JAKARTA - Harga minyak mengalami rebound pada perdagangan Jumat (8/5/2026) pagi, usai mencatatkan penurunan selama tiga hari berturut-turut.
Berdasarkan data Bloomberg, Jumat (8/5/2026) pukul 07.36 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman Juni 2026 di New York Mercantile Exchange bertengger di level US$ 97,10 per barel.
Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 2,42% dibandingkan hari sebelumnya yang berada di posisi US$ 94,81 per barel.
Lonjakan harga minyak terjadi menyusul kembali pecahnya bentrokan antara pasukan AS dan Iran, yang mengancam prospek kesepakatan untuk mengakhiri konflik Iran.
Menurut laporan Bloomberg, komando pasukan AS menyatakan bahwa pihak mereka mencegat pengiriman minyak tanpa provokasi dan melakukan serangan pertahanan diri sebagai balasan saat kapal perusak rudal melintasi Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa ketiga kapal perang tersebut telah berhasil keluar dari jalur perairan tanpa mengalami kerusakan apa pun pasca-serangan.
"Kami akan menghancurkan mereka dengan cara yang jauh lebih keras dan lebih brutal di masa depan, jika mereka tidak segera menandatangani kesepakatan itu!" tulis Trump dalam unggahan di media sosial.
Atensi pasar minyak global masih tertuju pada eskalasi di Selat Hormuz yang tetap ditutup sejak perang pecah pada akhir Februari lalu.
"Reaksi harga yang lebih terkendali menunjukkan bahwa pasar masih menganggap ini dapat dikelola untuk saat ini," ungkap Haris Khurshid, kepala investasi di Karobaar Capital LP di Chicago.
"Pada awal konflik, setiap eskalasi memicu penyesuaian harga yang cukup besar."
Di sisi lain, Kepala Badan Energi Internasional memberikan peringatan bahwa dunia saat ini kehilangan pasokan 14 juta barel minyak per hari akibat perang, dan upaya peningkatan produksi pasca-konflik nantinya hanya akan terjadi secara bertahap.