Sentimen Damai AS-Iran Dongkrak Wall Street, Nasdaq Naik 1,91 Persen

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Jumat, 19 Juni 2026
Sentimen Damai AS-Iran Dongkrak Wall Street, Nasdaq Naik 1,91 Persen
Sentimen Damai AS-Iran Dongkrak Wall Street, Nasdaq Naik 1,91 Persen. (FOTO:Dok Laman Investing)

NEW YORK – Papan bursa utama Wall Street berakhir di zona hijau pada sesi perdagangan Kamis (18/6/2026), disokong oleh melesatnya harga saham di sektor semikonduktor seiring membaiknya atmosfer optimisme para pemodal. 

Dinamika positif ini bergulir setelah pihak Amerika Serikat dan Iran menyepakati penandatanganan rekonsiliasi damai temporer yang sukses meredam kecemasan terhadap inflasi akibat fluktuasi harga energi global.

Indeks Nasdaq tampil memimpin laju penguatan dengan meroket 1,91% menuju level 26.517,93. Di saat yang sama, indeks S&P 500 terkerek naik 1,08% ke posisi 7.500,58 serta Dow Jones Industrial Average ikut bertambah 0,14% menjadi 51.564,70.

Suntikan sentimen positif utamanya bersumber dari industri semikonduktor, di mana Indeks Philadelphia Semiconductor melaju pesat 6,4% dan sukses mengungguli performa pasar secara umum. 

Lonjakan ini dipicu oleh saham Intel yang berakhir menguat 10,6% pasca-pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mempublikasikan bahwa Apple telah sepakat menjalin kemitraan dengan Intel guna merancang sekaligus memproduksi komponen chip di dalam negeri Amerika Serikat.

Para pelaku pasar pun menyambut baik progres positif dari diplomasi hubungan AS dan Iran yang menekan harga minyak mentah meluncur ke level terendah sejak periode awal Maret. 

Kedua belah negara telah mengesahkan pakta perjanjian sementara yang memperpanjang masa gencatan senjata April selama 60 hari ke depan demi membuka ruang negosiasi menuju kesepakatan yang lebih permanen.

Meredanya tensi politik tersebut sukses mengikis kekhawatiran para investor terhadap laju inflasi yang sebelumnya sempat merangkak naik imbas dari lonjakan harga minyak bumi sejak pecahnya konflik pada akhir Februari silam. 

Aktivitas logistik pelayaran yang melewati Selat Hormuz pun dilaporkan mulai bergulir normal kembali setelah sempat mengalami gangguan selama masa ketegangan berlangsung.

“Secara keseluruhan, paket data yang ada masih mendukung pasar meskipun The Fed kini terlihat sedikit lebih hawkish,” kata Chief Investment Officer SignatureFD, Tony Welch, sebagaimana dilansir dari sumber berita. 

Pembalikan arah menguat di lantai bursa ini terealisasi sehari setelah Wall Street sempat didera tekanan akibat statemen Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, yang memberikan penegasan mengenai signifikansi kebijakan pengendalian inflasi.

Pernyataan dari otoritas tersebut memicu para pelaku pasar untuk mengalkulasi bahwa peluang penyesuaian naik suku bunga acuan masih terbuka lebar pada tahun ini. 

Menilik data FedWatch CME Group, publik pasar memproyeksikan probabilitas berkisar 50% untuk skenario kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September mendatang, sementara peluang untuk dongkrakkan sebesar 50 basis poin diprediksi berada di sekitar angka 20%.

Chief Equity and Macro Strategist Cantor, Eric Johnston, memberikan pandangan bahwa perkembangan paling gres memperlihatkan bank sentral kini mengantongi kredibilitas yang jauh lebih kuat dalam urusan meredam inflasi. 

Dari total 11 sektor utama yang bernaung di dalam S&P 500, lima sektor sukses bertengger di zona hijau dengan sektor teknologi tampil memimpin penguatan sebesar 2,7% diikuti oleh sektor consumer discretionary sebanyak 1,8%.

Saham-saham yang berkaitan dengan industri perjalanan ikut terapresiasi sejalan dengan proyeksi melandainya harga bahan bakar, sehingga ikut menyokong reli saham maskapai penerbangan serta emiten pengelola kapal pesiar. Indeks Dow Jones Transport pun terekam membukukan kenaikan sebesar 0,5%.

Indeks saham lapis bawah berkapitalisasi mikro Russell 2000 ikut terkerek naik 2% sekaligus mencetak rekor harga penutupan tertinggi yang baru. 

Publikasi data makroekonomi turut menyuguhkan angin segar setelah Departemen Tenaga Kerja AS merilis laporan bahwa kuantitas klaim tunjangan pengangguran mingguan mengalami penurunan, yang merefleksikan bahwa intensitas pemutusan hubungan kerja (PHK) masih tergolong minim.

Kendati begitu, tidak seluruh sektor sanggup mencatatkan performa positif lantaran indeks sektor perangkat lunak dan layanan S&P 500 justru tergelincir turun 0,7% menuju level terendahnya dalam kurun dua bulan terakhir. 

Penurunan di sektor ini terjadi usai saham Accenture ambruk hingga 18% imbas dari langkah manajemen memangkas batas atas proyeksi pendapatan tahunannya.

Tekanan jual terpantau ikut merembet ke korporasi sejenis, di mana saham Cognizant Technology Solutions, Gartner, serta IBM tergerus antara rentang 4,5% dan 10,5%. 

Pada sektor ritel, saham Kroger melemah sebesar 8,4% pasca-perusahaan melaporkan perolehan laba kuartal pertama yang berada di bawah ekspektasi pasar serta memilih mempertahankan proyeksi tahunan tanpa adanya perubahan.

Saham SpaceX kepunyaan Elon Musk terpangkas 3,6% untuk hari kedua secara berturut-turut setelah sempat menorehkan reli masif pada awal debut perdananya pekan lalu. 

Volume transaksi perdagangan di bursa AS melonjak tajam hingga menyentuh angka 33,59 miliar saham, berada jauh di atas posisi rata-rata 20 hari perdagangan terakhir yang berada di kisaran 21,83 miliar saham.

Eskalasi aktivitas transaksi yang masif ini juga turut dipengaruhi oleh momentum habisnya masa kontrak instrumen derivatif saham, opsi indeks, serta kontrak berjangka secara simultan atau yang populer dengan istilah "triple witching". 

Fenomena berkala ini jamaknya memang memicu lonjakan volume perdagangan sekaligus meningkatkan volatilitas di pasar keuangan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua