Harga Emas Dunia Turun Tipis Akibat Sinyal Hawkish The Fed

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Kamis, 18 Juni 2026
Harga Emas Dunia Turun Tipis Akibat Sinyal Hawkish The Fed
Ilustrasi Emas Batangan. (Foto: net)

NEW YORK - Nilai emas dunia berbalik terkoreksi pada akhir sesi perdagangan Rabu (17/6/2026) waktu setempat atau Kamis (18/6/2026) pagi WIB, seusai bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) menangguhkan perubahan suku bunganya. The Fed turut mengindikasikan masih terbukanya peluang pengerekan suku bunga acuan pada tahun ini.

Merujuk laporan Reuters, harga emas spot menyusut 0,7 persen menuju level 4.299,89 dollar AS per ons. Kendati demikian, kontrak emas berjangka AS terpantau menguat 0,6 persen ke posisi 4.381,40 dollar AS per ons.

The Fed menetapkan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan pada rentang 3,50 persen-3,75 persen. Namun, estimasi teranyar memperlihatkan bahwa 9 dari 19 perumus kebijakan The Fed berpandangan suku bunga masih perlu dikerek kembali pada tahun ini. 

Indikasi itu memicu keperkasaan dollar AS sekaligus menekan nilai emas lantaran komoditas logam mulia tersebut menjadi lebih tinggi bagi para pembeli yang bertransaksi dengan mata uang lainnya.

Dalam agenda konferensi pers pertamanya seusai menakhodai rapat kebijakan moneter selaku Ketua The Fed, Kevin Warsh mempublikasikan pendirian lima gugus tugas yang ditujukan guna mengevaluasi beraneka ragam aspek operasional kebijakan bank sentral.

“Ini adalah The Fed yang baru. Warsh terlihat tajam, percaya diri, dan energik. Ia akan menjadi pengelola, bukan sekadar penjaga institusi. Pesan yang disampaikan adalah perubahan akan datang, tetapi setelah melalui pertimbangan yang matang,” kata pedagang logam independen Tai Wong.

Berdasarkan penilaian Wong, ungkapan Warsh terkait suku bunga mengindikasikan posisi yang cenderung lebih hawkish bila disejajarkan dengan pejabat terdahulu, Jerome Powell.

“Dia juga mengatakan dua kali, bahwa menurutnya suku bunga saat ini hanya bersifat membatasi di sektor perumahan. Itu membuat posisinya lebih hawkish dibandingkan Powell. Saya kira itulah yang mendorong pelemahan pasar. Pernyataan resmi dan proyeksi suku bunga sama-sama bernada hawkish dan Warsh tidak berusaha meredam pesan tersebut,” papar Wong.

Mengacu pada CME FedWatch Tool, para pelaku pasar saat ini memproyeksikan peluang pengerekan suku bunga oleh The Fed pada Desember 2026 menyentuh kisaran 78 persen, merangkak naik dari posisi 61 persen sebelum publikasi putusan bank sentral dirilis.

Di samping faktor keperkasaan dollar AS, nilai minyak mentah yang masih bertengger di level tinggi ikut merawat kekhawatiran atas inflasi di pasar. Situasi tersebut mempertebal ekspektasi bahwa tingkat suku bunga acuan bakal tetap bertengger tinggi dalam kurun waktu yang lebih lama.

Walaupun emas lazim ditempatkan sebagai aset lindung nilai (safe haven) guna menangkal inflasi, komoditas logam mulia ini cenderung tertekan di kala suku bunga menanjak karena tidak membagikan imbal hasil layaknya instrumen pasar keuangan lainnya.

Pada pekan lalu, harga emas sempat terjerembap ke level paling rendah dalam kurun lebih dari enam bulan seusai perselisihan Iran memicu kecemasan inflasi serta memperbesar spekulasi pengerekan suku bunga. 

Di sudut lain, Presiden AS Donald Trump mengutarakan bahwa kesepakatan yang diraih bersama Iran pada pekan ini belum berkekuatan final. Ia juga menegaskan dapat kembali menggelar gempuran militer seandainya tidak sreg dengan hasil akhir pakta tersebut.

Pada sesi perdagangan logam mulia lainnya, harga perak spot merosot 1,1 persen ke posisi 69,41 dollar AS per ons. Sementara itu, platinum jatuh sebesar 2 persen menuju 1.768,03 dollar AS per ons dan palladium terkoreksi 1,1 persen ke level 1.336,91 dollar AS per ons.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua