Harga Minyak Dunia Turun Dua Hari Beruntun, Simak Level Support-nya

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Senin, 08 Juni 2026
Harga Minyak Dunia Turun Dua Hari Beruntun, Simak Level Support-nya
Ilustrasi Kilang Minyak. (Foto: tugu.com)

JAKARTA — Nilai dagang minyak global kembali terpuruk pada penutupan pekan kemarin sejalan dengan mulai berkurangnya kecemasan pelaku usaha atas risiko perluasan konflik di kawasan Timur Tengah serta menguatnya posisi mata uang dolar AS usai rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) melesat di atas prediksi.

Pada sesi transaksi Jumat (5/6/2026), harga minyak mentah varian Brent berakhir menyusut sebesar 2,04 persen menuju posisi USD93,09 per barel, setelah pada sesi sebelumnya juga sudah mengalami koreksi sebanyak 2,84 persen.

Di sisi lain, minyak mentah berjenis West Texas Intermediate (WTI) AS dilaporkan amblas hingga 2,69 persen ke angka USD90,54 per barel, yang memperpanjang tren penurunan usai anjlok sebesar 3,1 persen pada hari kemarin.

Analis dari FXEmpire, Vladimir Zernov, berpendapat bahwa gempuran terhadap harga minyak dipicu oleh perpaduan antara keperkasaan indeks dolar AS serta menebalnya optimisme pasar bahwa AS dan Iran pada akhirnya bakal menyepakati poin perdamaian yang bisa meminimalisasi risiko kemacetan distribusi minyak global.

Mata uang dolar AS terpantau melaju kuat usai publikasi data Non-Farm Payrolls (NFP) memperlihatkan sektor ekonomi AS mampu menciptakan 172.000 lapangan pekerjaan baru sepanjang periode Mei, angka yang berada jauh di atas estimasi para analis yang memperkirakan hanya sebesar 85.000.

Rilis data tersebut mempertebal spekulasi pasar bahwa otoritas Federal Reserve (The Fed) memiliki peluang besar untuk melanjutkan kebijakan moneter ketat mereka dalam jangka waktu yang lebih panjang.

Apresiasi nilai tukar dolar cenderung menekan pergerakan harga minyak mentah lantaran menjadikan nilai komoditas tersebut menjadi lebih tinggi bagi para importir yang bertransaksi menggunakan denominasi mata uang asing lainnya.

Dari koridor geopolitik, para pelaku pasar senantiasa memantau perkembangan proses diplomasi antara pihak AS dengan Iran.

Presiden AS Donald Trump menyampaikan bahwa proses dialog antara kedua belah pihak kini sudah menapak ke fase final, walaupun belum ada pemaparan detail mengenai klausul tersebut. 

Di pihak lain, Iran turut membenarkan bahwa proses diplomasi masih terus berjalan, namun diakui belum memperlihatkan hasil yang teramat signifikan.

Walaupun pergolakan bersenjata antara Israel dan Hizbullah dilaporkan masih bergulir, eskalasi pertempuran di lapangan diindikasikan mulai menunjukkan penurunan intensitas. 

Situasi ini memicu para pelaku pasar menyimpulkan bahwa ancaman macetnya pasokan energi dari teritori Timur Tengah tidak akan seburuk seperti yang ditakutkan sebelumnya.

Secara analisis teknikal, pihak FXEmpire memproyeksikan minyak WTI saat ini tengah mencoba merosot melewati batas penopang (support) di kisaran USD91,00-USD91,50 per barel.

Apabila aksi lepas komoditas ini terus berlanjut hingga level pembatas tersebut jebol secara signifikan, maka nilai WTI berisiko terseret turun lebih dalam menuju area penopang selanjutnya di rentang USD85,00-USD85,50 per barel.

Sebaliknya, guna merajut kembali tren penguatan yang kokoh ke depan, minyak jenis WTI wajib mendobrak area dinding resistensi (resistance) di level USD97,00-USD97,50 per barel.

Sementara itu, untuk varian minyak Brent saat ini tengah menghadapi area batas penopang terdekat pada rentang harga USD91,00-USD91,50 per barel.

Apabila posisi tersebut gagal dipertahankan dari koreksi, maka harga minyak Brent berpeluang meneruskan tren pelemahan menuju batas kisaran USD86,00-USD86,50 per barel, yang sekaligus menjadi level terendah sejak periode April kemarin.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua