Harga Emas Melemah Tipis di Tengah Gejolak Timur Tengah

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:03:46 WIB
Ilustrasi Emas Batangan (Sumber gambar: net)

JAKARTA  – Harga logam mulia global sempat menunjukkan penguatan pada sesi perdagangan Kamis (7/5/2026). 

Kondisi ini dipicu oleh sentimen positif pasar terkait potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Namun, tren kenaikan tersebut gagal bertahan sampai penutupan pasar, sehingga harga emas berakhir di zona merah dengan pelemahan tipis.

Melansir laporan Reuters, ekspektasi terhadap redanya ketegangan di Timur Tengah awalnya mampu mengurangi kekhawatiran pelaku pasar atas potensi lonjakan inflasi serta kebijakan suku bunga tinggi yang diprediksi bertahan lebih lama.

Pada akhir perdagangan, emas spot tercatat turun 0,08% menuju posisi US$ 4.687,24 per ons troi. Padahal, saat pasar baru dibuka, harga emas sempat menyentuh angka tertinggi dalam periode dua pekan terakhir. 

Tekanan mulai muncul menjelang penutupan seiring dengan naiknya harga minyak mentah dunia serta kembali meningkatnya risiko geopolitik.

Di sisi lain, kontrak emas berjangka AS justru mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,04% ke angka US$ 4.696 per ons troi.

Senior Market Strategist RJO Futures, Bob Haberkorn, mengungkapkan bahwa saat ini perhatian pasar tetap tertuju pada situasi di Timur Tengah serta proyeksi kebijakan moneter The Fed.

“Jika gencatan senjata bertahan dan perang dapat diakhiri, serta aktivitas perdagangan kembali normal dengan Selat Hormuz tetap terbuka, harga emas berpotensi menembus US$ 5.000 per ons troi,” ujar Haberkorn.

Berdasarkan keterangan sejumlah sumber dan otoritas terkait, AS dan Iran dikabarkan terus berupaya mendekati kesepakatan sementara guna menghentikan pertikaian. 

Walaupun begitu, masih terdapat beberapa poin krusial yang belum mencapai mufakat.

Sentimen pasar kembali terkontraksi menyusul adanya laporan bahwa Iran menolak memberikan izin kepada AS untuk membuka kembali akses Selat Hormuz melalui mekanisme yang dinilai "tidak realistis". Kabar ini pertama kali diangkat oleh Wall Street Journal dengan merujuk pada media resmi Iran, Press TV.

Dampak Kenaikan Harga Minyak

Situasi tersebut memicu harga minyak dunia kembali merangkak naik. Melonjaknya harga energi dianggap berisiko mendorong inflasi, sehingga otoritas bank sentral diprediksi akan mengulur waktu pemangkasan suku bunga demi menjaga stabilitas harga.

Dalam situasi suku bunga yang tetap tinggi, daya tarik emas biasanya menurun karena aset ini tidak memberikan imbal hasil (yield). 

Namun, logam mulia tetap dipercaya sebagai instrumen lindung nilai (safe haven) yang diandalkan di tengah kondisi global yang tidak menentu.

Tim analis dari TD Securities memproyeksikan bahwa emas masih memiliki peluang untuk melanjutkan tren penguatan hingga melewati level US$ 5.200 per ons troi jika konflik mendingin dan tekanan inflasi akibat minyak mulai mereda.

“Perubahan arah kebijakan The Fed menuju fokus pada lapangan kerja, disertai penurunan imbal hasil obligasi dan pelemahan dolar AS, serta kembali meningkatnya permintaan investor dan bank sentral dapat memicu tren bullish emas,” tulis TD Securities dalam hasil risetnya.

Kini, para pelaku pasar tengah menantikan publikasi data tenaga kerja AS pada Jumat (8/5/2026) waktu setempat sebagai indikator arah kebijakan The Fed untuk sisa tahun ini.

Di saat yang sama, laporan terbaru menunjukkan bank sentral China tetap konsisten menambah stok cadangan emas mereka pada April 2026. Langkah ini menandai bulan ke-18 secara beruntun bagi China dalam memperkuat kepemilikan emasnya.

Terkait logam mulia lainnya, harga perak spot terpantau melonjak 1,4% ke posisi US$ 78,43 per ons, yang merupakan level tertinggi sejak pertengahan April. Namun, hasil berbeda terjadi pada platinum yang turun 1,9% ke US$ 2.025,35 per ons, sementara palladium merosot tajam 3,28% ke level US$ 1.485,22 per ons.

Terkini