Mendagri Tito Karnavian Ungkap Tiga Faktor Penyebab Lonjakan Harga Emas Global

Mendagri Tito Karnavian Ungkap Tiga Faktor Penyebab Lonjakan Harga Emas Global
Jumat, 30 Januari 2026 | 10:46:08 WIB

JAKARTA - Harga emas domestik kembali mencatatkan rekor baru, mencapai Rp3.003.000 per gram pada Kamis, 29 Januari 2026. Lonjakan harga ini terjadi di tengah lonjakan harga emas dunia yang menembus angka USD 5.500 per troy ounce.

Dalam sebuah rapat koordinasi yang digelar melalui kanal YouTube Kemendagri pada 27 Januari 2026, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian memaparkan tiga faktor utama yang menjadi pemicu utama kenaikan harga emas yang terus menerus dalam beberapa waktu terakhir.

Tito menjelaskan bahwa fenomena lonjakan harga emas global dipengaruhi oleh perubahan struktural yang bersifat jangka panjang di pasar internasional. Ketiga faktor utama yang memengaruhi harga emas ini mencerminkan kondisi geopolitik dan ekonomi global yang sedang mengalami ketidakpastian dan perubahan besar-besaran.

1. Geopolitik Dunia Mendorong Emas Jadi Pilihan Aman

Salah satu alasan utama yang menyebabkan harga emas terus meroket adalah ketidakstabilan geopolitik di dunia. Ketegangan antarnegara, termasuk konflik-konflik berskala besar, semakin memunculkan keresahan yang mendorong investor untuk mencari instrumen investasi yang lebih aman. Emas, yang sudah dikenal luas sebagai “safe haven” atau aset aman di tengah ketidakpastian global, semakin diminati untuk melindungi nilai kekayaan, baik oleh individu, lembaga, hingga pemerintah.

"Ketegangan internasional ini membuat banyak investor berpaling ke emas sebagai instrumen yang dapat menjaga stabilitas nilai, mengingat sifat emas yang tidak terpengaruh oleh fluktuasi ekonomi jangka pendek dan tetap bernilai tinggi dalam jangka panjang," ujar Tito Karnavian. Dalam hal ini, emas berperan penting sebagai alat lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian yang ditimbulkan oleh dinamika global.

2. Perubahan Strategi Rusia: Beralih dari Dolar ke Emas

Ketegangan politik yang terjadi akibat perang Rusia dan Ukraina juga memengaruhi perubahan strategi cadangan devisa di banyak negara, termasuk Rusia. Menteri Tito menyoroti bagaimana blokade yang dilakukan negara-negara Barat terhadap cadangan devisa Rusia memaksa negara tersebut untuk mencari alternatif yang lebih aman dan lebih mandiri. Akibatnya, Rusia beralih dari menggunakan dolar AS sebagai cadangan utama ke emas sebagai instrumen pengaman cadangan negara.

“Rusia merasa kesulitan karena cadangan devisa mereka dibekukan. Maka mereka beralih mencari cadangan yang lebih aman, yaitu emas,” kata Tito. Tindakan ini kemudian memengaruhi permintaan emas global. Rusia yang membeli emas dalam jumlah besar menyebabkan keseimbangan permintaan dan pasokan emas global terganggu, yang pada gilirannya turut mendorong harga emas semakin melambung tinggi.

3. Negara Besar Menimbun Emas Secara Agresif

Langkah Rusia dalam menambah cadangan emasnya ternyata diikuti oleh negara besar lainnya seperti China dan India. Negara-negara ini, yang sering kali memiliki hubungan yang kurang baik dengan Amerika Serikat, menganggap emas sebagai alternatif yang lebih stabil dibandingkan dengan mata uang global lainnya, seperti dolar AS. Tidak hanya membeli emas dalam jumlah besar, negara-negara ini bahkan membeli tambang emas mereka sendiri untuk lebih mengamankan cadangan emas mereka.

"China, India, dan beberapa negara besar lainnya menginginkan emas sebagai salah satu bentuk cadangan untuk mengurangi ketergantungan mereka terhadap mata uang dolar yang berisiko. China bahkan membeli tambang emasnya sendiri untuk menjaga cadangan negara," kata Tito. Fenomena pembelian masif yang terjadi di negara-negara besar ini akhirnya menciptakan semacam gold rush, yakni permintaan yang melonjak drastis dan menyebabkan harga emas global naik tajam.

Pengaruhnya Terhadap Indonesia

Kenaikan harga emas yang dipicu oleh faktor-faktor global tersebut tentu tidak hanya berimbas pada negara-negara besar, namun juga merembet ke pasar domestik Indonesia. Menurut Tito, karena emas adalah komoditas global, kenaikan harga emas dunia langsung memengaruhi harga emas domestik.

Indonesia yang merupakan bagian dari pasar global turut merasakan dampaknya, meskipun tidak terjadi lonjakan permintaan yang signifikan dari masyarakat."Di Indonesia, harga emas naik mengikuti pasar internasional. Meskipun tidak ada lonjakan permintaan yang tampak, fenomena ini dapat menyebabkan inflasi, karena harga emas yang semakin tinggi turut memengaruhi daya beli masyarakat," jelas Tito.

Dampak Sosial Ekonomi yang Lebih Luas

Kenaikan harga emas yang terus menerus ini membawa dampak yang lebih luas, terutama pada sektor-sektor ekonomi yang bergantung pada harga komoditas ini, seperti industri perhiasan dan sektor keuangan. Pembelian emas yang masif oleh investor dan negara besar juga memengaruhi sentimen pasar, yang bisa menyebabkan ketidakpastian lebih lanjut.

“Peningkatan harga emas yang tajam ini bisa jadi salah satu penyebab inflasi di seluruh dunia, karena harga barang-barang yang berkaitan langsung dengan komoditas emas menjadi semakin mahal," tutup Tito.

Dengan ketiga faktor utama tersebut, harga emas di pasar global diperkirakan akan terus berada dalam tren naik, setidaknya untuk beberapa waktu ke depan, hingga ketidakpastian geopolitik dan perubahan kebijakan negara-negara besar ini mencapai titik stabil.

Reporter: Ekhwanessa Bagus Aldhiansyah