Pakar Gizi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Dukung Pengembangan SDM Unggul

Pakar Gizi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Dukung Pengembangan SDM Unggul
Jumat, 30 Januari 2026 | 10:46:07 WIB

JAKARTA - Dalam rangka membangun sumber daya manusia (SDM) yang unggul, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan sektor pendidikan memiliki keterkaitan erat yang saling memperkuat.

Wakil Dekan II Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA, Leni Sri Rahayu, menekankan bahwa kedua hal tersebut bukan hanya bertujuan untuk menciptakan individu yang mampu belajar dengan optimal, tetapi juga siap untuk hidup mandiri di masa depan.

MBG dan Pendidikan: Saling Menguatkan untuk SDM Unggul

Leni menjelaskan bahwa tujuan Program MBG dan pendidikan sangat sejalan. Program ini membantu menciptakan dasar yang kuat bagi individu, terutama di masa-masa awal kehidupannya, agar memiliki kapasitas untuk belajar dan berkembang dengan baik.

Program ini berfokus pada pemenuhan gizi bagi kelompok sasaran yang rentan, seperti ibu hamil, ibu menyusui, balita, hingga anak-anak usia sekolah. Hal ini dipandang sebagai langkah penting dalam menciptakan kualitas hidup yang lebih baik di masa depan."Jika kita melihat tujuan dan dampaknya, Program MBG bukan hanya sejalan dengan tujuan pendidikan, tetapi juga memperkuatnya," ujar Leni saat diwawancarai.

Pentingnya Intervensi Gizi Sejak Dini

Menurut Leni, intervensi gizi yang dilakukan sejak dini memiliki dampak jangka panjang yang signifikan terhadap kualitas hidup dan kapasitas belajar anak. Masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang dimulai sejak kehamilan hingga usia dua tahun, merupakan periode emas bagi perkembangan otak anak. Pada periode ini, kekurangan gizi dapat menghambat perkembangan fisik dan kognitif anak, yang berpotensi menyebabkan masalah belajar di masa depan.

"Penurunan status gizi pada masa ini dapat mengurangi kemampuan kognitif anak saat mereka mulai masuk sekolah. Penurunan ini pada akhirnya akan memengaruhi hasil pendidikan dan kualitas hidup mereka," ungkap Leni.

MBG: Program yang Memberikan Akses ke Makanan Bergizi

Salah satu tujuan utama dari MBG adalah memberikan makanan bergizi yang sesuai dengan kebutuhan kelompok sasaran. Program ini menyediakan satu kali makan utama, yang bisa disajikan pada pagi atau siang hari. Dengan begitu, MBG bertujuan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap makanan yang bergizi, terutama bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan anak-anak usia sekolah.

Leni menambahkan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada penerapan standar gizi yang telah ditetapkan serta evaluasi dan pengawasan yang berkelanjutan. "Jika program ini dilaksanakan dengan mengikuti standar gizi yang benar dan didukung dengan monev yang baik, maka potensi untuk meningkatkan status gizi masyarakat sangat besar," tutur.

Mengatasi Stunting dan Gizi Buruk untuk Pendidikan yang Lebih Baik

Masalah gizi buruk dan stunting merupakan dua isu besar yang perlu perhatian khusus, karena memiliki dampak langsung pada kesehatan serta kemampuan belajar anak. Stunting, yang diakibatkan oleh kekurangan gizi dalam waktu lama, sangat berbahaya, terutama jika terjadi pada periode 1.000 HPK. Penurunan status gizi pada usia dini dapat menyebabkan gangguan permanen pada perkembangan otak yang berdampak pada kemampuan kognitif anak.

Leni mengutip sebuah laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menunjukkan bahwa anak yang mengalami stunting memiliki skor IQ lebih rendah sekitar 11 poin dibandingkan anak-anak dengan status gizi yang baik. Hal ini tentunya memengaruhi kualitas pendidikan mereka di masa depan.

Stunting dan Pendidikan: Ancaman untuk Peningkatan SDM Nasional

Salah satu dampak besar dari masalah gizi buruk dan stunting adalah gangguan pada sistem pendidikan. Anak-anak yang mengalami masalah gizi buruk cenderung memiliki konsentrasi yang rendah dalam belajar, yang berujung pada prestasi akademik yang tidak optimal.

Jika masalah ini tidak segera ditangani, kualitas pendidikan nasional bisa terganggu, dan sistem pendidikan akan menghadapi kesulitan dalam mencetak SDM unggul.Leni mengingatkan bahwa meskipun pemerintah sudah memiliki sejumlah program untuk mengatasi masalah ini, pengawasan yang ketat dan pelaksanaan yang tepat sangat diperlukan untuk memastikan bahwa setiap anak mendapat akses terhadap gizi yang baik, khususnya pada masa-masa kritis dalam tumbuh kembang mereka.

"Jika masalah gizi buruk dan stunting dibiarkan begitu saja, ini akan mengganggu kualitas SDM kita. Anak-anak yang kekurangan gizi memiliki potensi yang lebih rendah dalam belajar, dan hal ini akan berdampak pada perkembangan pendidikan secara keseluruhan," kata Leni.

Paduan MBG dan Pendidikan untuk Masa Depan yang Lebih Baik

Dengan memperkuat sektor gizi melalui program MBG dan pendidikan yang lebih baik, Indonesia dapat menciptakan SDM unggul yang mampu bersaing di tingkat global. Melalui pengawasan yang baik, pemenuhan gizi yang tepat, serta pendidikan yang berkualitas, bangsa ini dapat memastikan bahwa anak-anak di masa depan tumbuh sehat, cerdas, dan siap menghadapi tantangan dunia.

Reporter: Ekhwanessa Bagus Aldhiansyah