Pemkot Bandung Menjamin Stabilitas Harga Sembako Aman Menjelang Bulan Suci Ramadan

Pemkot Bandung Menjamin Stabilitas Harga Sembako Aman Menjelang Bulan Suci Ramadan
Senin, 02 Februari 2026 | 14:17:20 WIB

JAKARTA - Memasuki periode krusial menjelang Bulan Suci Ramadan 1447 Hijriah, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung bergerak cepat untuk memastikan ketenangan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan harian. Meskipun tantangan cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi sempat membayangi distribusi pangan, kondisi pasar di Kota Kembang terpantau relatif stabil.

Langkah proaktif ini diambil guna memastikan warga dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk tanpa harus terbebani oleh lonjakan harga yang biasanya membayangi hari-hari besar keagamaan.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa koordinasi lintas sektor terus diperkuat untuk menjaga denyut nadi ekonomi di pasar-pasar tradisional. Pengawasan ketat yang dilakukan oleh Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) menunjukkan bahwa hingga saat ini, fluktuasi harga yang terjadi masih berada dalam batas toleransi pasar dan tidak memicu kepanikan di tingkat konsumen.

Evaluasi Harga Komoditas Hortikultura di Tengah Tantangan Cuaca Ekstrem

Faktor cuaca memang memberikan pengaruh pada beberapa jenis komoditas, terutama kelompok hortikultura. Namun, kenaikan yang terjadi dinilai jauh dari kondisi darurat. Muhammad Farhan menjelaskan bahwa pemantauan intensif di sejumlah pasar tradisional menjadi dasar kebijakan Pemkot dalam menjaga daya beli masyarakat agar tidak terganggu oleh spekulasi pasar.

“Secara umum harga masih terkendali. Memang ada sedikit kenaikan di beberapa komoditas hortikultura seperti cabai akibat faktor cuaca, tapi masih dalam batas wajar dan tidak melonjak tajam,” kata Farhan, dikutip Senin, 2 Februari 2026. Sebagai contoh, harga cabai rawit merah saat ini bertengger di angka Rp58.000 per kilogram.

Walaupun terdapat kenaikan sekitar Rp9.000 dari periode sebelumnya, Farhan mengingatkan bahwa kondisi ini masih jauh lebih baik jika dibandingkan dengan tahun lalu yang sempat menyentuh angka psikologis di atas Rp80.000 hingga Rp100.000 per kilogram. “Kalau dibandingkan saat saya sidak bersama Disdagin dan Bulog beberapa waktu lalu, justru kondisi sekarang lebih stabil,” ucapnya menambahkan.

Ketahanan Stok Protein Hewani dan Keamanan Jalur Distribusi Pangan

Kabar baik juga datang dari sektor protein hewani yang menjadi kebutuhan utama warga saat sahur dan berbuka puasa. Data dari Disdagin per akhir Januari 2026 menunjukkan bahwa harga daging sapi, ayam, dan telur masih berada pada kurva normal.

Harga daging sapi stabil di kisaran Rp140.000 per kilogram, daging ayam ras Rp38.000 per kilogram, dan telur ayam Rp29.000 per kilogram. Kondisi ini memberikan sinyal positif bagi masyarakat bahwa ketersediaan stok cukup melimpah untuk memenuhi permintaan yang biasanya meningkat.

“Untuk sektor perdagingan relatif aman. Tidak ada gejolak harga yang signifikan,” jelas Farhan. Selain stabilitas harga, kelancaran logistik menjadi fokus perhatian utama pemerintah daerah. Meskipun sempat terjadi bencana tanah longsor di wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB), Farhan memastikan bahwa jalur pasokan pangan menuju Kota Bandung sama sekali tidak terganggu.

Koneksi antara distributor dan pedagang pasar tetap berjalan lancar, sehingga tidak ada alasan bagi spekulan untuk menaikkan harga dengan dalih kelangkaan barang. “Distribusi dari distributor aman. Tidak ada gangguan pasokan ke Kota Bandung,” ujarnya dengan nada optimistis.

Kehadiran Negara dalam Menghapus Kecemasan Ekonomi Masyarakat Bandung

Filosofi pelayanan Pemkot Bandung dalam menyambut Ramadan kali ini adalah menghadirkan ketenangan bagi warga. Wali Kota Muhammad Farhan menekankan bahwa peran pemerintah bukan sekadar pengawas, melainkan penjamin agar tidak ada warga yang merasa cemas akan akses pangan.Stabilitas harga menjadi indikator keberhasilan pemerintah dalam melindungi kesejahteraan rakyatnya di momen spiritual yang penting ini.

“Kami tidak ingin masyarakat Bandung menghadapi Ramadan dengan tidak ada kecemasan soal harga pangan. Pemerintah hadir untuk memastikan pasokan aman harga terkendali dan daya beli warga tetap terjaga,” tegas Farhan.

Komitmen ini diwujudkan melalui pengawasan rantai pasok dari hulu hingga ke tangan konsumen akhir. Dengan memastikan transparansi harga di pasar, Pemkot berharap indeks inflasi daerah tetap terjaga pada level yang sehat, sehingga pertumbuhan ekonomi tetap selaras dengan kemampuan belanja masyarakat.

Bazar Murah Utama Sebagai Instrumen Konkret Pengendalian Inflasi

Sebagai langkah preventif guna meredam potensi lonjakan harga di masa depan, Pemkot Bandung melalui Disdagin telah menyiapkan program strategis bertajuk Bazar Murah Utama (Bazmut).

Program ini rencananya akan menyisir 30 kecamatan di seluruh Kota Bandung untuk mendekatkan akses pangan murah langsung ke pemukiman warga. Bazmut diharapkan menjadi penyeimbang harga di pasar umum sekaligus membantu warga kurang mampu mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga subsidi atau di bawah harga pasar.

“Bazar murah ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tapi instrumen konkret untuk menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen. Kami ingin warga bisa membeli kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau,” ujar Farhan.

Melalui integrasi antara sidak pasar, pemantauan distribusi, dan pelaksanaan bazar murah, Pemkot Bandung optimis dapat mengawal masa Ramadan hingga Idulfitri dengan kondisi ekonomi yang kondusif. Langkah komprehensif ini diharapkan menjadi model bagi pengelolaan stabilitas pangan yang berkelanjutan di wilayah Jawa Barat.

Reporter: Ekhwanessa Bagus Aldhiansyah