Langkah Strategis Pringsewu Optimalkan Hilirisasi Singkong Melalui Ekosistem Industri MOCAF Berkelanjutan

Langkah Strategis Pringsewu Optimalkan Hilirisasi Singkong Melalui Ekosistem Industri MOCAF Berkelanjutan
Selasa, 03 Februari 2026 | 10:59:23 WIB

JAKARTA - Kabupaten Pringsewu kini tengah menancapkan tonggak baru dalam transformasi ekonomi berbasis kearifan lokal. Menyadari besarnya potensi pertanian di Bumi Jejama Secancanan, Pemerintah Kabupaten Pringsewu secara agresif mendorong hilirisasi komoditas singkong melalui pengembangan Modified Cassava Flour (MOCAF). Inisiatif ini bukan sekadar upaya diversifikasi pangan, melainkan strategi besar untuk meningkatkan derajat kesejahteraan petani dan memperkuat struktur ekonomi daerah.

Upaya serius ini dikukuhkan melalui agenda Workshop Implementasi MOCAF bertajuk “Integrasi Kebijakan Pemerintah Kabupaten Pringsewu untuk Membangun Ekosistem Industri MOCAF Berbasis Klaster yang Berkelanjutan”. Kegiatan yang berlangsung di Graha Pamungkas, Kelurahan Pringsewu Selatan pada Rabu (28/1/2026) ini, menandai babak baru kolaborasi antara birokrasi, akademisi, dan pelaku usaha di lapangan.

Sinergi Akademisi dan Inovasi Teknologi MOCAF

Langkah Pemkab Pringsewu tidak main-main dalam mengawal program ini. Hal ini dibuktikan dengan kehadiran Prof. Ir. Ahmad Subagio, M.Agr., Ph.D, seorang Guru Besar dari Universitas Jember yang dikenal luas sebagai maestro di balik pengembangan teknologi MOCAF di Indonesia. Kehadiran beliau bertindak sebagai asistensi langsung untuk memastikan program ini berpijak pada landasan akademik yang kuat serta inovasi teknologi yang mutakhir.

Keterlibatan tenaga ahli sekaliber Prof. Ahmad Subagio diharapkan mampu memberikan suntikan strategi yang mumpuni, terutama dalam menciptakan produk hilirisasi yang kompetitif di pasar nasional maupun internasional. Fokus utamanya adalah bagaimana teknologi pengolahan singkong menjadi tepung termodifikasi ini dapat diadopsi secara efisien oleh masyarakat, sehingga industri MOCAF di Pringsewu memiliki daya saing yang tinggi.

Hilirisasi Singkong: Dari Bahan Mentah Menuju Nilai Tambah

Bupati Pringsewu, H. Riyanto Pamungkas, dalam arahan strategisnya menekankan bahwa selama ini singkong hanya dipandang sebagai komoditas pelengkap. Padahal, di Provinsi Lampung, singkong adalah pilar pangan strategis. Namun, tantangan klasiknya tetap sama: petani masih terjebak dalam pola pemasaran bahan mentah (raw material) yang memiliki nilai ekonomi rendah dan rentan terhadap fluktuasi harga pasar.

Bupati menegaskan bahwa MOCAF adalah jawaban atas tantangan tersebut. Dengan mengolah singkong menjadi tepung termodifikasi, Pringsewu memiliki peluang emas untuk melakukan lompatan kuantum di sektor pertanian. Hilirisasi ini diproyeksikan tidak hanya meningkatkan nilai jual produk, tetapi juga membuka lapangan kerja baru di sektor pengolahan dan memperkokoh ketahanan ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput.

Membangun Ekosistem Klaster Industri yang Terintegrasi

Satu poin krusial yang digarisbawahi oleh Bupati Riyanto adalah bahwa perubahan ini tidak bisa dilakukan secara terpisah-pisah atau parsial. “Pengembangan industri MOCAF tidak dapat berjalan secara parsial. Diperlukan integrasi kebijakan lintas sektor dari hulu hingga hilir, mulai dari peningkatan produktivitas dan kualitas singkong di tingkat petani, penguatan kelembagaan, dukungan teknologi pengolahan, pembiayaan, standar mutu dan keamanan pangan, hingga perluasan akses pasar,” ungkapnya dengan tegas.

Pendekatan berbasis klaster menjadi ruh dalam pengembangan ini. Dalam ekosistem yang ideal, harus ada benang merah yang menghubungkan antara petani sebagai penyedia bahan baku, unit pengolahan atau UMKM, lembaga riset dan pendidikan sebagai penyedia inovasi, lembaga keuangan untuk dukungan modal, hingga akses ke offtaker atau pasar luas. Sinergi ini diyakini akan menciptakan efisiensi operasional dan menjamin keberlanjutan pasokan serta kualitas produk.

Roadmap Menuju Pringsewu Makmur dan Indonesia Emas 2045

Output dari workshop ini bukan sekadar pemahaman teoritis, melainkan langkah konkret dalam menyusun peta jalan (roadmap) pengembangan MOCAF di Pringsewu. Pemerintah daerah berkomitmen untuk menyelaraskan program kerja antarperangkat daerah agar tidak terjadi tumpang tindih kebijakan. 

Penguatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pendampingan berkelanjutan dan alih teknologi menjadi prioritas utama untuk memberdayakan petani dan pelaku UMKM sebagai aktor utama pembangunan.

Selain aspek ekonomi, roadmap yang disusun juga mempertimbangkan aspek sosial dan lingkungan agar industri ini tetap berkelanjutan dalam jangka panjang. Agenda ini diikuti secara antusias oleh jajaran perangkat daerah, camat, perwakilan BUMD, serta pemangku kepentingan terkait lainnya.

Dengan komitmen yang kuat, Pemerintah Kabupaten Pringsewu optimistis bahwa optimalisasi potensi lokal melalui industri MOCAF akan menjadi mesin penggerak ekonomi yang tangguh. Visi untuk mewujudkan Pringsewu yang makmur kini selaras dengan cita-cita besar Lampung Maju dan visi nasional Indonesia Emas 2045. Melalui singkong, Pringsewu membuktikan bahwa kemandirian ekonomi dimulai dari penguatan apa yang tumbuh di tanah sendiri.

Reporter: Ekhwanessa Bagus Aldhiansyah