Harga Bitcoin Ambles Imbas Sinyal Hawkish Suku Bunga The Fed
JAKARTA – Nilai Bitcoin (BTC) merosot pada Kamis (18/6/2026) pagi, seusai The Fed mempertahankan tingkat suku bunga acuan, namun memberikan indikasi yang cenderung lebih hawkish mengenai arah kebijakan moneter ke depan.
Meningkatnya ekspektasi suku bunga, lompatan imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat (AS), serta penguatan mata uang dolar menjadi pemicu utama yang memberatkan laju pasar kripto.
Berdasarkan data CoinMarketCap pada pukul 06.45 WIB, nilai kapitalisasi pasar kripto global jatuh 1,52% menuju posisi US$ 2,22 triliun. Di saat yang sama, harga Bitcoin (BTC) terkoreksi 1,96% menuju level US$ 64.369 per koin atau setara Rp 1,15 miliar (mengacu kurs Rp 17.920 per dolar AS).
Indeks CoinDesk 20 yang menggambarkan performa dari 20 aset kripto terbesar terpangkas sebesar 2,24%. Ethereum merosot 2,52% ke posisi US$ 1.745, Binance (BNB) menyusut 0,7% menuju US$ 601, XRP turun 2,77% ke level US$ 1,18, Solana (SOL) terkoreksi 2,28% menjadi US$ 71,89, dan Dogecoin (DOGE) melemah 1,67% ke posisi US$ 0,08.
Dikutip dari Tradingview, nilai Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan penurunan setelah The Fed memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuannya, akan tetapi memberikan indikasi yang lebih hawkish terkait proyeksi kebijakan moneter ke depan.
Dalam pertemuan teranyar yang dinakhodai oleh Ketua The Fed Kevin Warsh, tingkat suku bunga acuan ditahan pada kisaran 3,50%-3,75%. Walakin, para pelaku pasar menangkap indikasi bahwa peluang kenaikan suku bunga untuk periode mendatang saat ini terhitung lebih besar ketimbang opsi pemangkasan.
Sentimen tersebut seketika menekan pergerakan beraneka macam aset berisiko. Bitcoin terpangkas sekitar 1,6% mengarah ke kisaran US$ 64.600 dan kembali masuk ke dalam area mendatar yang selama ini menjadi wilayah perebutan antara kubu pembeli dan penjual.
Tekanan koreksi juga melanda bursa saham AS. Indeks S&P 500 bersama Nasdaq kompak melemah di atas 1%, sedangkan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS untuk jangka waktu dua tahun melompat hingga posisi 4,19%.
Meningkatnya ekspektasi suku bunga menjadi aspek mendasar yang membebani laju Bitcoin. Di kala suku bunga dan yield obligasi merangkak naik, para penanam modal cenderung menggeser modal mereka ke dalam instrumen yang menjanjikan tingkat pengembalian hasil yang lebih pasti.
Sebaliknya, Bitcoin tidak membagikan bunga ataupun dividen sehingga daya pikatnya relatif mengalami penurunan di saat biaya peluang (opportunity cost) mengalami peningkatan.
Pelaku pasar saat ini memproyeksikan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada periode Juli mendatang merangkak naik menuju kisaran 28%, dari yang sebelumnya hanya berada di angka 8% sebelum pengumuman kebijakan dirilis.
Untuk periode akhir tahun, tingkat probabilitas pengerekan suku bunga diestimasikan menembus kisaran 80%.
Di samping tekanan dari faktor suku bunga, keperkasaan dolar AS ikut menjadi sentimen negatif bagi Bitcoin serta aset kripto lainnya.
Sikap hawkish dari The Fed memicu para investor untuk memburu mata uang dolar AS, sehingga kondisi likuiditas yang lazimnya mengalir masuk ke aset berisiko menjadi semakin terbatas.
Kendati demikian, koreksi pada Bitcoin kali ini terhitung relatif landai lantaran sebagian besar pelaku pasar telah mengantisipasi pergeseran sikap dari The Fed tersebut sejak beberapa pekan belakangan.
Para pelaku pasar kini menanti jalannya pertemuan The Fed selanjutnya pada bulan Juli. Arah pergerakan inflasi AS, tingkat harga energi, serta kondisi pertumbuhan ekonomi global akan menjadi instrumen penting yang menentukan apakah peluang pengerekan suku bunga akan berjalan semakin kuat atau malah kembali mereda.
Untuk periode saat ini, perpaduan antara tingkat suku bunga yang tinggi, keperkasaan dolar AS, serta lonjakan yield obligasi menjadi tiga aspek utama yang menahan laju pergerakan Bitcoin dalam jangka pendek.