak belakang justru diperlihatkan oleh pasokan listrik dari sektor nuklir dan energi angin yang mengalami penurunan.

Volume produksi batu bara lokal China sendiri malah menyusut 1% pada April 2026, yang lumrahnya menjadi momentum pemeliharaan berkala fasilitas tambang. 

Situasi ini mengindikasikan beratnya tekanan yang mesti dihadapi Beijing untuk memelihara ketahanan energi di dalam negerinya.

Blokade de facto yang terjadi di Selat Hormuz berdampak pada tersendatnya kurang lebih seperlima pasokan LNG global. 

Imbas meroketnya harga LNG tersebut, China memilih membatasi pembelian gas alam dari luar negeri dan memprioritaskan kembali batu bara sebagai motor utama pembangkit listrik mereka.

Nilai jual batu bara termal yang menjadi patokan domestik di China dikabarkan telah meroket kisaran 23% dari awal tahun. 

Otoritas setempat pun sudah memberikan instruksi kepada pihak pembangkit listrik guna memperbanyak stok batu bara mereka menjelang tibanya musim panas.

Kendati demikian, laju pertambahan harga batu bara mulai tertahan sesudah korporasi utilitas enggan menerima kenaikan biaya yang dirasa terlampau tinggi. 

Para pelaku pasar pun tengah membaca situasi terkait potensi intervensi pembatasan harga oleh pemerintah China jikalau tren kenaikan ini terus melaju.

Di lain sisi, laju ekspansi sektor energi bersih di China tampak berprogres melambat. Output listrik dari tenaga angin pada April 2026 merosot 5% secara tahunan (yoy), padahal kapasitas instalasi turbin baru terus bertambah di sejumlah daerah.

Penurunan volume produksi listrik nuklir juga terjadi lantaran beberapa fasilitas pembangkit tengah menjalani perawatan rutin. 

Di tengah kondisi pelemahan tersebut, tren pertumbuhan yang positif masih mampu ditorehkan oleh sektor pembangkit listrik tenaga air serta pembangkit surya dalam skala masif.

Merosotnya kinerja sektor energi terbarukan ini memicu kekhawatiran lantaran kecepatan pembangunan panel surya serta turbin angin baru melandai jika dibandingkan capaian rekor tahun lalu. 

Bukan hanya itu, kendala keterbatasan pada infrastruktur jaringan distribusi memicu naiknya angka curtailment atau terbuangnya pasokan listrik dari energi bersih secara percuma.

Sebagai bentuk langkah mitigasi, pihak operator listrik di China saat ini tengah menggeber proyek instalasi fasilitas penyimpanan baterai serta jalur transmisi demi menunjang kelancaran distribusi pasokan energi bersih.

Ibtihal

Ibtihal

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Harga TBS Sawit Sumut Melemah, CPO Ditetapkan Rp 15.139 Per Kg

Harga TBS Sawit Sumut Melemah, CPO Ditetapkan Rp 15.139 Per Kg

Harga Karet Bungo Rp18.500/Kg, Petani Semangat Kembali ke Kebun

Harga Karet Bungo Rp18.500/Kg, Petani Semangat Kembali ke Kebun

Update Harga Minyak Dunia Melonjak ke Level Tertinggi dalam Dua Pekan

Update Harga Minyak Dunia Melonjak ke Level Tertinggi dalam Dua Pekan

Pemerintah Jamin Harga LPG 3 Kg dan BBM Subsidi Tetap Sampai Akhir 2026

Pemerintah Jamin Harga LPG 3 Kg dan BBM Subsidi Tetap Sampai Akhir 2026

Harga BBM Nonsubsidi Pertamina Naik Hari Ini, Efek Minyak Tembus USD100

Harga BBM Nonsubsidi Pertamina Naik Hari Ini, Efek Minyak Tembus USD100