Dony Oskaria Pastikan Seluruh Perusahaan BUMN Akan Menghadapi Proses Restrukturisasi Besar
JAKARTA - Pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) tengah menyiapkan langkah revolusioner untuk mengubah wajah badan usaha milik negara secara fundamental. Dalam sebuah pernyataan strategis, Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menegaskan bahwa tidak akan ada satu pun entitas di bawah naungan BUMN yang luput dari agenda pembenahan besar-besaran tahun ini.
Langkah ini bukan sekadar perbaikan administrasi, melainkan upaya radikal untuk menciptakan efisiensi melalui pemangkasan jumlah entitas yang masif guna memperkuat daya saing ekonomi nasional.
Target Pemangkasan Ribuan Anak Cucu Usaha BUMN Menjadi Ramping
Ambisi besar Danantara tercermin dari target penyusutan jumlah entitas usaha yang saat ini dinilai terlalu gemuk dan tidak efisien. Berdasarkan data yang dipaparkan, saat ini terdapat total 1.043 entitas yang mencakup anak hingga cucu usaha BUMN. Danantara menargetkan angka tersebut akan diperas secara signifikan hingga menyisakan sekitar 300 entitas saja pada tahun 2026.
Dony Oskaria menegaskan bahwa perombakan ini merupakan instruksi yang merata di seluruh sektor. "Semua BUMN akan menghadapi perombakan," tegas Dony dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta, Rabu (11/2/2026). Ia menjelaskan bahwa restrukturisasi akan diprioritaskan pada sektor-sektor dengan urgensi tinggi untuk memberikan dampak ekonomi yang cepat dan nyata.
Strategi Merger Sektor Logistik dan Konsolidasi Perusahaan Konstruksi
Salah satu fokus utama dalam rencana besar ini adalah sektor logistik. Danantara berencana melakukan penggabungan 21 perusahaan logistik dengan menjadikan PT Pos Indonesia (Persero) sebagai jangkar utama atau anchor company. Alasan di balik penunjukan ini adalah kekuatan jaringan fisik yang sudah mapan. "Karena mereka memiliki distribution outlet yang banyak, kurang lebih 4 ribu outlet yang dimiliki oleh PT Pos.
Mereka akan menjadi anchor dari penggabungan 21 perusahaan logistik kita," ujar Dony. Sementara itu, untuk sektor karya atau konstruksi, langkah konsolidasi akan diambil setelah fase pemulihan kesehatan finansial benar-benar tuntas.
Dony memproyeksikan bahwa setelah proses perbaikan keuangan selesai pada akhir tahun 2025, maka tahun 2026 akan menjadi panggung utama bagi aksi merger. "Kita tahun ini selesai melakukan proses perbaikan secara finansial, tahun 2025, tahun 2026 mereka memasuki fase merger dan konsolidasi. Kita harapkan akan selesai juga di pertengahan tahun ini," tambahnya.
Rasionalisasi Drastis di Sektor Asuransi dan Raksasa Telekomunikasi
Sektor keuangan, khususnya asuransi, juga tak luput dari sapu bersih Danantara. Dari semula 15 perusahaan asuransi plat merah, nantinya hanya akan disisakan tiga entitas utama yang terbagi berdasarkan spesialisasi: asuransi jiwa (life insurance), asuransi umum (general insurance), dan asuransi kredit. Tidak hanya itu, pengelolaan aset pun akan dipusatkan dalam satu wadah tunggal (asset management).
Langkah drastis serupa juga akan diterapkan pada raksasa telekomunikasi, PT Telkom Indonesia Tbk. Saat ini, Telkom memiliki struktur yang sangat kompleks dengan 66 anak perusahaan. Danantara berencana memangkas jumlah tersebut menjadi belasan entitas saja agar perusahaan bisa lebih fokus pada bisnis inti. "Nanti dari 66 perusahaan Telkom itu hanya akan tinggal kurang lebih belasan perusahaan aja," kata Dony menjelaskan visi perampingan tersebut.
Upaya Menghapus Inefisiensi dan Meningkatkan Profitabilitas Nasional
Perombakan ini juga menyasar sektor industri lainnya seperti PT Pupuk Indonesia (Persero) dan PT Semen Indonesia Tbk. Di industri pupuk, 47 anak perusahaan akan dipangkas hingga tersisa beberapa entitas yang fokus pada produksi. Sementara di sektor semen, sebanyak 17 anak perusahaan direncanakan akan ditutup. Fokus utama dari kebijakan ini adalah menutup unit usaha yang tidak efektif, tidak produktif, dan justru menjadi beban keuangan negara.
Dony menekankan bahwa langkah ini krusial untuk menghentikan kerugian tahunan yang selama ini dialami beberapa lini usaha BUMN. Dengan struktur yang lebih ramping dan sehat, Danantara optimis laba kolektif BUMN pada 2026 bisa menembus angka Rp350 triliun. Transformasi ini diharapkan menjadi titik balik bagi perusahaan negara untuk tidak hanya besar secara kuantitas, tetapi juga unggul dalam kualitas tata kelola dan kontribusi bagi pembangunan Indonesia menuju negara maju.