Alfamart Perluas Jaringan Ritel di Indonesia, Filipina dan Bangladesh

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Senin, 08 Juni 2026
Alfamart Perluas Jaringan Ritel di Indonesia, Filipina dan Bangladesh
Ilustrasi Alfamart. (Foto: money.kompas.com)

JAKARTA - PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) atau Alfamart kembali menjalankan agenda ekspansi pada 2026 dengan menitikberatkan pada penguatan jaringan ritelnya, baik di pasar domestik maupun mancanegara. 

Korporasi ritel ini memproyeksikan penambahan hingga 1.080 gerai baru di sepanjang tahun 2026 lewat aksi ekspansif di kancah internasional. 

Di samping merencanakan pendirian 800 toko baru di dalam negeri, perusahaan juga membidik penambahan 200-250 gerai di Filipina serta sekitar 30 gerai di Bangladesh untuk melebarkan sayap bisnis eksternalnya.

Corporate Secretary AMRT Tomin Widian mengungkapkan bahwa target pembangunan 800 gerai baru di Indonesia pada tahun ini sepenuhnya dialokasikan bagi jaringan Alfamart.

Tidak cuma fokus pada pasar lokal, perusahaan juga terus mendorong ekspansi internasional, khususnya ke Filipina yang dinilai masih menyimpan potensi pertumbuhan bisnis yang menjanjikan. 

Untuk wilayah Filipina, Alfamart menyasar pembukaan berkisar 200 hingga 250 toko baru di sepanjang tahun 2026. Wilayah tersebut menjadi pasar luar negeri terbesar bagi perusahaan saat ini dan konsisten menunjukkan performa yang positif.

Di sudut lain, untuk pasar Bangladesh, AMRT mengambil langkah yang cenderung konservatif lantaran aktivitas operasional di sana masih berada pada fase awal.

"Kalau di Bangladesh karena kami masih baru, targetnya tidak tinggi. Mungkin sekitar 30 toko dulu. Kami belajar dulu di negara orang," sebagaimana dilansir dari berita sumber saat yang bersangkutan berbicara dalam Public Expose, Minggu (7/6/2026).

Pihak manajemen menaksir kebutuhan dana investasi per toko di luar negeri berada di kisaran Rp1,5 miliar. Melalui target pendirian sekitar 200 gerai di Filipina, total modal yang diperlukan menyentuh angka sekitar Rp300 miliar.

Kendati demikian, karena porsi kepemilikan Alfamart Indonesia di bisnis Filipina hanya sebesar 35%, maka dana kontribusi yang harus disiapkan korporasi diestimasi berkisar Rp100 miliar.

"Kalau di Filipina investasinya lebih mahal. Kalau 200 toko sekitar Rp300 miliar, tetapi karena kepemilikan kami hanya 35%, maka kontribusi dari Alfamart Indonesia kurang lebih sekitar Rp100 miliar," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sementara itu, untuk area domestik, AMRT memproyeksikan pendirian 800 toko baru Alfamart di sepanjang tahun ini. Skema pembangunannya dibagi menjadi dua, yaitu sekitar 500 toko akan dikelola langsung sebagai milik korporasi, sedangkan 300 toko sisanya bakal dijalankan melalui sistem waralaba (franchise).

Guna menyokong agenda ekspansi tersebut, manajemen mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) berkisar Rp500 miliar yang diprioritaskan untuk pendirian gerai-gerai baru milik internal perusahaan. Tomin memaparkan, ongkos rata-rata untuk mendirikan satu gerai baru saat ini berada di kisaran Rp1 miliar.

Sesuai rencana, porsi di atas 50% dari pembukaan toko baru tersebut bakal dipusatkan ke wilayah luar Pulau Jawa. 

Pihak manajemen mencermati adanya pergeseran tren pertumbuhan sektor ritel modern dalam lima tahun belakangan, di mana pertumbuhan bergerak dari kawasan Jabodetabek menuju berbagai wilayah di luar Pulau Jawa yang tingkat penetrasi pasar ritelnya masih tergolong rendah.

Selama periode semester I/2026, Alfamart terpantau sudah mengoperasikan sekitar 167 gerai baru, sedangkan Alfamidi menambah 42 toko. Sebagai perbandingan, di sepanjang tahun 2025 yang lalu, kelompok usaha Alfamart, Alfamidi, serta Dan+Dan secara akumulatif telah mendirikan 1.057 toko baru. 

Memasuki triwulan pertama tahun ini saja, grup ini telah mengoperasikan tambahan 211 gerai baru dan mematok target total pembukaan toko sepanjang 2026 bisa melewati pencapaian tahun sebelumnya.

Langkah ekspansif ini tetap dijalankan di tengah berbagai hambatan industri ritel, mulai dari tekanan pada daya beli masyarakat, pelemahan kurs rupiah, hingga risiko kenaikan harga pasokan dari pihak mitra/pemasok. 

Meski begitu, manajemen tetap menaruh optimisme bahwa pertambahan jaringan toko akan menjadi motor penggerak utama bagi performa keuangan perusahaan pada tahun ini.

Belum Mengubah Target

Walau dibayangi oleh situasi daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, depresiasi mata uang rupiah, serta ancaman kenaikan harga produk dari pemasok, manajemen tetap percaya diri mampu menjaga tren pertumbuhan kinerja di tahun ini. 

Tomin tidak menampik bahwa dinamika yang membayangi industri ritel pada 2026 tergolong berat. Namun, hingga kini perusahaan masih memegang teguh target usaha yang sudah disusun dan belum menetapkan adanya perubahan anggaran belanja.

"Kami masih stick dengan budget and belum melakukan adjustment. Walaupun banyak tantangan, kami masih mengupayakan yang terbaik untuk bisa mencapai target-target tersebut," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Walaupun tidak memaparkan secara rinci mengenai proyeksi angka pendapatan atau laba bersih, pihak manajemen menargetkan capaian tahun ini setidaknya tidak berada di bawah realisasi tahun sebelumnya.

"Yang bisa saya sampaikan, kami mengupayakan hasil yang lebih baik dibandingkan 2025," sebagaimana dilansir dari berita sumber yang menjadi penutup penjelasan Tomin.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua