IBM: AI Berpotensi Sokong 50 Persen Bisnis Digital Asia Pasifik

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Jumat, 12 Juni 2026
IBM: AI Berpotensi Sokong 50 Persen Bisnis Digital Asia Pasifik
Wamen, Nezar Patria. (Foto: komdigi.go.id)

JAKARTA – Tren pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di sektor korporasi domestik kini mengalami pergeseran. 

Teknologi tersebut tidak lagi sekadar menjadi alat bantu untuk mendongkrak produktivitas, tetapi telah berevolusi menjadi sistem yang mampu menyelesaikan tugas serta mengambil keputusan secara mandiri. 

Perubahan tren ini mendorong perusahaan teknologi global, IBM, memperkenalkan berbagai solusi berbasis Agentic AI untuk membantu korporasi mempercepat transformasi bisnis mereka.

General Manager IBM Asia Pacific, Hans Dekkers menilai bahwa Indonesia mempunyai prospek yang sangat cerah dalam mendayagunakan Agentic AI sebagai motor penggerak ekspansi bisnis baru.

Perangkat digital ini dinilai andal dalam membantu korporasi meningkatkan efisiensi kerja, mendorong inovasi secara lebih lincah, hingga memperkuat proses pengambilan kebijakan berbasis data. "Agentic AI dapat menjadi pendorong fase pertumbuhan berikutnya dengan membantu organisasi bekerja lebih cerdas, berinovasi lebih cepat, dan berkembang secara bertanggung jawab," ujar Hans sebagaimana dilansir dari berita sumber saat menghadiri agenda IBM AI Leadership Exchange di Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Menurut penjelasan Hans, perkembangan AI di kawasan Asia Pasifik akan menjadi salah satu faktor krusial dalam mendongkrak nilai ekonomi digital beberapa tahun ke depan.

Pihak IBM memprediksi sekitar 50% dari nilai bisnis digital baru di Asia Pasifik pada tahun 2030 mendatang akan ditopang oleh pemanfaatan teknologi AI.

Kondisi yang sama kini mulai terlihat di Indonesia. Berdasarkan data IBM CEO Study 2026, sebanyak 90% CEO di Indonesia telah mengintegrasikan AI ke dalam setiap alur operasional kerja perusahaan mereka.

Selain itu, sekitar 80% CEO menilai AI telah mengubah strategi perusahaan dalam menentukan pilar utama bisnis mereka, dan ada 65% pemimpin yang menyatakan tidak ragu mengambil kebijakan strategis dengan memanfaatkan insight yang dihasilkan oleh AI.

Seiring dengan semakin luasnya adopsi AI, dunia korporasi kini juga mulai dihadapkan pada berbagai tantangan baru, mulai dari tata kelola data, sistem keamanan, hingga proses integrasi teknologi tersebut ke dalam sistem inti bisnis.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, menilai bahwa sinergi yang kuat antara pemerintah, pelaku industri, dan akademisi merupakan kunci utama untuk mempercepat penerapan AI yang memberikan dampak nyata bagi sektor perekonomian.

Menurut penjelasan Nezar, pemerintah Indonesia saat ini sedang menyusun draf peta jalan kecerdasan buatan nasional. 

Langkah tersebut ditujukan untuk membangun ekosistem AI yang mengedepankan etika dan aspek tanggung jawab, sekaligus meningkatkan daya saing bangsa di tingkat global.

"Kolaborasi seperti ini penting untuk mendorong implementasi dan inovasi AI yang lebih nyata di Indonesia serta memperkuat posisi Indonesia dalam perkembangan AI global," tutur Nezar sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di sektor korporasi sendiri, pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan ini juga mulai diterapkan untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mempercepat proses pengambilan keputusan.

Executive Vice President Bank Central Asia (BCA), Jayaprawirya Diah mengungkapkan bahwa adopsi teknologi dari IBM sangat membantu pihak perbankan dalam menjaring insight bisnis yang jauh lebih mendalam sekaligus menaikkan efektivitas kerja operasional.

Salah satu inovasi terbaru yang dihadirkan oleh IBM adalah IBM Bob, sebuah platform untuk perancangan perangkat lunak berbasis Agentic AI yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan skala korporasi.

Platform ini dilengkapi kemampuan untuk mengintegrasikan berbagai model AI sekaligus memilih model yang paling optimal secara otomatis dengan mempertimbangkan aspek biaya, kinerja, hingga faktor keamanan.

IBM mengklaim bahwa platform inovatif ini telah digunakan oleh lebih dari 80.000 karyawan mereka di seluruh dunia dan terbukti mampu meningkatkan produktivitas rata-rata hingga 45%.

Bersamaan dengan itu, IBM juga meluncurkan IBM Sovereign Core, sebuah platform yang dihadirkan khusus untuk memudahkan korporasi maupun lembaga pemerintah dalam mengelola proteksi keamanan, kepatuhan regulasi, tata kelola data, serta aktivitas operasional AI dalam satu wadah sistem yang terintegrasi.

Berdasarkan analisis IBM, permintaan pasar terhadap pilihan solusi digital terintegrasi seperti ini diproyeksikan akan terus meningkat ke depannya, sejalan dengan semakin banyaknya sektor usaha yang mengintegrasikan AI ke dalam inti operasional bisnis mereka.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua