Rekomendasi Saham Big Caps RI yang Valuasinya Murah: BMRI hingga ANTM

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Selasa, 07 Juli 2026
Rekomendasi Saham Big Caps RI yang Valuasinya Murah: BMRI hingga ANTM
Ilustrasi mengakses data saham menggunakan perangkat komputer jinjing dan telepon pintar. (Foto: bisnis.com)

JAKARTA  – Deretan saham dengan kapitalisasi pasar raksasa (big caps) di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) saat ini ditransaksikan pada level valuasi yang lebih rendah ketimbang rata-rata pergerakan historisnya. 

Keadaan tersebut membuka kans terjadinya re-rating andai disokong oleh perbaikan fundamental korporasi beserta arah sentimen makroekonomi. Analis mencatat bahwa jajaran saham unggulan yang dinilai tengah “diskon” memiliki peluang membukukan penguatan harga pada periode ke depan.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memaparkan cukup banyak saham big caps di lantai bursa yang saat ini diperdagangkan di bawah rata-rata valuasi historisnya, khususnya pada sektor finansial, telekomunikasi, komoditas tertentu, serta consumer staples

Pelemahan nilai saham yang berlangsung dalam beberapa bulan pamungkas telah menekan rasio price to earnings (PER) maupun price to book value (PBV) beberapa emiten merosot ke batas bawah historical band dalam rentang 5-10 tahun terakhir.

“Koreksi harga saham dalam beberapa bulan terakhir membuat PER maupun PBV sejumlah emiten turun ke kisaran bawah historical band 5-10 tahun,” ujar Nafan, Senin malam (6/7/2026).

Kendati begitu, tidak seluruh saham yang ditransaksikan pada level valuasi murah dapat langsung dikelompokkan sebagai mispricing atau berada di bawah nilai wajar yang sesungguhnya. 

Menurut pandangannya, sebagian pemotongan valuasi itu merupakan imbas dari perlambatan ekspansi profit perusahaan, terkereknya cost of equity beriringan dengan tingkat suku bunga global yang masih tinggi, serta menanjaknya risk premium Indonesia yang memicu penanam modal menuntut rasio imbal hasil yang lebih masif.

“Sebagian memang merupakan konsekuensi dari perlambatan pertumbuhan laba, meningkatnya cost of equity akibat suku bunga global yang masih tinggi, serta meningkatnya risk premium Indonesia,” paparnya.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) saat ini ditransaksikan pada price to book value (PBV) di kisaran 2,2-2,5 kali, lebih mini ketimbang rata-rata historisnya yang berada pada rentang 2,8-3,3 kali. 

Kans re-rating saham BBRI diproyeksikan bakal dipacu oleh pelonggaran suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate), pemulihan distribusi pembiayaan ke sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta stabilitas kualitas portofolio aset perseroan.

Selanjutnya, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turut diperdagangkan pada level PBV sekitar 1,8-2,0 kali, lebih rendah dari rata-rata historisnya di rentang 2,2–2,5 kali. Kans kenaikan valuasi BMRI disokong oleh ekspansi kredit korporasi yang konsisten, serta penurunan cost of fund yang berpeluang mendongkrak profitabilitas korporasi.

Pada lini telekomunikasi, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) ditransaksikan pada rasio EV/EBITDA berkisar 4-5 kali, lebih rendah dibandingkan rata-rata historisnya yang bertengger di kisaran 5,5-6 kali. 

Peluang re-rating TLKM dinilai bersumber dari monetisasi bisnis pusat data (data center), penguatan efisiensi operasional Telkomsel, serta kelebihan muatan daya pikat dividend yield yang tetap konsisten tinggi.

Di sisi lain, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) pun ditransaksikan pada rasio EV/EBITDA yang berada di bawah rata-rata historis siklus komoditasnya. 

Nafan menjabarkan, secara historis saham INCO mendulang valuasi premium tatkala harga nikel bertengger pada level tinggi. Maka dari itu, normalisasi harga nikel global serta peningkatan kapasitas produksi fasilitas pemurnian (smelter) diprediksi menjadi stimulus utama yang dapat mendongkrak kenaikan valuasi perseroan.

Adapun PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) ditransaksikan pada price to earnings ratio (PER) di level belasan kali, lebih mini ketimbang rata-rata historisnya yang mendekati 18–20 kali. 

Kans re-rating ICBP bakal bersandar pada pemulihan daya beli masyarakat yang sanggup memicu kenaikan volume penjualan sekaligus memperkokoh akselerasi kinerja korporasi.

Searah, Investment Specialist KISI Sekuritas, Ahmad Faris Mu’tashim, menjabarkan secara valuasi banyak emiten yang diperdagangkan pada level yang lebih rendah ketimbang rata-rata valuasi historisnya. 

Kondisi tersebut merefleksikan tersedianya peluang penanaman modal pada sejumlah lini, walau investor tetap wajib memantau katalis yang sanggup menggerakkan kenaikan harga saham.

Faris menilai sektor komoditas, khususnya logam mulia, menjadi salah satu industri yang atraktif untuk dicermati. Prospek itu ditopang oleh kian menciutnya peluang bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), untuk kembali mengerek suku bunga. 

Kondisi itu menjadikan opportunity cost memegang emas selaku instrumen lindung nilai (hedging) menjadi semakin mini, khususnya di tengah depresiasi dollar AS terhadap mata uang utama dunia yang terekam dari koreksi indeks dollar AS (DXY).

Melalui latar belakang tersebut, Faris memberikan rekomendasi investor untuk memantau saham-saham di industri emas, khususnya PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), yang dipandang berpotensi memanen sentimen positif andai tren pelemahan dollar AS serta tingginya minat atas aset lindung nilai terus bergulir.

“Hal ini tidak lepas dari mengecilnya potensi The Fed untuk menaikan suku bunga, yang membuat opportunity cost untuk memilih emas sebagai hedging dari turunnya mata uang dollar AS terhadap major currency yang terlihat dari melemahnya pergerakan DXY. Saham yang bisa diperhatikan di sektor ini adalah ANTM dan HRTA,” pungkas Faris.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua