Harga Minyak Dunia Terjun 3 Persen ke Level Terendah dalam Tujuh Pekan

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Rabu, 10 Juni 2026
Harga Minyak Dunia Terjun 3 Persen ke Level Terendah dalam Tujuh Pekan
Ilustrasi KIlang Minyak. (Sumber Gambar: net)

JAKARTA  – Harga minyak dunia merosot sekitar 3% pada perdagangan Selasa (9/6/2026), mencapai posisi terendah dalam tujuh pekan terakhir. 

Pelemahan ini terjadi usai Iran dan Israel menyatakan menyudahi aksi serang terhadap satu sama lain mengikuti desakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump guna meredakan ketegangan.

Dilansir dari Reuters, harga minyak mentah jenis Brent ditutup menyusut US$ 2,80 (3%) ke level US$ 91,45 per barel. 

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS anjlok US$ 3,10 (3,4%) ke posisi US$ 88,20 per barel.

Penutupan ini menjadi titik terendah bagi Brent sejak 17 April dan bagi WTI sejak 29 Mei. Malahan, untuk pertama kalinya sejak Januari, harga Brent berakhir di bawah level rata-rata pergerakan 100 hari (100-day moving average), yang selama ini menjadi zona sokongan teknikal krusial.

Analis Ritterbusch and Associates berpendapat, pasar minyak saat ini mulai memangkas premi risiko geopolitik seiring meningkatnya ekspektasi tercapainya gencatan senjata antara Iran dan Israel.

"Pasar minyak bergerak lebih lower karena konflik terbaru antara Israel dan Iran mulai mereda. Selain itu, pernyataan Donald Trump mengenai kemungkinan berakhirnya perang dalam dua hingga tiga hari melalui proses negosiasi juga memberikan tekanan terhadap harga minyak," tulis Ritterbusch dalam laporannya.

Pada awal pekan ini, Iran dan Israel menyetop gempuran langsung setelah Trump mengimbau kedua negara untuk menahan diri. 

Kendati begitu, Teheran memberikan peringatan akan meluncurkan kembali serangan sekiranya Israel melanjutkan operasi militernya terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon.

Di tengah meredanya ketegangan, hambatan pada jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap menjadi sorotan pasar. 

Sebelum konflik meletus, kurang lebih seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) global melewati kawasan strategis tersebut.

Menteri Energi AS Chris Wright menuturkan, lalu lintas kapal dan ekspor minyak melalui Selat Hormuz mulai merangkak naik kendati negosiasi antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri perang yang telah bergulir lebih dari tiga bulan masih berjalan alot.

Impor Minyak China Melemah

Dari aspek permintaan, pasar juga terbebani oleh lesunya impor minyak China. Impor minyak mentah negara tersebut pada Mei anjlok 29% dan menjadi yang paling rendah dalam delapan tahun terakhir. 

Penurunan di negara importir minyak terbesar sejagat itu dinilai ikut membatasi ruang penguatan harga minyak global.

Sementara itu, Administrasi Informasi Energi AS (Energy Information Administration/EIA) memproyeksikan konflik Iran akan memangkas produksi minyak dunia pada 2026 menjadi rata-rata 99 juta barel per hari (bph), turun dari rekor 106,1 juta bph pada 2025.

EIA juga memprediksi, permintaan minyak global menyusut menjadi 102,9 juta bph pada 2026 dari rekor 104 juta bph pada tahun sebelumnya.

Berdasarkan analisis EIA, kebutuhan pasokan yang tidak terpenuhi kemungkinan besar akan diambil dari cadangan minyak yang tersimpan, sehingga persediaan minyak negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) berpotensi melorot ke level terendah sejak setidaknya 2003.

Para pelaku pasar saat ini menantikan rilis laporan persediaan minyak mingguan dari American Petroleum Institute (API) dan EIA yang akan dipublikasikan dalam beberapa hari ke depan.

Sejumlah analis memproyeksikan, perusahaan energi AS menarik berkisar 4 juta barel minyak mentah dari penyimpanan sepanjang pekan yang berakhir 5 Juni.

Apabila hal tersebut terealisasi, maka akan menjadi penurunan stok minyak mingguan selama tujuh pekan berturut-turut untuk pertama kalinya sejak Januari 2025.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua