Harga Batu Bara Anjlok 5 Hari Beruntun akibat Lesunya Pasar China

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Rabu, 08 Juli 2026
Harga Batu Bara Anjlok 5 Hari Beruntun akibat Lesunya Pasar China
ilustrasi harga batu bara. (Foto: net)

JAKARTA – Grafik pergerakan harga komoditas batu bara dilaporkan terus melanjutkan tren penurunannya. 

Berdasarkan data dari Refinitiv, nominal harga batu bara pada sesi perdagangan Selasa (7/7/2026) ditutup melemah di posisi US$ 127,95 per ton, atau mengalami depresiasi sebesar 0,23%.

Laju pelemahan ini sekaligus memperpanjang rapor merah batu bara yang tercatat sudah menyusut hingga 1,2% dalam kurun waktu lima hari berturut-turut.

Merujuk informasi dari Bigmint, terdapat serangkaian sentimen negatif yang kini tengah membayangi pergerakan harga batu bara global. 

Pasar batu bara termal di kawasan Asia mulai memasuki tahapan koreksi yang terbilang cukup dalam seiring dengan semakin melesunya angka permintaan dari China. 

Padahal, negara tirai bambu tersebut selama ini memegang peranan krusial sebagai pilar penyokong utama harga batu bara di regional tersebut.

Dinamika pelemahan yang pada mulanya hanya melanda pasar domestik China kini dilaporkan mulai menjalar ke area pasar batu bara jalur laut (seaborne). 

Alhasil, kondisi ini ikut menyeret turun indeks harga batu bara acuan Newcastle di Australia, harga FOB di Indonesia, hingga harga komoditas batu bara impor di daratan India.

Kondisi pasar saat ini terpantau berbalik arah jika dibandingkan dengan situasi pada bulan Mei hingga awal Juni lalu, di mana kala itu kecemasan akan pasokan, ketidakpastian iklim ekspor dari Indonesia, serta faktor permintaan musiman sempat menjadi motor yang mendongkrak harga.

Untuk saat ini, cadangan batu bara pada pembangkit-pembangkit listrik di Asia dilaporkan berada dalam level yang cukup aman. 

Di sisi lain, geliat sektor industri terpantau melandai, volume pasokan batu bara domestik di China dan India melimpah, ditambah dengan mulainya musim penghujan di India yang membuat intensitas aktivitas pembelian komoditas ini semakin menyusut.

Sektor pasar batu bara domestik di China terpantau melorot dalam waktu cepat selama dua pekan belakangan, sehingga mematikan salah satu stimulus utama yang selama ini menopang tingkat harga batu bara Asia.

Kekhawatiran pasar seputar agenda inspeksi area tambang, hambatan suplai, hingga pembatasan keran ekspor dari Indonesia kini terpantau mulai melandai. 

Sebaliknya, kondisi pasar saat ini justru harus berhadapan dengan situasi peningkatan volume persediaan di tengah laju konsumsi yang mengalami perlambatan.

Pihak pembangkit listrik di China mengantongi jumlah stok yang terbilang sangat mencukupi. 

Volume persediaan pada pelabuhan-pelabuhan bagian utara dilaporkan terus menumpuk, terminal-terminal di China Selatan sudah hampir melampaui kapasitas, sementara armada kapal pengangkut batu bara impor mulai dihadapkan pada kendala keterlambatan proses bongkar muat.

Tingginya intensitas curah hujan ikut memacu laju produksi energi listrik berbasis tenaga air, yang secara langsung berimbas pada pengurangan angka konsumsi batu bara. 

Pada sektor lain, lini konsumen industri layaknya pabrik semen serta produsen bahan-bahan kimia terpantau hanya melakukan transaksi pembelian batu bara guna menyuplai kebutuhan jangka pendek saja.

Kondisi ini memicu harga batu bara di area mulut tambang merosot di kisaran 5-20 yuan per ton pada beberapa wilayah sentra produksi lantaran para pembeli mulai menerapkan sikap yang lebih berhati-hati.

Tarif logistik angkutan batu bara domestik juga terekam mengalami penurunan yang cukup drastis. 

Biaya pengapalan dari rute Qinhuangdao menuju Shanghai merosot dari yang awalnya US$ 7,09 per ton pada pertengahan Juni, menjadi hanya US$ 3,12 per ton di awal Juli. Hal ini mencerminkan adanya perlambatan yang nyata pada jalur distribusi batu bara di pesisir China.

Nilai jual batu bara Newcastle asal Australia dilaporkan tergerus dari kisaran US$ 150-an per ton pada tiga pekan lalu menuju level sekitar US$ 130 per ton pada pekan kemarin. 

Situasi ini terjadi lantaran aktivitas pembelian dari pihak China terpantau hampir menghilang total, sementara di sisi lain korporasi utilitas di negara-negara Asia lainnya masih menguasai cadangan stok yang memadai.

Meredupnya angka permintaan spot dari China membuat kondisi pasar menjadi semakin lesu. 

Pihak pembeli saat ini terpantau hanya berfokus untuk memenuhi proyeksi kebutuhan jangka pendek, sedangkan dari sisi penjual mulai memperlihatkan kelonggaran untuk memangkas harga penawaran.

