JAKARTA - Pergerakan harga emas global pada Jumat pagi menunjukkan kondisi relatif stabil, meski tekanan penurunan masih membayangi pasar.
Pelaku pasar mencermati berbagai faktor eksternal, mulai dari konflik geopolitik hingga dinamika suku bunga global. Kondisi tersebut membuat emas belum mampu kembali menguat signifikan. Dalam situasi ini, investor tetap berhati-hati menilai arah pergerakan logam mulia. Sentimen makroekonomi menjadi penentu utama pergerakan harga.
Harga emas stabil pada Jumat, tetapi masih berada di jalur untuk mengalami penurunan minggu keempat berturut-turut. Lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran inflasi. Hal tersebut juga memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga global lebih tinggi dan lebih lama.
Kombinasi kedua faktor itu menahan minat investor terhadap emas. Pasar cenderung memilih aset lain yang memberikan imbal hasil.
Harga Emas Bertahan Namun Masih Tertekan
Melansir Reuters, harga emas spot berada di US$4.380,39 per ons troi pada pukul 01:01 GMT, nyaris tidak berubah. Emas telah turun lebih dari 2% sepanjang minggu ini. Pergerakan tersebut mencerminkan tekanan yang masih cukup kuat. Pelaku pasar belum melihat katalis positif yang signifikan. Stabilitas harga lebih mencerminkan fase konsolidasi.
Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April stabil di US$4.375 per ons troi. Pergerakan kontrak berjangka yang cenderung datar juga menunjukkan sikap wait and see investor. Banyak pelaku pasar menunggu kejelasan arah kebijakan moneter global. Ketidakpastian geopolitik juga membuat perdagangan cenderung terbatas. Volume transaksi pun relatif terkendali.
Konflik Timur Tengah Memicu Tekanan
Sejak pecahnya perang AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari, harga emas turun sekitar 17%, tertekan penguatan dolar AS yang naik lebih dari 2% selama periode yang sama. Penguatan dolar membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Kondisi ini mengurangi permintaan global terhadap logam mulia. Akibatnya, harga emas mengalami tekanan tambahan. Sentimen tersebut masih mendominasi pasar.
Lonjakan harga minyak mentah Brent yang bertahan di atas US$105 per barel menambah kekhawatiran inflasi. Konflik hampir menghentikan pengiriman melalui Selat Hormuz. Jalur ini merupakan rute utama sekitar sepertiga pasokan minyak dan LNG global. Gangguan distribusi energi meningkatkan ketidakpastian ekonomi. Hal ini memperkuat tekanan terhadap pasar keuangan global.
Harga minyak yang tinggi berpotensi mendorong biaya transportasi dan manufaktur. Kondisi tersebut dapat memperbesar tekanan inflasi. Kenaikan harga produksi akan berdampak pada berbagai sektor ekonomi. Inflasi yang meningkat biasanya menguntungkan emas. Namun kondisi saat ini berbeda karena faktor suku bunga tinggi. Kombinasi ini membuat pergerakan emas menjadi terbatas.
Suku Bunga Tinggi Batasi Kenaikan
Meskipun inflasi biasanya meningkatkan daya tarik emas sebagai lindung nilai, suku bunga tinggi menekan permintaan untuk aset yang tidak memberikan hasil seperti emas. Investor cenderung memilih instrumen berbunga. Hal ini membuat arus dana keluar dari pasar emas. Kondisi tersebut menjadi hambatan bagi kenaikan harga. Tekanan dari kebijakan moneter tetap dominan.
Pasar kini telah sepenuhnya menyingkirkan kemungkinan penurunan suku bunga Federal Reserve pada 2026, dibandingkan dengan ekspektasi dua kali pemangkasan sebelum konflik Iran meletus, menurut CME Group’s FedWatch Tool. Perubahan ekspektasi tersebut mengubah strategi investasi global. Investor mulai menyesuaikan portofolio mereka. Permintaan terhadap emas pun melemah. Faktor ini memperkuat tren penurunan mingguan.
Pernyataan Politik Tambah Ketidakpastian
Presiden AS Donald Trump mengatakan ia akan memperpanjang jeda serangan terhadap fasilitas energi Iran hingga April. Ia juga menyebut pembicaraan dengan Iran berjalan “sangat baik,”. Pernyataan tersebut sempat memberi harapan meredanya konflik. Namun situasi masih belum pasti. Pelaku pasar tetap mencermati perkembangan diplomatik. Risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang.
Pejabat Iran menolak proposal AS sebagai “sepihak dan tidak adil.”. Penolakan ini kembali meningkatkan ketegangan geopolitik. Pasar menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil posisi. Ketidakpastian politik membuat volatilitas tetap tinggi. Investor cenderung menunggu kepastian lebih lanjut. Dampaknya terasa pada pergerakan emas.
Selain emas, logam mulia lainnya bergerak bervariasi. Harga perak spot turun 0,8% ke US$67,47 per ons troi. Platinum spot turun 0,2% ke US$1.823,40. Sementara palladium naik 1,3% ke US$1.370,75. Perbedaan pergerakan ini menunjukkan dinamika permintaan industri. Setiap logam merespons faktor yang berbeda.
Penguatan dolar dan tekanan suku bunga tinggi menjadi faktor utama yang menahan kenaikan harga emas, meski risiko inflasi akibat perang Timur Tengah tetap membayangi pasar. Investor terus mencermati perkembangan global. Pergerakan emas masih dipengaruhi kombinasi faktor ekonomi dan geopolitik. Selama kondisi tersebut bertahan, harga emas berpotensi bergerak terbatas. Pasar masih menunggu katalis baru.