Gelombang Tinggi Mengganggu Pelayaran, ASDP Kupang Belum Beroperasi

Gelombang Tinggi Mengganggu Pelayaran, ASDP Kupang Belum Beroperasi
Rabu, 28 Januari 2026 | 17:01:12 WIB

JAKARTA - Gelombang tinggi yang melanda perairan Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga kini membuat layanan pelayaran antar pulau milik PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Kupang belum dapat dibuka. Penutupan ini dilakukan demi keselamatan penumpang dan awak kapal, mengingat kondisi cuaca yang belum memungkinkan.

Manager Usaha PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Kupang, Ramlan Iyang, menjelaskan bahwa operasi kapal sangat bergantung pada kondisi cuaca serta rekomendasi dari Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP).

“Sejak 12 Januari beberapa lintasan sebenarnya sudah sempat beroperasi, tetapi sangat situasional. Jika laut tenang kapal bisa berangkat, namun saat gelombang tinggi seluruh pelayaran terpaksa dihentikan,” ujar Ramlan saat dihubungi Media Indonesia, Rabu (28/1).

Upaya Maksimalkan Jeda Cuaca

Meskipun demikian, pihak ASDP terus memanfaatkan setiap jeda cuaca yang memungkinkan untuk melayani masyarakat. Namun hingga kini, belum dapat dipastikan kapan pelayaran akan kembali dibuka.

“Saat ini masih ada imbauan larangan berlayar dari KSOP yang berlaku hingga 29 Januari. Kami menunggu izin lanjutan. Jika sudah diizinkan, pelayaran baru bisa kembali dilakukan setelah tanggal tersebut,” tambah Ramlan.

Penutupan pelayaran ini berdampak pada distribusi logistik ke wilayah kepulauan, khususnya Kabupaten Rote Ndao, di mana pasokan kebutuhan pokok mulai terkendala akibat transportasi laut yang terhambat.

Dampak terhadap Pasokan Kebutuhan Pokok

Masyarakat setempat mulai merasakan dampak gangguan transportasi laut. Nengsih, warga Ba’a, ibu kota Kabupaten Rote Ndao, mengungkapkan bahwa meski harga sembako belum naik, ketersediaan barang mulai menipis di tingkat pertokoan.

“Harga sembako masih normal, belum ada kenaikan. Tapi stok di toko-toko sudah mulai berkurang karena kapal belum jalan,” ujarnya.

Gangguan distribusi ini menyoroti betapa vitalnya layanan pelayaran antar pulau bagi kelancaran pasokan kebutuhan pokok dan logistik di wilayah kepulauan NTT.

Prakiraan Cuaca dan Gelombang

Prakirawan BMKG Stasiun Maritim Tenau II Kupang, Arya Dalexta Fadly, mengatakan tinggi gelombang di beberapa wilayah perairan NTT diperkirakan mencapai 1,5 meter hingga 3,5 meter, terutama pada periode 28-30 Januari 2026. Kondisi ini berpotensi mengganggu aktivitas pelayaran dan distribusi logistik antar pulau.

Wilayah yang diprakirakan terdampak antara lain Laut Sawu, Selat Ombai, Perairan Selatan Sumba, Perairan Utara dan Selatan Sabu-Raijua, Perairan Utara Timor, Perairan Utara Kupang-Rote, Selat Pukuafu, serta Perairan Selatan Timor-Rote.

Keselamatan Menjadi Prioritas

Penutupan pelayaran yang dilakukan ASDP Kupang menegaskan bahwa keselamatan penumpang dan awak kapal tetap menjadi prioritas utama. Meskipun hal ini menimbulkan keterlambatan distribusi logistik, keputusan untuk menunda keberangkatan kapal berdasarkan rekomendasi KSOP adalah langkah preventif agar risiko kecelakaan akibat gelombang tinggi dapat dihindari.

Ramlan menekankan, setiap keputusan operasional selalu mempertimbangkan kondisi cuaca dan keselamatan penumpang. “Kami terus memantau situasi, dan setiap kapal hanya akan berangkat jika kondisi laut benar-benar aman,” ujarnya.

Antisipasi dan Harapan Kedepan

Masyarakat berharap, dengan membaiknya kondisi cuaca setelah larangan berlayar dicabut, pelayaran antar pulau dapat segera normal kembali. Hingga saat ini, pihak ASDP Kupang terus menyiapkan semua layanan agar begitu izin diberikan, kapal dapat langsung beroperasi melayani masyarakat dan mendukung kelancaran distribusi logistik.

Penundaan ini juga menjadi pengingat bagi seluruh pihak terkait bahwa kondisi alam tetap menjadi faktor utama dalam keselamatan transportasi laut di wilayah kepulauan, terutama di NTT yang rawan gelombang tinggi.

Reporter: Ekhwanessa Bagus Aldhiansyah