Pergerakan kontrak berjangka pada bursa SGX juga turut memberikan indikasi bahwa harga komoditas ini masih menyimpan potensi untuk kembali melemah pada paruh kedua tahun ini, mengingat volume persediaan diestimasikan akan tetap bertahan tinggi hingga kuartal III mendatang.

Penerapan regulasi wajib pasok domestik atau Domestic Market Obligation (DMO) serta eskalasi penyaluran pasokan ke PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) sejauh ini masih mampu menyerap sebagian hasil produksi batu bara kalori menengah asal Indonesia ke dalam pasar dalam negeri.

Sejumlah pelaku produsen memberikan laporan bahwa sebagian besar porsi produksi batu bara dengan spesifikasi GAR 5.000 saat ini dialokasikan penuh guna menyokong kebutuhan domestik pasca-terjadinya kendala pada sistem pasokan listrik. 

Namun demikian, faktor keterbatasan suplai tersebut dinilai tidak lagi memiliki kekuatan yang cukup untuk membendung laju pelemahan harga.

Pihak pembeli dari China dilaporkan terus melayangkan penawaran dengan skema harga yang cukup agresif. Komoditas batu bara yang sebelumnya ditebus oleh para trader dengan harga yang tinggi, kini mulai dilepas ke pasar dengan pemberian potongan harga atau diskon. 

Selain itu, adanya ekspektasi bahwa pemerintah akan memberikan lampu hijau terkait tambahan kuota produksi RKAB pada paruh kedua tahun ini turut memberikan tekanan pada sentimen pasar.

Sebagai dampaknya, nilai jual batu bara FOB Indonesia terus memperlihatkan tren penurunan hampir pada seluruh variasi spesifikasi kalori yang ada.

Hadirnya musim penghujan di India serta melimpahnya ketersediaan pasokan batu bara domestik membuat gairah permintaan untuk jalur impor menjadi semakin merosot.

Coal India secara konsisten terus menyodorkan lelang dalam volume yang masif, sementara cadangan stok di area sekitar tambang terpantau masih sangat tinggi sehingga pihak pembangkit listrik lebih memprioritaskan konsumsi batu bara domestik. 

Aktivitas impor saat ini hanya dilangsungkan guna memenuhi kebutuhan formulasi pencampuran (blending) atau untuk memfasilitasi pembangkit yang secara teknis memang dirancang khusus menggunakan batu bara impor.

Nilai harga batu bara asal Indonesia maupun Afrika Selatan di area pelabuhan India terus bergerak melemah lantaran para pembeli memilih untuk menunda transaksi dengan harapan bisa mendapatkan harga yang jauh lebih rendah di kemudian hari.

Para produsen baja yang berbasis sponge iron juga menerapkan sikap defensif sebagai imbas dari lesunya angka permintaan produk baja. 

Sementara itu, pelaku industri semen mulai mengalihkan pilihan bahan bakar dengan mengonsumsi petroleum coke (petcoke) setelah tingkat harga petcoke internasional tercatat melorot lebih dari US$ 20 per ton dari posisi puncaknya pada bulan Mei lalu.

Melalui indikasi-indikasi tersebut, India saat ini lebih memposisikan diri sebagai negara importir yang sangat sensitif terhadap dinamika harga, alih-alih bertindak selaku motor penggerak utama bagi arus permintaan batu bara di Asia.

Biaya pengapalan batu bara dari wilayah Kalimantan Timur menuju ke kawasan India bagian barat dilaporkan terus bergerak melemah sebagai dampak dari menyusutnya gairah permintaan ekspor dari Indonesia. 

Rute pelayaran dari Richards Bay, Afrika Selatan, juga dihadapkan pada tren pelemahan seiring dengan semakin minimnya kontrak pengapalan yang masuk.

Di lain pihak, tarif pengiriman dari kawasan Australia terpantau relatif stabil, di mana kondisi tersebut lebih dipicu oleh faktor keterbatasan ketersediaan unit kapal dan bukan disebabkan oleh adanya eskalasi permintaan komoditas batu bara.

Meskipun penurunan harga pada bahan bakar kapal membuat ongkos angkut menjadi lebih murah, stimulus ini dinilai belum mampu memicu pertumbuhan pada volume pembelian batu bara.

China kini terpantau telah berbalik arah, dari yang awalnya berperan sebagai pilar penyokong harga batu bara di Asia kini menjadi faktor utama yang mendorong terjadinya koreksi harga. 

Dampak dari perubahan ini melebar hingga ke kawasan Australia, Indonesia, dan India lewat indikasi penurunan aktivitas transaksi pembelian, melandainya tarif angkutan logistik, serta merosotnya harga batu bara di kancah pasar internasional.

Sepanjang grafik permintaan daya listrik di kawasan Asia Utara tidak menunjukkan lonjakan yang masif akibat faktor gelombang panas musim panas, atau tidak dihadapkan pada kendala hambatan pasokan yang baru, maka perpaduan dari aspek tingginya stok, lesunya aktivitas industri, potensi eskalasi ekspor dari Indonesia, serta rendahnya serapan impor India diprediksi akan terus memberikan tekanan pada harga batu bara termal Asia di sepanjang bulan Juli dan berpotensi berlanjut hingga sebagian besar periode kuartal III.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua