JAKARTA - PT Asuransi Asei Indonesia menegaskan kesiapan mereka dalam menangkap peluang dari rencana pemerintah yang memberikan insentif untuk mendorong kebangkitan industri galangan kapal nasional.
Kebijakan ini dipandang sebagai langkah strategis dalam memperkuat ekosistem maritim Indonesia sekaligus mendorong pertumbuhan sektor jasa keuangan, termasuk industri asuransi.
Direktur Utama Asuransi Asei, Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe, mengungkapkan bahwa rencana pemerintah ini tidak hanya berdampak pada sektor riil, tetapi juga memiliki multiplier effect terhadap industri asuransi.
Aktivitas galangan kapal akan meningkatkan jumlah kapal baru di perairan Indonesia, yang saat ini sebagian besar masih didominasi kapal berusia tua.
“Selain itu juga berpotensi menciptakan sentimen positif bagi industri asuransi karena meningkatnya aktivitas pembangunan, perawatan, dan operasional kapal, yang juga menjadi informasi penting dalam underwriting marine, baik Marine Cargo Insurance maupun Marine Hull,” jelas Dody.
Dengan adanya stimulus ini, lini usaha asuransi seperti marine hull insurance, marine cargo insurance, dan builder's risk insurance diyakini akan mengalami pertumbuhan, karena jumlah kapal baru yang dibangun dan dioperasikan meningkat.
Empat Strategi Asei Tangkap Peluang Galangan Kapal
Dody membeberkan empat strategi yang disiapkan Asuransi Asei untuk menangkap peluang dari insentif pemerintah:
Memperkuat kapasitas underwriting di sektor marine dan ekosistem perdagangan, termasuk melakukan risk assessment berbasis proyek dan jalur pelayaran. Langkah ini penting agar perusahaan asuransi mampu menilai risiko secara akurat sebelum mengambil polis.
Mengembangkan produk asuransi yang lebih tailored, khusus untuk kebutuhan ekosistem maritim, seperti galangan kapal, pemilik armada pelayaran, serta perdagangan ekspor dan domestik. Produk yang disesuaikan ini diharapkan lebih relevan dan kompetitif di pasar.
Memperluas kerja sama dengan pelaku industri maritim, termasuk galangan kapal, operator pelayaran, dan eksportir. Kolaborasi ini memungkinkan perusahaan asuransi mengoptimalkan jaringan distribusi, memahami kebutuhan klien, dan memperkuat portofolio risiko.
Mengoptimalkan dukungan reasuransi untuk menjaga kapasitas risiko seiring meningkatnya eksposur risiko. “Pendekatan ini penting agar perusahaan asuransi tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga menjaga kualitas portofolio,” tambah Dody.
Keempat strategi ini menunjukkan bahwa Asei tidak hanya berfokus pada pertumbuhan kuantitatif, tetapi juga memastikan manajemen risiko tetap disiplin dan terukur.
Dampak Positif Bagi Lini Usaha Asuransi
Dengan meningkatnya aktivitas galangan kapal, sejumlah lini usaha asuransi diproyeksikan akan mendapat dampak positif. Aktivitas pembangunan kapal baru meningkatkan kebutuhan Marine Hull Insurance, sedangkan pengiriman barang melalui jalur laut mendorong permintaan Marine Cargo Insurance.
Selain itu, builder's risk insurance atau asuransi proyek terkait pembangunan kapal juga terdampak. Dody menekankan bahwa eksposur risiko tidak hanya dari kapal itu sendiri, tetapi juga dari tenaga kerja di galangan kapal, operasional, dan fase konstruksi.
“Lini-lini asuransi tersebut terdampak seiring meningkatnya aktivitas galangan kapal yang akan menambah jumlah kapal yang dibangun dan dioperasikan, meningkatkan volume pengiriman barang, serta memperluas eksposur risiko selama fase konstruksi hingga operasional,” ujarnya.
Secara keseluruhan, stimulus pemerintah diprediksi dapat mendorong permintaan asuransi marine dan proyek, sekaligus memperluas portofolio risiko Asei dalam ekosistem maritim.
Tantangan dan Kompleksitas Risiko
Dody juga menyoroti sejumlah tantangan yang harus diantisipasi. Pertama, kompleksitas risiko teknis pada pembangunan kapal, termasuk risiko konstruksi dan engineering. Kedua, eksposur terhadap risiko operasional di laut, seperti kecelakaan, cuaca ekstrem, dan risiko navigasi.
Ketiga, volatilitas global termasuk faktor geopolitik dapat memengaruhi perdagangan dan premi asuransi marine cargo. Ketegangan geopolitik berpotensi menekan perdagangan internasional dan meningkatkan risiko bagi lini marine cargo.
“Sehingga diperlukan penguatan underwriting dan penyesuaian premi secara hati-hati. Dengan demikian, disiplin underwriting dan manajemen risiko memang menjadi kunci,” tegas Dody.
Selain itu, portofolio asuransi marine bukan kontribusi dominan di Asei, khususnya Marine Hull Insurance, yang secara statistik menunjukkan hasil underwriting menantang.
Namun, Marine Cargo Insurance masih memberikan kontribusi signifikan terhadap premi industri meskipun sempat tertekan akibat perlambatan perdagangan global.
Prospek Pertumbuhan dan Optimalisasi Reasuransi
Dengan adanya stimulus di sektor galangan kapal, Dody memprediksi akan ada rebound pertumbuhan premi, terutama jika aktivitas pelayaran dan ekspor meningkat. Tren klaim dipengaruhi faktor eksternal seperti gangguan logistik, kondisi cuaca, dan volatilitas perdagangan.
Untuk menjaga rasio klaim, Asei tetap menerapkan seleksi risiko ketat serta optimalisasi reasuransi. Dengan strategi ini, perusahaan tidak hanya mengejar pertumbuhan volume, tetapi juga memastikan kualitas portofolio tetap terjaga.
“Dengan pendekatan ini, Asei siap menangkap peluang dari insentif pemerintah, sekaligus mengelola risiko agar pertumbuhan tetap sehat dan berkelanjutan,” pungkas Dody.
Kebijakan pemerintah dan strategi Asei ini menunjukkan bahwa sektor maritim dan asuransi saling terkait: peningkatan aktivitas galangan kapal tidak hanya mendorong pembangunan industri kapal, tetapi juga memperluas peluang pertumbuhan bisnis asuransi di Indonesia.