Presiden Miguel Diaz-Canel Kecam Keras Kebijakan Tarif Ekspor Minyak Amerika Serikat

Presiden Miguel Diaz-Canel Kecam Keras Kebijakan Tarif Ekspor Minyak Amerika Serikat
Selasa, 03 Februari 2026 | 10:59:44 WIB

JAKARTA - Hubungan diplomatik antara Havana dan Washington kembali memasuki titik nadir yang mengkhawatirkan. Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel, melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan baru yang diterbitkan oleh pemerintahan Donald Trump terkait penetapan tarif ekspor minyak. 

Dalam pernyataan resminya, Diaz-Canel tidak ragu menyebut langkah Amerika Serikat tersebut sebagai tindakan fasis, kriminal, dan sebuah upaya genosida sistematis terhadap rakyat Kuba. Menurutnya, kebijakan ini bukanlah representasi dari kehendak warga Amerika secara luas, melainkan ambisi personal dari sang presiden.

“Kebijakan ini menunjukkan pandangan fasis, kriminal, dan upaya genosida yang memanfaatkan kepentingan rakyat Amerika untuk kepentingan personal saja. Kebijakan ini diberlakukan dengan alasan yang tidak jelas,” terangnya, dilansir melalui EFE. 

Di sisi lain, Washington bersikeras bahwa kebijakan ini merupakan langkah preventif atas hubungan erat Kuba dengan Moskow. AS menuding Havana telah bersedia menjadi pangkalan bagi aktivitas mata-mata serta jaringan kelompok teroris internasional yang berada sangat dekat dengan teritori Amerika Serikat.

Keteguhan Rezim Komunis Kuba Di Tengah Ancaman Krisis Energi

Tekanan ekonomi yang diberikan oleh Amerika Serikat melalui ancaman tarif terhadap negara-negara pemasok minyak ke Kuba diprediksi akan memperburuk krisis energi yang sedang melanda negara Karibia tersebut. 

Meskipun demikian, Diaz-Canel menegaskan bahwa negaranya tidak akan tunduk pada ancaman yang bertujuan menggulingkan pemerintahan yang telah berdiri selama puluhan tahun tersebut. Ia menilai Washington tengah mengalami kebingungan strategis dalam menghadapi ketahanan politik Kuba.

“AS bingung untuk menetapkan kebijakan apa yang dapat menggulingkan rezim komunis di Kuba selama 67 tahun. Namun, kami akan bertahan dan melanjutkan dialog yang menjunjung kedaulatan dan penghormatan satu sama lain tanpa ikut campur urusan internal,” ungkap Diaz-Canel dengan nada menantang. 

Pernyataan ini muncul sebagai respons atas rencana AS untuk memberlakukan blokade total pengiriman minyak mentah, sebuah langkah yang secara terbuka ditujukan untuk meruntuhkan rezim komunis Kuba dalam tahun ini juga.

Dilema Meksiko Antara Kerja Sama Regional Dan Tekanan Washington

Kebijakan tarif ini secara langsung menyeret negara-negara tetangga ke dalam pusaran konflik, terutama Meksiko yang selama ini menjadi pemasok energi bagi Kuba. Menteri Luar Negeri Meksiko, Juan Ramon de la Fuente, dilaporkan telah melakukan dialog intensif dengan Menlu AS, Marco Rubio. 

Dalam pertemuan tersebut, keduanya sepakat untuk memperkuat kolaborasi yang sesuai dengan kepentingan nasional masing-masing negara, meskipun Rubio secara eksplisit menyerukan agar keamanan kawasan menjadi prioritas utama di atas kerja sama ekonomi lainnya.

Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, sebelumnya telah mengungkapkan komitmennya untuk tetap mengirimkan minyak ke Kuba sebagai bentuk dukungan regional. Namun, penerapan tarif yang tinggi dari AS menciptakan keraguan besar bagi Meksiko. 

Jika ekspor dilanjutkan, Meksiko harus berhadapan dengan konsekuensi ekonomi dari Washington, yang membuat posisi Sheinbaum berada di persimpangan jalan antara solidaritas Amerika Latin dan stabilitas hubungan dagang dengan Amerika Serikat.

Eksodus Diplomat Dan Antisipasi Kolapsnya Kondisi Internal Kuba

Dampak dari ancaman tarif dan blokade minyak ini mulai memicu kekhawatiran global akan terjadinya kehancuran total di Kuba. Sejumlah negara Amerika Latin dan Eropa yang memiliki kantor kedutaan di Havana mulai menyusun rencana evakuasi bagi para diplomat mereka. 

Langkah darurat ini diambil sebagai antisipasi terhadap potensi kerusuhan sosial atau kolapsnya layanan publik akibat ketiadaan energi. Perusahaan-perusahaan asing pun tidak tinggal diam dalam menghadapi situasi yang kian genting ini.

Dilansir oleh The Latin Times, perusahaan multinasional asal Inggris, Unilever, dikabarkan telah mengevakuasi keluarga dari para pekerja asing mereka yang berada di Kuba. Langkah ini dianggap perlu sebagai tindakan preventif atas krisis energi yang diprediksi akan semakin parah. 

Situasi di lapangan memang menunjukkan angka yang mengkhawatirkan; pada awal tahun ini, Kuba hanya menerima pasokan minyak kurang dari 85 ribu barel. Tanpa adanya pengiriman baru dalam waktu dekat, cadangan minyak nasional Kuba diperkirakan akan habis total dalam waktu 15 hingga 20 hari ke depan.

Masa Depan Kedaulatan Energi Di Wilayah Karibia Yang Terancam

Perseteruan ini bukan lagi sekadar masalah tarif dagang, melainkan pertaruhan eksistensi bagi negara Kuba. Dengan menipisnya cadangan energi, seluruh sektor kehidupan di pulau tersebut terancam lumpuh, mulai dari transportasi hingga fasilitas kesehatan. 

Di panggung internasional, tindakan AS ini memicu perdebatan mengenai batas-batas intervensi ekonomi terhadap kedaulatan sebuah negara. Havana terus menyerukan dukungan internasional untuk melawan apa yang mereka sebut sebagai blokade kriminal yang mengancam nyawa jutaan warga sipil.

Bagi Amerika Serikat, kebijakan ini adalah alat penekan untuk memutus pengaruh Rusia di kawasan Barat. Namun, bagi masyarakat Kuba, ini adalah ujian ketahanan yang paling berat dalam sejarah modern mereka. 

Tanpa adanya kesepakatan atau pelunakan kebijakan dari Washington, hari-hari ke depan bagi Kuba akan dipenuhi dengan kegelapan akibat krisis energi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dunia kini menanti apakah diplomasi masih memiliki ruang, ataukah Kuba benar-benar akan dibiarkan menuju kebangkrutan total.

Reporter: Ekhwanessa Bagus Aldhiansyah