BEI Dibuka Hari Ini Usai Idul Adha, Cek Rekomendasi Saham Analis

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Rabu, 03 Juni 2026
BEI Dibuka Hari Ini Usai Idul Adha, Cek Rekomendasi Saham Analis
Ilustrasi Perdagangan Saham Dibuka Hari Ini. (Foto: kontan.co.id)

JAKARTA - Setelah melewati masa libur Hari Raya Idul Adha 1447 H, Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali memulai aktivitas perdagangan saham pada hari ini, Jumat 29 Mei 2026. 

Di tengah situasi pasar saham domestik yang sedang menghadapi tekanan, para investor disarankan untuk memperhatikan sejumlah rekomendasi dari para analis berikut ini.

Kondisi pasar saham di tanah air terpantau masih mengalami tekanan hingga sesi perdagangan terakhir sebelum memasuki masa libur. Situasi tersebut tercermin dari laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berakhir di zona merah pada perdagangan Selasa (26/5/2026). 

Merujuk pada data resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG mengalami penurunan sebesar 1,23% ke posisi 6.130,19 setelah sebelumnya sempat menunjukkan penguatan di awal sesi perdagangan. 

Merosotnya indeks ini disebabkan oleh aksi ambil untung (profit taking) oleh para investor serta adanya agenda rebalancing indeks MSCI yang memicu gelombang tekanan jual pada beberapa saham dengan kapitalisasi besar.

Sentimen Global Tekan IHSG

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, mengemukakan bahwa tekanan tambahan bagi pasar datang dari eskalasi ketegangan geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.

“Serangan terbaru Amerika Serikat di Iran selatan menjadi sentimen negatif bagi pasar, meskipun di tengah harapan terhadap proses perdamaian,” ujarnya.

Berdasarkan penjelasan Alrich, sektor industri menjadi bidang yang mencatatkan penurunan paling dalam pada sesi perdagangan kali ini. Di sisi lain, sektor infrastruktur terpantau masih sanggup menorehkan penguatan yang cenderung terbatas. 

Bila ditinjau secara teknikal, ia berpandangan bahwa pergerakan IHSG sudah mulai memperlihatkan tanda-tanda perbaikan walaupun cakupannya masih terbatas.

“Stochastic RSI menunjukkan potensi reversal ke arah pivot dan histogram MACD negatif mulai menyempit, sehingga IHSG berpotensi bergerak di kisaran 6.000-6.200,” jelasnya.

Pelemahan Rupiah Jadi Perhatian

Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memberikan pandangan bahwa depresiasi nilai tukar rupiah menjadi salah satu aspek utama yang membayangi laju IHSG dalam jangka pendek. 

Menurut analisisnya, pelemahan mata uang rupiah ini dipicu oleh perpaduan antara penguatan mata uang dolar AS, dinamika situasi geopolitik global, serta aktivitas repatriasi dividen oleh para pemodal asing.

“Jika pelemahan rupiah berlangsung agresif, biasanya diikuti aksi jual bersih investor asing,” katanya.

Nafan pun menambahkan bahwa saham-saham di sektor perbankan dengan kapitalisasi pasar besar berpeluang menjadi faktor penekan utama bagi pergerakan IHSG karena mempunyai bobot yang sangat dominan di dalam indeks. 

Kendati demikian, ia menilai kondisi fundamental dari sektor perbankan di dalam negeri sejatinya masih tergolong solid, ditopang oleh margin bunga bersih serta rasio permodalan yang tetap kuat.

Strategi Investor di Tengah Volatilitas Pasar

Menyikapi situasi pasar yang bergerak fluktuatif, para pemodal diimbau untuk bertindak lebih selektif dalam menyaring saham serta lebih mengedepankan aspek manajemen risiko. 

Nafan memberikan saran agar para investor mencermati perusahaan-perusahaan yang berbasis ekspor, sektor energi, maupun saham-saham defensif yang tidak memiliki ketergantungan tinggi terhadap pasokan bahan baku impor.

Sementara itu, Co-Founder Pasardana Hans Kwee membuat perkiraan bahwa pergerakan rentang IHSG pada sesi perdagangan Jumat (29/5/2026) ini masih akan berjalan dalam ruang yang terbatas.

“IHSG diperkirakan bergerak dengan support di kisaran 5.950-6.000 dan resistance di area 6.200-6.286,” ujarnya.

Melalui gambaran berbagai sentimen di atas, pergerakan IHSG untuk jangka pendek diproyeksikan masih tetap volatil seiring dengan langkah para pelaku pasar dalam mencermati perkembangan nilai tukar rupiah, pergerakan arus modal asing, serta gejolak geopolitik global.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua