Penguatan Rupiah dan Respons Pasar Terhadap Kebijakan Pemerintah 2026

Penguatan Rupiah dan Respons Pasar Terhadap Kebijakan Pemerintah 2026
Kamis, 29 Januari 2026 | 11:47:46 WIB

JAKARTA - Pada penutupan perdagangan Rabu (28/1/2026), nilai tukar rupiah mengalami penguatan sebesar 46 poin, mencapai level Rp16.722 per dolar AS. Peningkatan ini sejalan dengan respons positif pasar terhadap kelanjutan kebijakan stimulus fiskal pemerintah yang dipastikan berlangsung hingga tahun 2026. Langkah ini memberikan keyakinan kepada pelaku pasar bahwa stabilitas ekonomi Indonesia tetap terjaga meskipun adanya tekanan dari luar negeri dan tantangan global lainnya.

Keberlanjutan Stimulus Fiskal dan Dampaknya terhadap Daya Beli Masyarakat

Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat mata uang dan komoditas, menyoroti bahwa keputusan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, untuk melanjutkan empat program stimulus pada 2026 mendapat sambutan hangat dari pasar. Stimulus tersebut mencakup sejumlah kebijakan, di antaranya pengenaan PPh Final UMKM sebesar 0,5 persen hingga 2029, penanggungan PPh 21 untuk sektor pariwisata dan industri padat karya, serta diskon iuran Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian untuk peserta non-upah.

"Keberlanjutan kebijakan fiskal ini memberikan kepastian dan rasa aman bagi dunia usaha serta meningkatkan daya beli masyarakat," kata Ibrahim. Ini menjadi faktor kunci yang memperkuat rupiah, karena pasar melihat program-program tersebut sebagai langkah nyata untuk mendukung perekonomian domestik yang berfokus pada penguatan daya beli serta menjaga aktivitas ekonomi tetap bergerak.

APBN 2025 Sebagai Penyeimbang Guncangan Eksternal

Meskipun ekonomi global menghadapi ketidakpastian, termasuk harga komoditas yang volatile dan dinamika geopolitik, Ibrahim menekankan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berperan sebagai penyeimbang guncangan ekonomi. Data yang tercatat hingga akhir 2025 menunjukkan bahwa belanja negara mencapai Rp3.451,4 triliun atau 95,3 persen dari pagu, sementara pendapatan negara berada di angka Rp2.756,3 triliun, yang mencapai 91,7 persen dari target yang ditetapkan.

Defisit anggaran yang tercatat pada akhir 2025 adalah Rp695,1 triliun, atau sekitar 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Anggaran ini digunakan untuk membiayai berbagai program prioritas, seperti pemberian Makanan Bergizi Gratis, pembinaan Koperasi Desa, serta berbagai paket stimulus ekonomi yang berfokus pada menjaga daya beli masyarakat.

Pemulihan Pasar Obligasi dan Kinerja SBN

Di sektor pasar obligasi, hasil yang positif juga tercatat, dengan penurunan yield pada Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun yang mencapai 6,41 persen. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan investor terhadap pengelolaan fiskal Indonesia. Pada akhir 2024, yield SBN berada di atas 7 persen, namun penurunan ini menggambarkan keyakinan pasar terhadap langkah-langkah yang diambil pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Sentimen Global dan Pengaruhnya terhadap Pergerakan Rupiah

Tentu saja, tidak hanya kebijakan domestik yang mempengaruhi pergerakan rupiah. Faktor eksternal seperti ketegangan perdagangan internasional dan ketidakpastian geopolitik juga memainkan peran penting. Retorika tarif yang diungkapkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dipandang sebagai beban bagi dolar AS, sementara kondisi ketidakpastian ini justru mendorong pelaku pasar untuk mencari aset lindung nilai. Aliran dana yang mengarah ke aset-aset tersebut turut mempengaruhi penguatan rupiah.

Selain itu, pasar juga tengah menantikan keputusan dari Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan akan mengumumkan kebijakan suku bunga pada Kamis (29/1/2026) dini hari waktu Indonesia. Konsensus pasar memperkirakan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50 hingga 3,75 persen, meskipun situasi ekonomi global tetap tidak menentu.

Perkiraan Pergerakan Rupiah pada Kamis (29/1/2026)

Untuk perdagangan hari ini, Ibrahim memproyeksikan bahwa rupiah akan bergerak fluktuatif, dengan kemungkinan ditutup menguat di kisaran Rp16.670 hingga Rp16.730 per dolar AS.

Meskipun ada ketidakpastian global yang dapat memengaruhi pergerakan mata uang, sentimen positif terhadap kebijakan fiskal Indonesia dan stabilitas ekonomi domestik diyakini akan mendukung penguatan lebih lanjut terhadap rupiah.Secara keseluruhan, penguatan nilai tukar rupiah yang tercatat pada akhir Januari 2026 menunjukkan optimisme pasar terhadap keberlanjutan kebijakan fiskal yang ditetapkan pemerintah.

Kebijakan-kebijakan yang mendukung dunia usaha dan daya beli masyarakat, serta pengelolaan APBN yang efektif, menjadi faktor kunci yang mendongkrak kepercayaan investor. Namun, dinamika global yang tidak dapat diprediksi sepenuhnya tetap menjadi faktor yang harus diwaspadai dalam pergerakan mata uang ke depannya.

Reporter: Ekhwanessa Bagus Aldhiansyah