Dilema Kecerdasan Buatan Dalam Industri Kreatif Televisi Antara Inovasi Dan Degradasi
JAKARTA - Lanskap penyiaran Indonesia tengah memasuki babak baru yang transformatif sekaligus kontroversial. Kehadiran program Legenda Bertuah di salah satu stasiun televisi swasta telah mencatatkan sejarah sebagai pionir tayangan yang memanfaatkan teknologi artificial intelligence (AI) secara menyeluruh. Namun, di balik kemegahan visualnya, muncul sebuah pertanyaan mendasar: apakah ini sebuah lompatan kemajuan, atau justru lonceng kematian bagi orisinalitas seni?
Sebagai program yang mengangkat narasi besar Nusantara seperti Sangkuriang dan Malin Kundang, Legenda Bertuah memosisikan diri sebagai jembatan teknologi untuk mengenalkan kembali cerita rakyat kepada generasi modern. Namun, dominasi algoritma dalam proses kreatifnya memicu debat panas mengenai masa depan seniman manusia di era digital.
Dominasi Algoritma Dari Pra-Produksi Hingga Pasca-Produksi
Dalam produksi Legenda Bertuah, kecerdasan buatan bukan lagi sekadar alat pendukung, melainkan instrumen produksi utama yang memegang kendali di hampir seluruh tahapan. Pengelola program memanfaatkan AI sejak tahap paling awal, yakni pra-produksi. Hal ini mencakup pengembangan ide, penulisan naskah awal, hingga perencanaan visual yang mendetail.
Keterlibatan teknologi ini terus berlanjut ke proses produksi hingga pasca-produksi. Penyuntingan gambar, pengolahan suara, efek visual, bahkan penentuan alur narasi tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh intuisi sutradara, melainkan berbasis pada analisis data audiens. Dengan kata lain, AI bertindak sebagai mesin yang memproses selera pasar menjadi produk konsumsi layar kaca.
Pergeseran Kendali Kreatif Dalam Kacamata Sosiologi
Penayangan program berbasis AI ini secara instan mengundang gelombang pro dan kontra. Di satu sisi, sebagian penonton memuji inovasi teknologi ini karena menyuguhkan tampilan visual penuh warna dan bergaya fantasi yang menyegarkan mata. Namun, kritikan tajam datang dari mereka yang menganggap penggunaan AI secara masif dapat menghilangkan kreativitas para seniman dan mencederai nilai kemanusiaan dalam sebuah karya.
Rafi Aufa Mawardi, Dosen Sosiologi Universitas Airlangga, menyoroti fenomena ini melalui lensa sosiologi masyarakat digital dan sosiologi algoritma. Menurutnya, masalah utama bukan terletak pada perangkat teknologinya, melainkan pada pergeseran kendali kreatif."Ketika algoritma mulai menentukan alur cerita, gaya visual, dan emosi yang dianggap paling sesuai dengan selera pasar, karya seni berisiko kehilangan kedalaman reflektifnya," tulis Rafi.
Kekhawatiran ini berdasar pada fakta bahwa AI bekerja dengan cara memproses data yang sudah ada, sehingga potensi munculnya karya yang benar-benar "baru" dan "berjiwa" menjadi sangat terbatas.
Ilusi Inovasi Dan Risiko Keseragaman Narasi
Secara logika industri, AI memang menawarkan keuntungan yang sangat menggiurkan. Proses produksi menjadi lebih cepat, biaya operasional jauh lebih murah, dan analisis preferensi penonton dapat dilakukan dengan tingkat presisi yang tinggi. AI memiliki kemampuan luar biasa untuk membaca pola cerita yang disukai audiens, memprediksi emosi penonton, bahkan menyarankan alur yang dianggap “paling laku”.
Namun, kemudahan ini membawa problem sosiologis yang serius. Jika sebuah cerita diproduksi hanya berdasarkan kalkulasi statistik dan pola masa lalu, maka tayangan tersebut berisiko kehilangan fungsi budayanya. Rafi Aufa Mawardi memperingatkan bahwa penggunaan AI tanpa kehati-hatian berisiko menghilangkan fungsi karya seni dan memicu persoalan hak cipta yang rumit.
Seni seharusnya menjadi ruang refleksi sosial yang lahir dari pengalaman dan imajinasi manusia yang kompleks. Namun, dengan campur tangan AI yang dominan, cerita tidak lagi lahir dari konflik batin manusia, melainkan dari dataset. Akibatnya, program televisi yang dihasilkan cenderung mereproduksi narasi yang seragam, aman, dan mudah ditebak—bukan cerita yang kritis dan transformatif yang mampu menggugah kesadaran masyarakat.
Masa Depan Seni Manusia Melawan Mesin?
Kini, industri televisi berada di persimpangan jalan. Apakah AI akan terus diposisikan sebagai instrumen utama demi efisiensi modal, ataukah akan dikembalikan fungsinya sebagai alat bantu teknis di bawah kendali kreativitas manusia? Ancaman terhadap peran kreatif seniman manusia bukan lagi sekadar fiksi ilmiah, melainkan realitas yang terpampang nyata melalui layar televisi kita hari ini.
Karya seni yang murni seharusnya mampu melampaui statistik. Ia harus bisa menawarkan sesuatu yang tidak terduga, yang kadang-kadang justru melawan arus selera pasar demi menyampaikan pesan moral atau kritik sosial yang mendalam. Jika industri hanya mengejar apa yang "paling laku" menurut algoritma, kita mungkin akan menyaksikan akhir dari kedalaman makna dalam tayangan kita.
Pada akhirnya, tantangan bagi para pemangku kepentingan di industri penyiaran adalah bagaimana menyinergikan kecanggihan teknologi AI tanpa harus mengorbankan "ruh" dari seni itu sendiri. Inovasi memang perlu, namun jangan sampai ia menjadi alat untuk mendegradasi kemanusiaan kita dalam berkarya.