JAKARTA - Memasuki bangku kuliah, mahasiswa tidak hanya menghadapi tuntutan akademik, tetapi juga belajar mengelola keuangan secara mandiri.
Banyak dari mereka masih menganggap pengelolaan keuangan hanya sebatas mencatat pengeluaran bulanan. Namun, praktik ini belum cukup untuk mempersiapkan kebiasaan finansial yang berkelanjutan.
Melalui SPARK Student Ambassador Program, mahasiswa diperkenalkan pada konsep pengelolaan keuangan yang lebih terstruktur, termasuk pemisahan rekening, tabungan, dan investasi.
Siti Amalia N., mahasiswi semester enam Teknik Komputer Universitas Indonesia yang merantau dari Sukabumi ke Depok, mengungkapkan transformasi pola pikirnya.
“Sejujurnya, dulu saya hanya mencatat pengeluaran, itu pun tidak konsisten. Setelah ikut workshop, saya mulai memisahkan rekening untuk pemasukan, tabungan atau investasi, dan pengeluaran sehari-hari. Cara ini membuat keuangan saya jauh lebih terkontrol dan terarah,” ujarnya.
Perubahan ini menunjukkan bahwa edukasi finansial bukan sekadar teori, melainkan praktik yang dapat membentuk perilaku finansial sehat. Dengan bimbingan yang tepat, mahasiswa bisa beralih dari kebiasaan reaktif menjadi perencanaan berbasis tujuan.
Peran Workshop dan Pendampingan dalam Praktik Keuangan
Program SPARK tidak hanya mengajarkan cara mencatat pengeluaran, tetapi mendorong mahasiswa untuk membangun sistem keuangan yang berkelanjutan.
Melalui workshop dan pendampingan intensif, peserta belajar cara membagi rekening sesuai dengan kebutuhan: satu rekening untuk pengeluaran harian, satu untuk tabungan atau investasi, dan satu untuk dana khusus.
Amel mencontohkan bagaimana teknik pemisahan rekening di beberapa bank digital membantunya memantau arus keuangan.
“Perubahan ini bukan hanya soal teknis, tapi pola pikir. Uang saku dan insentif program yang awalnya menjadi motivasi mendaftar, justru menjadi titik awal membangun kebiasaan finansial yang lebih disiplin,” jelasnya.
Raihan Naufal menambahkan, edukasi yang tepat membuat pengelolaan uang terlihat sebagai sistem, bukan hanya aktivitas administratif. “Dengan membagi rekening sesuai tujuan, arus keuangan terasa lebih jelas dan kita bisa lebih disiplin,” katanya.
Literasi Keuangan Sebagai Kecakapan Hidup
SPARK diinisiasi oleh SeaBank dan ShopeePay Indonesia dengan kolaborasi berbagai universitas untuk mengintegrasikan literasi finansial ke dalam kegiatan mahasiswa. Tujuannya bukan sekadar mengenalkan layanan digital, tetapi membangun sistem finansial sehat sejak dini.
“Literasi keuangan itu bukan cuma soal tahu cara pakai aplikasi, tapi bagaimana kita bisa membangun sistem yang membantu kita mengambil keputusan finansial yang lebih bijak untuk jangka panjang,” ujar pihak program.
Pendekatan ini menekankan bahwa melek finansial adalah kecakapan hidup yang penting. Mahasiswa belajar tidak hanya untuk mengelola uang, tetapi juga merencanakan masa depan, dari pengeluaran harian hingga investasi jangka panjang. Dengan demikian, literasi keuangan dapat menjadi fondasi untuk kemandirian ekonomi di masa mendatang.
Strategi Efektif Edukasi Finansial Mahasiswa
Efektivitas program SPARK terlihat dari pendekatan edukasi yang relevan dan interaktif. Materi dengan konten menarik, disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa, serta interaksi langsung melalui sponsorship di acara kampus terbukti lebih membekas dibandingkan pembelajaran konvensional.
Keikutsertaan mahasiswa dalam program ini menunjukkan bahwa literasi keuangan tidak hanya meningkatkan kemampuan teknis, tetapi juga membangun disiplin dan kebiasaan finansial yang konsisten.
Penerapan teknik pemisahan rekening, perencanaan investasi, dan manajemen pengeluaran harian membantu mahasiswa mempersiapkan masa depan keuangan lebih stabil.
Selain itu, mahasiswa yang terlibat memahami bahwa pengelolaan keuangan adalah sistem, bukan aktivitas administratif semata. Dengan membangun kebiasaan finansial yang benar sejak dini, mereka dapat memanfaatkan peluang ekonomi, menghindari kebiasaan konsumtif, dan memperkuat ketahanan finansial pribadi.
Program SPARK menegaskan bahwa literasi finansial adalah fondasi untuk kesejahteraan jangka panjang. Mahasiswa tidak hanya diajarkan cara menggunakan aplikasi digital, tetapi juga bagaimana menata keuangan agar tujuan hidup lebih terencana dan keuangan tetap aman di masa depan.