Proyeksi Rupiah Pekan Depan: Intip Pemicu Fluktuasi Mata Uang

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Minggu, 05 Juli 2026
Proyeksi Rupiah Pekan Depan: Intip Pemicu Fluktuasi Mata Uang
Suasana penukaran mata uang dolar Amerika ke mata uang rupiah. (Foto: B-Universe)

JAKARTA - Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau masih berfluktuasi pada kisaran Rp 17.900 per dolar AS. 

Walaupun sanggup melaju positif saat penutupan transaksi akhir pekan, laju mata uang Garuda tetap dibayangi oleh kombinasi sentimen eksternal serta domestik yang berpotensi memperpanjang volatilitasnya.

Merujuk pada data Bloomberg, mata uang rupiah di pasar spot menyudahi perdagangan dengan penguatan 0,18% ke posisi Rp 17.963 per dolar AS pada Jumat (3/7), menguat dari posisi hari sebelumnya di level Rp 17.995 per dolar AS. 

Sepanjang pekan ini, level Rp 17.995 per dolar AS yang menyentuh pasar pada Kamis (2/7/2026) menjadi titik terendah bagi pelemahan rupiah.

Apresiasi rupiah juga terlihat lewat kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. 

Nilai tukar acuan tersebut menguat 0,19% ke angka Rp 17.960 per dolar AS dari rekam sebelumnya Rp 17.994 per dolar AS. Menurut penilaian pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi, performa positif rupiah di akhir pekan ini utamanya dipicu oleh perpaduan aspek global maupun domestik.

"Pergerakan rupiah masih sangat dipengaruhi sentimen global, terutama arah kebijakan suku bunga The Fed dan perkembangan geopolitik di Timur Tengah," ujar Ibrahim, Jumat (3/7/2026).

Melihat aspek eksternal, fokus pelaku pasar saat ini terarah pada kelanjutan proses negosiasi antara Amerika Serikat dengan Iran. Presiden AS Donald Trump mengungkapkan rasa optimistis bahwa Teheran telah menyepakati hampir seluruh klausul krusial dalam perundingan tersebut.

Namun demikian, informasi dari Wall Street Journal menyebutkan bahwa pihak Teheran menampik usulan mengenai Selat Hormuz sebagai kompensasi atas pencairan dana aset mereka yang dibekukan. 

Kondisi tersebut memicu risiko geopolitik tetap menghantui pasar uang global, walaupun tensi kecemasan seputar kendala suplai minyak bumi dunia mulai mereda. 

Para investor saat ini tengah menanti hasil terbaru dari dialog AS-Iran sekaligus memantau prospek serapan minyak global.

Di luar isu geopolitik, melemahnya dolar AS turut dipicu oleh rilis data sektor ketenagakerjaan Amerika Serikat yang berada di bawah ekspektasi pasar.

Data Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat (BLS) memaparkan ekonomi AS cuma mampu mencetak 57.000 lapangan kerja baru di bulan Juni, merosot tajam dari prediksi pasar yang mematok 110.000. Sementara itu, capaian bulan Mei dipangkas ke bawah menjadi 129.000 dari rilis sebelumnya 172.000.

Di pihak lain, angka pengangguran melandai tipis ke posisi 4,2% dari 4,3%. Untuk rata-rata upah per jam terjadi kenaikan 0,3% secara bulanan serta 3,5% secara tahunan, yang mana hasil ini sejalan dengan ekspektasi pasar. 

Berdasarkan pandangan Ibrahim, data ketenagakerjaan tersebut semakin mengonfirmasi anggapan bahwa celah bagi Federal Reserve (The Fed) untuk kembali mendongkrak suku bunga kian menyusut. 

Ibrahim memaparkan jika merujuk CME FedWatch Tool, peluang bagi kenaikan suku bunga The Fed pada bulan September nanti melorot ke angka 51% dari data sebelumnya yang menyentuh 63%.

Menyoroti aspek domestik, Ibrahim berpendapat bahwa melambatnya laju pertumbuhan pos penerimaan pajak penghasilan berisiko memberikan pengaruh terhadap pandangan pelaku pasar mengenai potret fiskal di Indonesia. 

Berkaca pada laporan OECD Revenue Statistics in Asia and the Pacific 2026, realisasi penerimaan negara dari pajak penghasilan, laba, serta keuntungan modal pada tahun 2024 terkumpul senilai Rp 1.061,94 triliun. 

Angka ini tercatat cuma tumbuh tipis 0,07% dari realisasi tahun sebelumnya yang berada di level Rp 1.061,24 triliun.

Rapor pertumbuhan tersebut terhitung jauh di bawah torehan pertumbuhan total penerimaan pajak nasional yang sanggup terkerek naik mendekati Rp 103 triliun menjadi Rp 2.620,67 triliun di sepanjang 2024. 

Fase perlambatan ini didominasi oleh koreksi pada pos penerimaan pajak penghasilan badan yang menyusut dari Rp 829,66 triliun pada 2023 menjadi Rp 818,30 triliun pada 2024. 

Sebaliknya, pendapatan dari pajak penghasilan orang pribadi masih menunjukkan tren positif, yakni menanjak dari Rp 231,59 triliun menjadi Rp 243,64 triliun.

"Meski mulai melambat, pajak penghasilan masih menjadi salah satu sumber utama penerimaan negara," kata Ibrahim.

Mempertimbangkan pelbagai sentimen yang terus bergulir, Ibrahim mengestimasi pergerakan kurs rupiah untuk pekan depan masih akan diwarnai fluktuasi. 

Ia memperkirakan nilai tukar rupiah bakal bergulir dalam rentang harga Rp 17.850 sampai Rp 18.100 per dolar AS, seiring langkah pelaku pasar yang terus memonitor arah kebijakan moneter The Fed, situasi geopolitik di Timur Tengah, serta indikator fundamental makro ekonomi Indonesia.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua