Bank Indonesia Menggelar Pelatihan Aplikasi SIAPIK Bagi Pelaku Usaha Kalimantan Tengah

Bank Indonesia Menggelar Pelatihan Aplikasi SIAPIK Bagi Pelaku Usaha Kalimantan Tengah
Kamis, 19 Februari 2026 | 11:46:17 WIB

JAKARTA - Penguatan tata kelola keuangan menjadi kunci utama bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk bisa naik kelas dan mendapatkan akses pembiayaan yang lebih luas. Menyadari krusialnya aspek tersebut, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah mengambil langkah proaktif dengan menyelenggarakan kegiatan Training of Trainers (ToT) aplikasi Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan (SIAPIK) tahun 2026. 

Inisiatif ini dirancang sebagai solusi atas kendala klasik yang sering dihadapi UMKM di daerah, yakni manajemen pembukuan yang masih manual dan tidak terstandar. Dengan menghadirkan teknologi yang mudah dioperasikan, Bank Indonesia berupaya menciptakan ekosistem usaha yang lebih profesional, transparan, dan siap menghadapi tantangan pasar modern yang semakin digital.

Digitalisasi Pencatatan Keuangan Sebagai Fondasi Kemandirian UMKM Kalteng

Selama ini, banyak pelaku usaha di Kalimantan Tengah yang memiliki potensi produk luar biasa namun terhambat saat ingin mengajukan pinjaman ke perbankan karena tidak memiliki laporan keuangan yang memadai. Aplikasi SIAPIK hadir sebagai jembatan untuk mengatasi masalah tersebut. Melalui ToT ini, Bank Indonesia tidak hanya sekadar memberikan materi teknis, tetapi juga membangun kapasitas para pendamping yang nantinya akan menjadi ujung tombak dalam mengedukasi para pelaku UMKM di lapangan. 

Dengan pencatatan yang tertib, para pengusaha kecil dapat memantau arus kas, menghitung laba rugi secara akurat, hingga mengevaluasi kesehatan bisnis mereka secara mandiri melalui gawai masing-masing.

Optimalisasi teknologi digital ini diharapkan mampu mengubah pola pikir tradisional dalam menjalankan bisnis. SIAPIK telah disesuaikan dengan standar akuntansi yang berlaku bagi entitas mikro, namun tetap dikemas dengan antarmuka yang sederhana agar mudah dipahami oleh mereka yang awam sekalipun terhadap akuntansi. 

Bank Indonesia menekankan bahwa tanpa data keuangan yang valid, sulit bagi UMKM untuk melakukan ekspansi bisnis yang berkelanjutan. Oleh karena itu, pelatihan ini menjadi momentum penting untuk memodernisasi cara kerja para pelaku usaha lokal agar lebih kompetitif di kancah nasional maupun internasional.

Sinergi Bank Indonesia Dalam Mendorong Akses Pembiayaan Perbankan Formal

Salah satu tujuan strategis dari penyelenggaraan ToT SIAPIK 2026 ini adalah untuk meningkatkan bankability atau kelayakan UMKM di mata lembaga keuangan formal. Selama ini, perbankan seringkali merasa ragu memberikan kredit karena tidak adanya rekam jejak keuangan yang jelas. 

Dengan adanya laporan yang dihasilkan secara otomatis oleh aplikasi SIAPIK, pelaku UMKM memiliki bukti kuat mengenai kinerja bisnis mereka yang dapat dipertanggungjawabkan. Ini merupakan langkah konkret Bank Indonesia untuk mempercepat inklusi keuangan di wilayah Kalimantan Tengah.

Dalam kegiatan tersebut, Bank Indonesia juga melibatkan berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan program ini berjalan secara inklusif. Pendampingan yang diberikan melalui tenaga pelatih yang profesional diharapkan mampu memberikan dampak jangka panjang bagi para pelaku usaha. 

“Kegiatan ini adalah bagian dari upaya kami untuk terus mendorong kemajuan UMKM di Kalimantan Tengah agar lebih melek digital dan profesional dalam mengelola keuangan,” demikian semangat yang diusung dalam pertemuan tersebut. Sinergi antara penyediaan teknologi dan pelatihan sumber daya manusia menjadi formula utama yang dijalankan BI untuk memperkuat pilar ekonomi daerah.

Peran Strategis Tenaga Pendamping Dalam Ekselerasi Literasi Keuangan Daerah

Keberhasilan implementasi aplikasi SIAPIK sangat bergantung pada sejauh mana para tenaga pendamping mampu mentransfer pengetahuan mereka kepada para pelaku UMKM. Melalui skema Training of Trainers, Bank Indonesia menciptakan efek pengali (multiplier effect) di mana para peserta pelatihan akan kembali ke komunitasnya masing-masing untuk menyebarkan ilmu yang didapat. 

Para pelatih ini dibekali dengan modul-modul terkini yang mencakup teknik penyusunan laporan keuangan hingga cara menganalisis data untuk pengambilan keputusan bisnis.

Tugas para pendamping ini tidaklah ringan, karena mereka harus mampu menyederhanakan istilah-istilah keuangan yang rumit menjadi bahasa yang mudah dicerna oleh masyarakat. 

Namun, dengan dedikasi dan dukungan penuh dari Bank Indonesia, optimisme tumbuh bahwa literasi keuangan di Kalteng akan meningkat signifikan pada tahun 2026. Penguatan pada level pendamping ini menjadi jaminan bahwa program SIAPIK tidak hanya berhenti pada acara seremoni saja, melainkan terus berkelanjutan melalui pendampingan intensif yang mampu menyentuh akar rumput di tingkat kabupaten hingga desa.

Optimisme Pertumbuhan Ekonomi Kalimantan Tengah Melalui Sektor UMKM Tangguh

Melihat antusiasme para peserta ToT SIAPIK, Bank Indonesia yakin bahwa sektor UMKM di Kalimantan Tengah akan menjadi mesin penggerak ekonomi yang tangguh di masa depan. Di tengah fluktuasi harga komoditas global, sektor UMKM yang memiliki manajemen keuangan yang sehat terbukti lebih tahan banting terhadap guncangan. 

Program ini juga menjadi bagian dari upaya besar BI dalam pengendalian inflasi daerah melalui penguatan sisi pasokan yang dikelola oleh para pelaku usaha mikro yang terorganisir dengan baik secara administratif.

Bank Indonesia berkomitmen untuk terus memantau perkembangan penggunaan aplikasi SIAPIK di lapangan dan memberikan dukungan teknis jika diperlukan. Visi besarnya adalah melihat UMKM Kalimantan Tengah bukan lagi sebagai pelaku usaha musiman, melainkan sebagai korporasi kecil yang memiliki tata kelola yang rapi dan visi pertumbuhan yang jelas. 

Keberhasilan program ini diharapkan dapat menginspirasi daerah lain untuk melakukan langkah serupa dalam memajukan ekonomi kerakyatan berbasis digital. Dengan pengelolaan keuangan yang cerdas, masa depan UMKM Kalteng dipastikan akan semakin cerah dan penuh peluang.

Reporter: Ekhwanessa Bagus Aldhiansyah