JAKARTA - Transformasi digital di sektor perbankan tidak hanya menyentuh layanan kepada nasabah, tetapi juga merambah pada pengembangan sumber daya manusia.
Di tengah perubahan industri keuangan yang semakin cepat, peningkatan kompetensi bankir menjadi kebutuhan mendesak agar mampu mengikuti standar yang terus berkembang.
Inilah yang mendorong lembaga perbankan syariah untuk mengadopsi teknologi sebagai sarana pembelajaran yang lebih fleksibel dan terintegrasi.
PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) atau BSI mendorong optimalisasi digital guna memenuhi standar kompetensi bankir yang telah ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Direktur Utama BRIS Anggoro Eko Cahyo mengatakan Asosiasi Bank Syariah Indonesia atau Asbisindo telah meluncurkan platform e-learning terintegrasi guna memperkuat kompetensi lebih dari 50.000 bankir syariah di Indonesia sebagai upaya menjawab tantangan digitalisasi serta memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan OJK.
Anggoro yang juga ketua umum Asbisindo mengatakan digitalisasi platform ini merupakan upaya asosiasi dalam mendorong penyegaran kompetensi bagi para bankir di tengah kesibukan operasional.
“Pemanfaatan teknologi pembelajaran menjadi sarana penting untuk mengakses ilmu tanpa batas ruang dan waktu. Sifatnya scalable dan selaras dengan kebutuhan industri yang terus berkembang,” ujarnya melalui keterangan resmi, Rabu (8/4/2026).
Platform E-learning Untuk Penguatan Kompetensi
Ketua Asbisindo Institute, Wahyu Avianto, menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan perpanjangan tangan dari cetak biru pengembangan SDM sektor jasa keuangan milik OJK.
Saat ini, terdapat sekitar 71 hingga 91 jenis kompetensi yang harus dipenuhi oleh insan perbankan. Untuk tahap awal, pemanfaatan digitalisasi fokus pada Program Pemeliharaan Sertifikasi Manajemen Risiko (PPSMR) Jenjang 4 hingga 6.
Sementara untuk Jenjang 7 (level direksi), pelatihan tetap dilakukan secara luring atau offline untuk menjaga kedalaman interaksi strategis.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa digitalisasi tidak sepenuhnya menggantikan metode konvensional, melainkan menjadi pelengkap yang memperluas akses pembelajaran tanpa mengurangi kualitas materi yang disampaikan.
Kolaborasi Teknologi Dan Industri Perbankan
Sementara itu, Chairman Vocasia Farid Subkhan mengutip arahan dari Komisaris Utama Bank Syariah Indonesia Muliaman Darmansyah Hadad yang menyebut masih adanya digital gap dalam pengembangan SDM yang selama ini belum terorkestrasi dengan baik.
Dalam upaya digitalisasi ini Asbisindo Institute bersama platform edutech Vocasia menjawab tantangan itu lewat e-learning.
"Kehadiran kami untuk membantu agar insan perbankan syariah terorkestrasi dalam satu platform e-learning," katanya.
Dengan demikian, jelas Farid, Vocasia bertindak sebagai penyedia teknologi yang mengelola platform dan fasilitas produksi konten sementara Asbisindo fokus pada substansi kompetensi dan pemasaran.
Kolaborasi ini menjadi contoh sinergi antara industri keuangan dan sektor teknologi pendidikan dalam menciptakan ekosistem pembelajaran yang lebih efektif dan terstruktur.
Arah Pengembangan Dan Standarisasi Kompetensi
Farid menambahkan, kolaborasi ini telah diinisiasi selama hampir satu tahun untuk menemukan model terbaik. Ke depan, platform ini akan terus dikembangkan untuk mencakup seluruh kamus kompetensi OJK dan mengajak para ahli perbankan syariah untuk bergabung sebagai instruktur digital.
Dia menargetkan para profesional perbankan syariah agar dapat mengakses konten video terkurasi, modul aplikatif, dan diskusi interaktif kapan saja, guna mendorong standarisasi kompetensi dan kesiapan menghadapi dinamika industri keuangan yang semakin kompleks.
Dengan adanya platform ini, proses pembelajaran menjadi lebih fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu. Hal ini sekaligus membantu mempercepat pemerataan kompetensi di seluruh sektor perbankan syariah.
Secara keseluruhan, langkah digitalisasi yang dilakukan BSI bersama Asbisindo menjadi bagian penting dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia di industri keuangan syariah.
Dengan memanfaatkan teknologi, proses peningkatan kompetensi dapat dilakukan secara lebih efisien dan terukur.
Ke depan, keberhasilan inisiatif ini akan sangat bergantung pada partisipasi aktif para bankir serta konsistensi pengembangan platform. Jika berjalan optimal, program ini berpotensi menjadi fondasi kuat dalam menciptakan SDM perbankan syariah yang unggul dan siap menghadapi tantangan global.