Dollar AS Menguat, Nilai Jual Emas Global Tertekan Pagi Ini
NEW YORK - Nilai jual emas global meluncur turun dari posisi tertingginya dalam kurun dua pekan pada penutupan sesi perdagangan Senin (6/7/2026) waktu setempat atau Selasa (7/7/2026) pagi WIB.
Fluktuasi negatif ini dipicu oleh pergerakan kokoh dollar Amerika Serikat (AS).
Walau demikian, kemerosotan nilai emas tertahan berkat adanya proyeksi bahwa Federal Reserve (The Fed) tidak bakal tergesa-gesa mengerek suku bunga acuan seusai sektor lapangan kerja AS memperlihatkan indikasi perlambatan.
Merujuk laporan Reuters, komoditas emas spot melemah 0,3 persen menuju angka 4.163,64 dollar AS per ons, seusai sebelumnya sempat menggapai posisi puncak sejak 22 Juni.
Di sisi lain, kontrak emas berjangka AS untuk periode pengiriman Agustus justru terangkat 1 persen menuju level 4.167,50 dollar AS per ons.
"Indeks dollar AS sedikit lebih tinggi dan itu menjadi faktor negatif bagi emas dalam perdagangan harian," ujar Analis Pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff.
Akselerasi dollar AS senilai 0,1 persen menjadikan nilai emas bertambah mahal bagi para pemilik instrumen mata uang asing lainnya, sehingga menekan volume permintaan.
Pada pekan lalu, rilis data menunjukkan bahwa ekspansi lapangan kerja AS pada periode Juni merosot tajam.
Ditambah lagi, data penyerapan tenaga kerja pada dua bulan sebelumnya turut mengalami revisi ke bawah, sehingga para pelaku pasar memangkas proyeksi kenaikan suku bunga The Fed dalam periode dekat.
Logam mulia memang populer bertindak selaku instrumen lindung nilai (safe haven) di tengah situasi inflasi, walakin peningkatan suku bunga acuan berpotensi memangkas pesona komoditas tersebut lantaran tidak menyodorkan imbal hasil.
Para pemodal saat ini tengah menantikan rilis risalah pertemuan kebijakan moneter paling buncit dari The Fed yang dijadwalkan meluncur pada Rabu (8/7/2026) waktu setempat.
"Pelaku pasar akan mencermati risalah rapat tersebut untuk mencari petunjuk tambahan mengenai arah kebijakan moneter AS. Setiap kejutan dari risalah itu tentu berpotensi menggerakkan pasar," kata Wyckoff.
Berdasarkan kalkulasi CME FedWatch Tool, para pelaku pasar saat ini mengestimasi probabilitas The Fed untuk mendongkrak suku bunga pada periode September berada di kisaran 57 persen.
Sementara itu, lembaga perbankan investasi J.P. Morgan memproyeksikan volume permintaan emas dari beberapa sektor fundamental tidak bakal sekuat estimasi terdahulu. Kondisi ini dinilai dapat menahan laju kenaikan nilai emas sepanjang tahun ini pada kisaran 4.300 dollar AS per ons di kuartal III serta 4.500 dollar AS per ons di kuartal IV.
Sementara itu, instrumen logam mulia lainnya terpantau bergerak fluktuatif. Nilai perak spot meluncur 0,3 persen menuju 62,17 dollar AS per ons setelah sebelumnya sempat menyentuh posisi tertinggi sejak 23 Juni.
Nilai platinum merosot 0,4 persen menjadi 1.630,86 dollar AS per ons, serta palladium merangkak naik tipis 0,1 persen menuju level 1.275,43 dollar AS per ons.