Lonjakan Pengiriman Logistik Ramadan 2026 Diprediksi Naik Hingga 30 Persen

Lonjakan Pengiriman Logistik Ramadan 2026 Diprediksi Naik Hingga 30 Persen
Senin, 02 Februari 2026 | 14:16:50 WIB

JAKARTA - Menjelang tibanya bulan suci Ramadan dan perayaan Idulfitri 2026, industri logistik nasional mulai memanaskan mesin operasionalnya. Fenomena peak season yang rutin terjadi setiap tahun kini diprediksi akan kembali mencatatkan rapor positif dengan proyeksi kenaikan volume pengiriman sebesar 10 hingga 30 persen. Momentum ini tidak hanya menjadi ujian bagi ketangguhan rantai pasok nasional, tetapi juga menjadi indikator kuat geliat konsumsi masyarakat yang kian beralih ke ranah digital.

Sektor e-commerce dan retail konsumen tetap menjadi mesin utama di balik lonjakan ini. Peningkatan daya beli masyarakat yang terfokus pada persiapan ibadah dan perayaan Lebaran mendorong arus barang dari gudang-gudang distribusi menuju tangan konsumen di seluruh pelosok negeri. Para pemain logistik kini berlomba memastikan bahwa setiap paket, mulai dari pakaian baru hingga hantaran makanan, dapat sampai tepat waktu di tengah tantangan infrastruktur yang dinamis.

Kesiapan Infrastruktur dan SDM Menghadapi Siklus Tahunan

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman, Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo), Budiyanto Darmastono, mengungkapkan bahwa pelaku industri tidak ingin kecolongan dalam menghadapi lonjakan ini.

Persiapan matang yang mencakup penambahan armada, penguatan sumber daya manusia (SDM), hingga optimalisasi jaringan distribusi telah dilakukan jauh-jauh hari. Hal ini merupakan langkah antisipatif untuk menjaga kualitas layanan di saat permintaan memuncak secara drastis.

“Tren peak season selalu berulang setiap tahun. Karena itu, perusahaan jasa pengiriman sudah meningkatkan kapasitas sejak awal, baik dari sisi armada, SDM, maupun jaringan distribusi,” ujar Budiyanto kepada Katadata.co.id. Strategi ini sangat krusial karena kategori barang yang mendominasi pengiriman kali ini cukup beragam, mulai dari kurma, makanan siap saji, hampers, pakaian, aksesori, hingga kebutuhan pokok lainnya yang menjadi prioritas masyarakat menjelang puasa dan Lebaran.

Mitigasi Hambatan Cuaca Ekstrem dan Kepadatan Mudik

Meskipun optimisme membubung tinggi, industri logistik 2026 masih dibayang-bayangi oleh sejumlah tantangan eksternal. Selain kepadatan lalu lintas akibat arus mudik yang masif, faktor alam seperti cuaca ekstrem menjadi variabel yang sulit diprediksi namun sangat berpengaruh pada kecepatan distribusi.

Asperindo memproyeksikan volume pengiriman secara umum tumbuh 10–20% dibanding tahun lalu, namun kewaspadaan terhadap kendala lapangan tetap ditingkatkan. Budiyanto Darmastono menyoroti risiko cuaca yang dapat menghambat jalur distribusi di beberapa titik rawan.

“Pada Ramadan tahun ini ada risiko hujan deras di beberapa wilayah yang dapat memperlambat pengiriman. Karena itu koordinasi dengan pemerintah dan regulator terus dilakukan, terutama terkait kebijakan lalu lintas dan kelancaran infrastruktur,” jelasnya. Kerja sama lintas sektoral ini menjadi kunci agar pembatasan angkutan barang selama periode mudik tidak melumpuhkan total aliran logistik kebutuhan pokok.

Strategi Shift Malam dan Rekrutmen Pekerja Musiman J&T Express

Di tingkat korporasi, perusahaan ekspedisi besar mulai menerapkan langkah-langkah taktis berdasarkan evaluasi data tahun-tahun sebelumnya. J&T Express, misalnya, melihat peluang besar untuk melampaui capaian volume pengiriman bulan Januari. Komisaris J&T Express, Iwan Senjaya, menyatakan bahwa perusahaannya telah menyiapkan strategi berbasis data historis guna menyikapi lonjakan permintaan yang sudah mulai terasa.

Pemanfaatan tenaga kerja musiman dan penyesuaian jam operasional menjadi solusi untuk memecah penumpukan paket di pusat sortir. “Dengan merekrut pekerja musiman, menambah shift malam, serta mengoptimalkan pusat sortir agar distribusi lebih efisien,” kata Iwan.

Kepercayaan diri J&T didasarkan pada catatan Ramadan tahun lalu, di mana terjadi lonjakan volume lebih dari 40% dibandingkan bulan biasa. “Melihat tren belanja Ramadan di e-commerce yang terus tumbuh, kami optimistis volume tahun ini akan melampaui Januari,” tambahnya.

Inovasi Multimoda JNE Demi Menjaga Ketepatan Waktu

Tak mau kalah, JNE sebagai salah satu pemain senior di industri kurir memproyeksikan pertumbuhan yang lebih agresif, yakni di angka 20–30% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Fokus utama JNE adalah menjaga keandalan pengiriman untuk sektor fesyen, makanan-minuman, dan kebutuhan rumah tangga. Marketing Group Head JNE, Eri Palgunadi, menekankan bahwa teknologi dan fleksibilitas jalur distribusi menjadi modal utama mereka tahun ini.

Untuk menyiasati blokade kemacetan mudik, JNE mengandalkan sistem distribusi multimoda yang mengombinasikan jalur darat, udara, dan laut secara fleksibel. “Kami optimistis dapat menjaga keandalan layanan selama Ramadan dan Idulfitri, sejalan dengan semangat Connecting Happiness bagi masyarakat,” tutur Eri.

Dengan pemantauan berbasis teknologi secara real-time, JNE berusaha meminimalisir keterlambatan agar esensi kebahagiaan Lebaran yang dikirimkan melalui paket tetap terjaga hingga ke alamat tujuan.

Pertumbuhan industri logistik menjelang Ramadan 2026 ini menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan cuaca dan kemacetan, kesiapan infrastruktur digital dan operasional yang telah dibangun mampu menjadi penyangga ekonomi nasional. Sinergi antara penyedia jasa ekspedisi, platform e-commerce, dan kebijakan pemerintah akan menentukan seberapa lancar denyut logistik Indonesia di bulan penuh berkah ini.

Reporter: Ekhwanessa Bagus Aldhiansyah