Investor Asing Gencar Jual Bersih, Saham BBCA Paling Banyak Dilepas

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Selasa, 30 Juni 2026
Investor Asing Gencar Jual Bersih, Saham BBCA Paling Banyak Dilepas
Gedung BCA. (Foto: net)

JAKARTA – Penanam modal asing terlihat terus memperbesar aksi jual bersih di Bursa Efek Indonesia pada Senin (29/6/2026). Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjadi instrumen yang paling gencar dilepas oleh pihak luar negeri.

Angka jual bersih asing di seluruh pasar tercatat menyentuh Rp 881,59 miliar pada transaksi hari ini. Berdasarkan rilis data Bursa Efek Indonesia, akumulasi jumlah jual bersih asing di sepanjang tahun berjalan saat ini meroket menjadi Rp 72,5 triliun.

Pada pasar reguler, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menorehkan aksi jual bersih asing paling besar dengan nominal Rp 423,6 miliar. Di samping itu, pemodal asing juga melepas saham PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) senilai Rp 97,8 miliar.

Di pihak lain, investor asing malah mencatatkan beli bersih paling besar pada saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dengan nilai Rp 55,8 miliar.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir turun 75,3 poin atau 1,28% menuju level 5.820,7 pada perdagangan hari ini. 

Dinamika pasar memperlihatkan 228 saham bergerak naik, 467 saham melemah, dan 264 saham bergerak mendatar dengan keseluruhan nilai transaksi mencapai Rp 8,7 triliun.

Hanya sektor properti yang sanggup bertahan di zona hijau dengan penguatan sebesar 0,7%. 

Sebaliknya, bidang infrastruktur menderita penurunan paling dalam sebesar 1,5%, mengekor di belakangnya sektor barang baku 1,4%, keuangan 1,1%, transportasi 0,9%, barang konsumen primer 0,8%, barang konsumen nonprimer 0,7%, dan energi 0,4%.

Sektor kesehatan pun ikut menyusut 0,37%, bidang teknologi 0,35%, serta sektor perindustrian sebesar 0,31%.

"Pelemahan IHSG pada awal pekan dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global akibat memanasnya kembali konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta sikap wait and see investor terhadap berbagai perkembangan di dalam negeri," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Keadaan ini dipicu oleh aksi Amerika Serikat yang menggempur fasilitas militer Iran setelah terjadinya insiden di Selat Hormuz. 

Situasi semakin tertekan usai Presiden Amerika Serikat Donald Trump melayangkan ancaman bakal meluncurkan aksi yang lebih agresif terhadap pihak Iran.

"Dari dalam negeri, tekanan terhadap IHSG juga dipicu sikap hati-hati investor yang masih mencermati arah kebijakan pemerintah, perkembangan transparansi pasar modal, serta belum konsistennya aliran dana asing yang kembali masuk ke pasar saham Indonesia," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Di luar aspek tersebut, para pelaku pasar kini tengah menunggu publikasi data ekonomi krusial minggu ini. Indikator yang dinantikan utamanya menyangkut angka inflasi serta performa neraca perdagangan Indonesia.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua