Optimistis, Martina Berto Incar Lonjakan Penjualan 24,8 Persen di 2026

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Jumat, 03 Juli 2026
Optimistis, Martina Berto Incar Lonjakan Penjualan 24,8 Persen di 2026
PT Martina Berto Tbk (MBTO), emiten produk kosmetik Martha Tilaar Group. (Foto: net)

JAKARTA – Emiten kosmetik dari Grup Martha Tilaar, PT Martina Berto Tbk. (MBTO), merasa sangat optimistis bahwa prospek pertumbuhan industri kecantikan di tanah air akan tetap kokoh, walaupun daya beli masyarakat saat ini belum pulih sepenuhnya. 

Pihak perseroan menilai adanya fenomena lipstick effect serta kenaikan kesadaran publik terhadap kesehatan dan kecantikan bakal menjadi pendorong utama yang menjaga permintaan produk kosmetik serta perawatan diri tetap tinggi.

Adapun fenomena lipstick effect sendiri merupakan sebuah kecenderungan di mana konsumen tetap membeli barang-barang kecil yang dapat memberikan rasa nyaman atau bentuk penghargaan bagi diri sendiri di kala situasi ekonomi sedang sulit. 

Produk yang dibeli umumnya bukan termasuk kebutuhan pokok, namun harganya dinilai masih cukup terjangkau.

Direktur Utama Martina Berto, Bryan David Emil, berpendapat bahwa fenomena lipstick effect ini berpeluang untuk terus berlanjut. Oleh karena itu, perseroan berupaya memanfaatkan peluang tersebut dengan memperkuat portofolio produk yang dimiliki.

"Lipstick effect bisa saja bersifat sementara, tetapi juga bisa berlangsung lebih panjang. Kami selalu ingin mengambil peluang itu," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber pada Kamis (2/7/2026).

Di samping itu, ia menyampaikan bahwa industri kecantikan saat ini posisinya sudah semakin mendekati kebutuhan primer, khususnya bagi kaum perempuan. 

Menurut pandangannya, nilai dari industri kecantikan masih sanggup tumbuh di kisaran rata-rata 7% hingga 9% saban tahunnya dengan potensi ekspansi yang masih terbuka lebar, terutama untuk wilayah di luar Pulau Jawa.

"Prospek industri kecantikan sangat baik. Konsumen tetap memiliki daya beli meski tidak luar biasa. Selain itu, masyarakat semakin sadar akan pentingnya beauty dan wellness, didukung berkembangnya pengalaman berbelanja secara online maupun offline, serta pertumbuhan ritel modern dan general trade," imbuhnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Manajemen perseroan menambahkan, mereka juga melihat bahwa segmen kosmetik dan personal care untuk pria sudah mulai tumbuh dan punya potensi besar untuk menjadi sumber pertumbuhan baru dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan.

Memanfaatkan optimisme yang ada, MBTO mematok target penjualan bersih atau top line untuk sepanjang tahun 2026 berada di angka Rp501 miliar, atau melonjak sekitar 24,8% jika dibandingkan dengan hasil audit pada tahun 2025. Di sisi lain, laba bersih atau bottom line diharapkan mampu menyentuh angka Rp24,8 miliar.

Capaian target tersebut nantinya akan disokong oleh kenaikan angka penjualan di bermacam kategori produk, mulai dari make up, skin care, body care, hair care, hingga produk jamu. 

Perseroan pun turut bertumpu pada kontribusi dari unit usaha manufaktur mereka yaitu PT Cedefindo, Martha Tilaar Shop, jaringan ritel modern, toko fisik, penjualan secara daring, serta pasar digital (marketplace).

Bukan hanya memperluas jangkauan pasar, MBTO juga konsisten menajamkan strategi pada segmen masstige atau produk premium yang dibanderol dengan harga tetap ramah di kantong. 

Langkah ini diklaim sudah berjalan selama lebih dari sepuluh tahun melalui beberapa merek andalan, seperti Biokos Martha Tilaar dan Sariayu Martha Tilaar. 

Sedangkan untuk menyasar pasar premium, perseroan menyediakan Professional Artist Cosmetics Martha Tilaar serta Dewi Sri Spa Martha Tilaar.

"Semakin menyasar kelas menengah atas dan atas, margin per unit semakin baik. Di segmen bawah margin relatif tipis sehingga membutuhkan volume yang besar, sedangkan produk premium memberikan nilai yang lebih tinggi," jelasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Walaupun tidak menampik bahwa tingkat persaingan di industri kosmetik kian ketat seiring bermunculannya para pemain baru, MBTO memilih langkah cerdas dengan merangkul sebagian kompetitor untuk dijadikan mitra bisnis melalui unit manufakturnya, PT Cedefindo.

"Kami tidak melihat pesaing sebagai musuh. Banyak merek juga memproduksi produknya di fasilitas Cedefindo sehingga kami memperoleh pendapatan baik dari penjualan produk sendiri maupun jasa manufaktur," kata Bryan sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di tengah situasi melemahnya nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, pihak MBTO menyatakan bakal memperketat strategi efisiensi demi mengamankan margin keuntungan. 

Kebijakan penyesuaian harga barang pun akan diterapkan secara selektif dengan tetap memprioritaskan daya saing produk di pasar.

Sementara itu, performa keuangan MBTO pada kuartal I/2026 memperlihatkan adanya pemulihan yang sangat berarti. 

Perseroan sukses meraup penjualan neto hingga Rp113,06 miIiar (mengalami pertumbuhan sebesar 23,91% secara year on year) dan berhasil mengantongi laba bersih senilai Rp14,93 miIiar, berbalik positif dari kondisi rugi bersih sebesar Rp967,43 juta pada periode yang sama di tahun sebelumnya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua