Adhi Karya ADHI Cetak Pendapatan Rp9,66 Triliun Sepanjang 2025

Selasa, 07 April 2026 | 14:06:30 WIB
Adhi Karya ADHI Cetak Pendapatan Rp9,66 Triliun Sepanjang 2025

JAKARTA - PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) menutup tahun buku 2025 dengan catatan kinerja yang cukup berat.

Meski masih mampu membukukan pendapatan hingga triliunan rupiah, emiten BUMN karya ini justru mencatat lonjakan rugi bersih yang jauh lebih dalam dibandingkan tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut mencerminkan bahwa tekanan pada sektor konstruksi pelat merah belum sepenuhnya mereda, terutama ketika perusahaan masih berada dalam fase pembenahan fundamental dan penataan struktur keuangan.

Berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2025, ADHI mencatat pendapatan sebesar Rp9,66 triliun sepanjang tahun buku 2025. Nilai tersebut menunjukkan bahwa aktivitas operasional perseroan masih berjalan dengan kontribusi terbesar berasal dari lini bisnis utama, yakni teknik dan konstruksi. 

Namun, capaian di sisi pendapatan belum cukup untuk menopang kinerja laba bersih, karena perseroan tetap harus menanggung beban dan tekanan keuangan yang berdampak pada bottom line.

Di tengah penurunan beban pokok pendapatan, ADHI sebenarnya masih mampu mencatat laba kotor di atas Rp1 triliun. Akan tetapi, kondisi di level laba bersih justru berbalik tajam.

 Perseroan melaporkan rugi bersih sebesar Rp5,40 triliun pada 2025, jauh lebih besar dibandingkan rugi bersih tahun 2024 yang masih berada di bawah Rp100 miliar. 

Perbedaan yang signifikan ini menjadi sorotan, terutama saat pemerintah melalui Badan Pengaturan BUMN memastikan restrukturisasi BUMN Karya sudah memasuki tahap akhir.

Situasi tersebut membuat kinerja ADHI tidak bisa dilihat semata dari angka pendapatan, tetapi juga harus ditempatkan dalam konteks restrukturisasi besar-besaran yang sedang berlangsung di tubuh BUMN konstruksi. 

Dengan proses impairment, restrukturisasi utang, dan rencana konsolidasi ke dalam tiga kelompok besar, kinerja 2025 menjadi bagian dari fase transisi yang diyakini akan menentukan arah pemulihan sektor konstruksi BUMN dalam beberapa waktu ke depan.

Pendapatan ADHI Masih Ditopang Segmen Teknik Dan Konstruksi

PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) mencatatkan realisasi pendapatan sebesar Rp9,66 triliun sepanjang tahun buku 2025. Berdasarkan laporan keuangan perseroan per 31 Desember 2025, mayoritas pendapatan tersebut masih disumbangkan oleh segmen inti perusahaan, yakni teknik dan konstruksi.

Segmen teknik dan konstruksi menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp8,32 triliun. Angka ini menegaskan bahwa lini usaha utama perseroan masih menjadi tulang punggung operasional, sejalan dengan posisi ADHI sebagai salah satu emiten BUMN karya yang fokus pada proyek pembangunan gedung, infrastruktur, dan berbagai pekerjaan konstruksi lainnya.

Selain itu, segmen manufaktur juga memberikan kontribusi terhadap pendapatan perseroan. Pada 2025, lini ini membukukan pendapatan sebesar Rp628,51 miliar. 

Meski nilainya jauh lebih kecil dibandingkan segmen teknik dan konstruksi, kontribusi tersebut tetap menjadi bagian penting dalam menopang total pendapatan perusahaan.

Struktur pendapatan ini memperlihatkan bahwa ADHI masih mengandalkan bisnis inti sebagai mesin utama perolehan pendapatan. Di tengah tantangan sektor konstruksi nasional, kemampuan perseroan menjaga pendapatan di level Rp9,66 triliun menunjukkan bahwa aktivitas bisnis tetap berjalan. 

Namun, di balik pendapatan yang masih besar, tekanan pada sisi profitabilitas dan struktur keuangan ternyata masih sangat kuat.

Beban Pokok Turun, Tapi Rugi Bersih Justru Melonjak Tajam

Seiring dengan pendapatan yang tercatat sepanjang 2025, ADHI membukukan beban pokok pendapatan sebesar Rp8,61 triliun. Nilai ini tercatat turun 26,50% dibandingkan posisi tahun sebelumnya yang mencapai Rp11,72 triliun. 

Penurunan ini memberi gambaran bahwa perseroan berhasil menekan sebagian beban langsung yang berkaitan dengan aktivitas operasional.

Dengan kondisi tersebut, ADHI masih mampu mencatat laba kotor sebesar Rp1,04 triliun pada akhir 2025. Secara operasional, angka ini menunjukkan bahwa perseroan masih memiliki ruang margin dari aktivitas bisnis utamanya. Namun, performa di level laba kotor belum cukup untuk menahan tekanan yang lebih besar pada level laba bersih.

Pada sisi bottom line, emiten BUMN karya ini justru melaporkan rugi bersih sebesar Rp5,40 triliun sepanjang 2025. Angka ini melonjak sangat signifikan dibandingkan posisi rugi bersih tahun 2024 yang tercatat sebesar Rp86,75 miliar. 

Selisih yang sangat lebar ini menandakan bahwa ada tekanan besar di luar sekadar operasional inti, yang berdampak langsung pada hasil akhir perseroan.

Lonjakan rugi bersih tersebut menjadi cerminan bahwa 2025 masih menjadi periode berat bagi ADHI. Meski beban pokok pendapatan turun dan laba kotor masih terbentuk, kondisi keuangan secara keseluruhan tetap tertekan. 

Hal ini sejalan dengan fase restrukturisasi yang tengah dijalani BUMN Karya, di mana pembenahan fundamental kerap menimbulkan dampak besar terhadap laporan keuangan jangka pendek.

Kas Menyusut, Aset Dan Ekuitas Turut Mengalami Penurunan

Dari sisi likuiditas, posisi kas dan setara kas ADHI pada akhir periode 2025 tercatat sebesar Rp1,71 triliun. Nilai tersebut lebih rendah dibandingkan posisi awal tahun 2024 yang sebesar Rp2,24 triliun. Penurunan kas ini menunjukkan adanya tekanan pada ruang likuiditas perseroan di tengah proses penataan bisnis dan keuangan.

Pada sisi neraca, total aset ADHI per Desember 2025 berada di level Rp28,79 triliun. Jumlah ini turun dibandingkan posisi akhir 2024 yang mencapai Rp34,64 triliun. 

Penurunan aset ini memperlihatkan adanya perubahan signifikan pada struktur keuangan perusahaan, sejalan dengan langkah pembenahan yang sedang berlangsung.

Sementara itu, liabilitas perseroan tercatat sebesar Rp25,49 triliun. Di saat yang sama, ekuitas berada pada posisi Rp3,29 triliun. Struktur ini menunjukkan bahwa beban kewajiban ADHI masih sangat besar dibandingkan modal yang tersisa, sehingga ruang perbaikan fundamental menjadi sangat krusial dalam menjaga keberlanjutan bisnis ke depan.

Kondisi neraca ini memperlihatkan bahwa tekanan terhadap ADHI bukan hanya terjadi pada sisi laba rugi, tetapi juga pada kesehatan struktur keuangan secara keseluruhan. 

Penurunan kas, penyusutan aset, serta ekuitas yang relatif tipis menjadi indikator bahwa perseroan masih harus melewati fase penyehatan yang tidak ringan sebelum kembali masuk ke fase pertumbuhan yang lebih stabil.

Restrukturisasi BUMN Karya Masuk Akhir, ADHI Hadapi Fase Konsolidasi

Dalam perkembangan lain, Badan Pengaturan (BP) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memastikan bahwa proses restrukturisasi perusahaan konstruksi pelat merah atau BUMN Karya telah memasuki tahap akhir. 

Langkah ini menjadi konteks penting dalam membaca kinerja ADHI sepanjang 2025, karena proses penyehatan keuangan dan pembenahan fundamental masih berlangsung.

Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menuturkan restrukturisasi akan menjadi langkah awal sebelum BUMN Karya melangkah ke fase konsolidasi tiga core utama, yakni konstruksi di area gedung, infrastruktur, dan engineering procurement and construction (EPC). 

Proses itu dimulai dari perbaikan fundamental, terutama melalui impairment laporan keuangan dan restrukturisasi utang.

“Kami sudah lakukan impairment juga terhadap bolong-bolong bukunya. Kemudian kita restrukturisasi terhadap hutang-hutangnya. Setelah ini mereka masuk ke fase konsolidasi," ujar Dony.

Dony optimistis masa depan BUMN Karya akan semakin cerah setelah melalui tahap perbaikan fundamental dan konsolidasi. “Fase konsolidasi ini yang tadi saya sampaikan, kita lihat kecocokan. Kita hanya akan masuk nanti ke tiga kelompok besar saja di masing-masing. Ada yang di infrastructure, ada yang di building dan gedung, ada yang di EPC,” ujar Dony. 

Sebelumnya, integrasi tujuh BUMN Karya, yakni ADHI, PTPP, WIKA, Hutama Karya, WSKT, Brantas Abipraya, dan Nindya Karya dipastikan mundur hingga 2026, dari target awal selesai pada Desember 2025.

Terkini